Rumah Baru Napi Cipinang
Monday, November 21st, 2005 Sapri, 40 tahun, termangu menyaksikan bakal “rumah” barunya.
Sejenak ia tertegun menjelang memasuki gedung tiga lantai seluas 3
hektar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang itu. “Kayaknya di
sini lebih bersih,” kata Sapri, tahanan kasus penipuan asal Depok itu.
Tangannya menjinjing tas kresek bantuan berisi sabun mandi, pasta gigi
dan seperangkat pakaian termasuk sarung baru.
Bersama 391 narapidana lainnya, Minggu (20/11) siang kemarin Sapri
pindahan ke bangunan baru Lapas Cipinang. Gedung bercat hijau di sisi
timur bangunan utama itu awalnya merupakan rumah sakit Lapas. “Kami
membangun blok baru yang lebih nyaman dan manusiawi,” kata Kepala Lapas
Cipinang Dedy Sutardi.
Berkeliling bangunan baru yang mampu menampung lebih dari seribu napi
itu, Dedy menunjukkan “fasilitas” yang ada di sana. Sebuah televisi 21
inchi di lantai dasar tepat di tengah ruangan lantai dasar. Naik ke
lantai atas, tangga dan lorong penjara baru itu mengesankan suasana
penjara di negara-negara maju dengan ruangan sel demi sel berjajar
rapi.
“Setiap selnya kami desain untuk menampung maksimal 7 orang,” katanya.
Masing-masing sel dilengkapi karpet plastik sebagai alas tidur. Setiap
lantai gedung itu terdiri dari 56 sel berukuran 5 x 10 meter, termasuk
kakus dengan bak air kecil di masing-masing sel. “Kalau begini kan
nggak perlu nimba air lagi,” kata Dedy sembari memutar kran air di bak
kakus salah satu sel.
Kalau para napi tak puas mandi di kakus kecil itu, mereka bisa masuk ke
kamar mandi bersama yang luasnya dua kali luas sel. Di kamar mandi umum
itu terpasang 12 shower yang dipasang di langit-langit ruangan.
“Kendali shower dipegang oleh komandan jaga,” kata Dedy. Begitu saklar
di sudut ruangan ditekan, semprotan air ledeng pun mengucur deras dari
atas. “Kami sengaja menaruh kran shower sangat tinggi, agar tak rusak
diganggu tangan-tangan jahil,” sambungnya.
Dedy memaparkan, saat ini Lapas yang dipimpinnya benar-benar
memprihatinkan. “Isinya 200 persen melebihi daya tampung,” kata Dedy.
Kalau normalnya kapasitas Lapas Cipinang menampung 1400 narapidana,
kemarin tercatat Lapas itu dihuni 3619 orang, dengan rincian 1129 napi,
1713 tahanan, 777 narkoba.
Dengan rasio penghuni dan jumlah kamar yang tak seimbang, tak heran,
orang-orang hukuman itu gampang terserang penyakit kulit. “Satu sel
seukuran 7×12 meter diisi 40-50 orang,” kata Hendro, napi kasus
narkoba, saat memeriksakan dirinya dalam acara Pengobatan Gratis
Penyakit Kulit (Scabies Dermatitis) Lapas Cipinang yang diadakan
Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). “Setiap lepas Maghrib, sekujur
badan saya gatal-gatal,” katanya. Ujung kaki hingga lengannya penuh
dengan koreng, menandakan penyakit yang tak pernah tersentuh perawatan
dengan benar.
Belasan dokter itu melayani satu per satu pasien. “Ruangan sempit yang
kurang ventilasi menyebabkan mereka rentan terke penyakit kulit.
Apalagi tidurnya berdesakan, dengan sabun dan handuk dipakai
ramai-ramai, penularan menjadi kian mudah terjadi,” kata Dr. Lie
Dharmawan, kepala tim medis aksi sosial INTI.
Keluar dari ruang pengobatan dengan mendapat pil dan salep seperlunya,
para napi itu beranjak menuju sel baru mereka. “Priorotas memang kami
berikan untuk 392 napi yang terkena penyakit kulit ini. Mereka harus
dijauhkan dari rekan-rekannya yang tinggal berhimpitan di bangunan
lama. Selain itu, baju-baju yang lama harus dibakar,” kata Dedy.
Dedy menyatakan, fasilitas yang diberikan negara tak seimbang dengan
kebutuhan Lapas. “Setiap hari napi yang dibebaskan sekitar 10 orang,
tapi yang masuk dari kejaksaan mencapai 80 orang,” kata Dedy. Pada 16
Agustus lalu, “tingkat hunian” Lapas Cipinang mencapai puncaknya.
“Sebelum remisi diberikan pada upacara peringatan Hari Kemerdekaan, LP
Cipinang dihuni 4.300 orang,” kata Dedy.
Kalapas Cipinang menyatakan, dana yang dimilikinya sangat minim. Untuk
makan, setiap napi dijatah Rp 5.300 per orang per hari. “Karena
banyaknya napi, anggaran logistik tahun ini sudah habis sampai
September lalu,” katanya. Lalu, bagaimana sisanya? “Kami ngutang pada
pihak ketiga,” kata Dedy.
Karena minimnya dana, setiap napi hanya mendapat nasi cadongan dengan
lauk tahu, tempe, dan ikan asin. “Kalau mau makan daging atau ayam,
kami harus menyetor Rp 5 ribu ke kepala kamar setiap kali makan,” kisah
Natal, narapidana kasus perampokan.
Sementara itu, anggaran kesehatan napi dari negara hanya Rp 18 juta per
tahun. “Kalau dibagi dengan jumlah penerima, itu berarti Rp 14,- per
orang per hari,” katanya. Di rumah sakit sederhananya, Lapas kelas I di
Jakarta Timur itu hanya memiliki 6 dokter bertugas melayani ribuan
napi. “Pengobatan massal dari pihak luar semacam ini merupakan jawaban
atas banyaknya permasalahan penyakit kulit di sini,” kata Dedy.
"Sentuhan kemanusiaan semacam ini perlu diberikan kepada para nabi yang
merasa tak lagi dipedulikan sesama. Kami akan usahakan aksi ini
berlanjut," kata Michael Utomo, salah seorang pengusaha yang terlibat
dalam aksi pengobatan penyakit kulit bagi narapidana.
Di tengah seremonial pembukaan pengobatan gratis, mantan Menteri
Perindustrian dan Perdagangan Rahardi Ramelan sibuk mengabadikan
peristiwa dengan Nikon 70 miliknya. Selama menjalani hukuman di LP
Cipinang, guru besar ITS itu mengaku masih bisa menuangkan pikirannya
dalam bentuk tulisan yang dikirim kepada berbagai media massa. “Tiga
bulan di sini, sudah 4 opini saya dimuat di koran. Mereka bisa
memenjara badan saya, tapi tidak dengan otak saya,” kata Rahardi yang
tengah bersiap meluncurkan buku kesaksian perkaranya itu.
Selain Rahardi, beberapa napi kelas kakap membantu jalannya pengobatan
gratis bagi rekan-rekannya. Di antara mereka terdapat Adrian Waworuntu,
Tengku Ismuhadi, Oki Harnoko Dewantono, dan Paul Sutopo. Tentu saja,
para terhukum kelas kakap ini tak lantas ikut pindah ke bangunan baru
di Cipinang.
Jojo Raharjo