Pelesir ke Kampung Ayer
March 4th, 2008 by jojokuKoran Tempo
Minggu, 02 Maret 2008
Perjalanan
Pelesir ke Kampung Ayer
Mengintip keindahan Brunei pada Hari Kebangsaan.
Menjelang perayaan kemerdekaan Brunei Darussalam, saya berkunjung ke salah satu negara terkaya di dunia tersebut. Pagi pada pertengahan Februari lalu itu, saya tiba di Bandara Internasional Bandar Seri Begawan. Sebuah pelabuhan udara nan sunyi, dengan baliho besar mengucap selamat datang: "Brunei, The Greenheart of Borneo, Kingdom of Unexpected Treasures". Suasana lengang menyergap di pintu masuk negeri berpenduduk 383 ribu jiwa itu, tapi tak ada sedikit pun rasa waswas di sana.
Setengah jam kemudian, Mahadi, pengemudi mobil jemputan hotel, datang memberi salam. "Tenang saja, di sini hampir tak ada tindak kriminalitas," kata pemuda Melayu yang baru lulus dari sekolah menengah itu.
Melintasi jalan utama menuju kawasan Gadong, tampaklah Masjid Jami di kiri jalan. "Tak lengkap rasanya kalau turis tidak mampir ke situ," katanya menunjuk masjid.
Menurut Mahadi, selain berfoto di depan masjid, "hukum wajib" lain bagi wisatawan adalah singgah ke halaman Istana Nurul Iman, tempat Sultan Hassanal Bolkiah, yang berkuasa sejak berusia 21 tahun, 5 Oktober 1967.
Siang hari saya sempat bertemu dengan Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Brunei, Tjoki Aprianda Siregar. Kami menyantap nasi lemak dan soto Brunei berteman teh tarik sembari menikmati pemandangan Kampung Ayer, salah satu primadona wisata di Bandar Seri Begawan.
Tjoki mengatakan jumlah warga Indonesia di negeri di ujung Pulau Kalimantan dengan luas 5.765 kilometer persegi itu cukup banyak. "Data resminya, 43.747 warga negara Indonesia terdaftar di sini," tuturnya. Kebanyakan dari mereka, kata Tjoki, bekerja di sektor informal, mulai pembantu rumah tangga, pelayan toko dan restoran, awak bus, hingga pekerja bangunan. Namun, khusus di Distrik Belait, sekitar tujuh ratus insinyur Indonesia bekerja di ladang-ladang minyak di sana. "Karena memang mendapat fasilitas perumahan, sebagian besar dari mereka memboyong keluarga," ujar Tjoki.
Dengan jumlah tenaga kerja Indonesia di sana yang mencapai sepersepuluh dari penduduk Brunei, di banyak tempat mudah dijumpai arek-arek Jawa Timur atau akang-akang dari Sunda. Tempat penukaran uang bersaing menawarkan nilai tukar rupiah termurah, sedangkan di sebuah pusat belanja, lantunan lagu dari keping cakram Mel Shandy dan Peterpan seperti berlomba menembus pasar internasional.
Pada minggu-minggu itu, Brunei tengah sibuk bersolek dalam kegembiraan Hari Kebangsaan, yang jatuh pada 23 Februari, merujuk pada tanggal lepasnya negara itu dari status protektorat Inggris, 24 tahun lalu. Tak tanggung-tanggung, Sultan memerintahkan warga memasang bendera kebangsaan selama lebih dari tiga pekan, ditambah acara semarak lain dari aneka spanduk dan papan ucapan di berbagai bangunan. Tahun ini, secara khusus, peringatan Hari Kebangsaan Brunei mengambil tema "Tunas Bangsa", yang artinya harapan baru bagi tampilnya anak muda sebagai tulang punggung Brunei di masa depan.
Potret wajah Sultan Hassanal Bolkiah dalam pakaian kemiliteran bertebaran di jalan-jalan sebagai wujud kemeriahan Hari Kebangsaan. Ini memang satu dari tiga hari istimewa dalam Kesultanan Brunei, selain hari lahir Sultan setiap 15 Juli, yang diperingati sebagai Hari Keputeraan, dan Hari Naik Takhta pada 5 Oktober.
Hassanal Bolkiah dikenal sebagai pemimpin kaya raya yang rendah hati. Setiap Jumat, yang merupakan hari libur kerja di Brunei, Bolkiah berkeliling dari satu masjid ke masjid lain, menunaikan salat sekaligus menemui warga yang rindu berjabat tangan dengannya.
"Sultan Bolkiah tak suka aturan protokoler. Saat salat Jumat pun beliau mengemudikan sendiri mobilnya," kata Tjoki mengenang peristiwa emasnya bersalaman dengan Sultan saat baru dua pekan bertugas di Brunei.
Tak banyak orang tahu, salah satu sultan terkaya di dunia itu memiliki lisensi sebagai penerbang profesional. "Dalam banyak kesempatan, beliau sendiri yang membawa pesawat atau helikopter menuju tempat tugas," tutur Tjoki. Bahkan, menurut cerita Tjoki, ketika Distrik Temburong dilanda banjir besar pekan lalu, Sultan menyetir sendiri policeboat untuk menengok warganya ke distrik yang berjarak sejam perjalanan laut dari Bandar Seri Begawan itu.
Tak lebih 30 jam mampir di Brunei, berbagai kenangan indah terlukis. Tak lupa saya menyempatkan pelesir ke Kampung Ayer. Seorang rekan dari Australia pernah berpesan, "Jangan ke Brunei kalau tidak ke Kampung Ayer."
Karena itu, kesempatan berkunjung ke negeri minyak tersebut saya manfaatkan untuk menikmati Kampung Ayer.
Untuk menuju kawasan wisata andalan Brunei itu, perjalanan ditempuh dengan perahu motor dari tepi Sungai Brunei, yang bermuara di Laut Cina Selatan.
Saya pun sempat terlibat alotnya tawar-menawar harga dengan Haji Supri, seorang penjaja jasa perahu motor. Akhirnya kami menyepakati harga sepuluh ringgit untuk ongkos berpusing-pusing selama 30 menit mengitari Kampung Ayer.
Ia memekik dari atas perahu mesin yang mengapung di air, sedangkan saya membalas teriakannya dari sebuah dermaga di Bandar, tak jauh dari monumen peringatan 60 tahun usia Sultan Hassanal Bolkiah.
"Assalamualaikum," kata Supri sembari mengulurkan tangannya saat saya berjingkat turun ke perahu motor senilai 2.000 dolar Brunei miliknya. Sejurus kemudian kami sudah membelah gelombang hingga menyusup di bawah kayu rumah panggung yang berjejeran di Kampung Ayer, permukiman di atas air yang dihuni lebih dari 30 ribu jiwa. Pria 39 tahun dengan tujuh anak yang sehari-hari berprofesi sebagai petugas pemadam kebakaran itu terus bercakap menunjuk kampungnya, sekolah, proyek saluran air, hingga halaman belakang Istana Nurul Iman yang tertutup hutan bakau. "Brunei aman, Pak. Tak ada gaduh di sini," kata Supri membanggakan negerinya.
Kampung Ayer memang ikon istimewa bagi Bandar Seri Begawan. Kultur hidup di atas sungai itu sekilas membuat mereka tak beda laksana warga Kalimantan lain yang bermukim di atas Sungai Mahakam, Kapuas, dan Barito. Tapi, jangan salah, penduduk Kampung Ayer tak bisa dipandang rendah secara ekonomi. "Rata-rata mereka punya kereta (mobil), tak jarang di antaranya jenis sport Lamborghini. Mobil-mobil itu diparkir di darat, di sekitar pemakaman yang memang dikhususkan bagi warga Kampung Ayer," kata Bambang Tuharno, lelaki asal Madiun yang kini menjadi anggota staf bagian penerangan di KBRI Brunei.
Puas berkeliling di Sungai Brunei, Supri menurunkan saya tepat di depan Pusat Latihan Kesenian dan Pertukangan Tangan Brunei (PLKPTB), semacam galeri seni kerajinan, di Jalan Residency, Bandar Seri Begawan. Selain menawarkan aneka karya seni, PLKPTB membuka lima jenis kursus, yakni tenunan, pertukangan perak, seni ukir dan keris, pertukangan tembaga, serta anyaman dan songkok.
Gedung itu terdiri atas beberapa bagian, termasuk Dewan Pameran dan Jualan yang ada di lantai dasar dan lantai satu. Barang seni yang ditawarkan aneka rupa, mulai kartu pos seharga 40 sen dolar Brunei, asbak seharga 184 dolar Brunei (sekitar Rp 1,2 juta), mainan perak congkak lubang (di Jawa kita menyebutnya dakon) 345 dolar Brunei (Rp 2,24 juta), hingga hiasan perak berbentuk gong senilai 2.070 dolar Brunei (sekitar Rp 13,46 juta)!
Jojo Raharjo, Wartawan, Penikmat Wisata
koran