Jangan Politisasi Bencana …

Jangan Politisasi Bencana Atas Nama Agama

Menyedihkan. Dalam suasana duka, masih ada saja yang mencoba memancing di air keruh. Masih tentang imbas bencana gempa bumi dengan lebih dari 5 ribu orang di Jogja yang terjadi Sabtu (27/5) lalu. Sebuah kritikan pedas layak dialamatkan kepada mereka yang mencoba memanfaatkan ekses bencana demi kepentingan kelompok sendiri.

Kali ini, saya tak hendak menyoroti tentang beraksinya sekelompok mafia pencuri kendaraan bermotor yang menyatroni kawasan bencana Bantul pada hari pertama gempa. Dengan menggunakan truk, mereka meneriakkan, “Gempa, gempa…” sehingga mengundang kepanikan warga korban bencana yang tersisa di tempat gempa. Alhasil, para penjarah itu “sukses” mengangkut sedikitnya sembilan motor dari lokasi bencana.

Bukan, bukan itu yang hendak kita bahas bersama. Bukan pula soal maraknya stasiun televisi, media massa, organisasi massa, dan partai politik membawa benderanya sebagai “pahlawan pengumpul dan pembagi sumbangan”. Kawasan bencana Jogja seperti menjadi ladang kampanye yang subur bagi para politisi maupun organisasi yang hendak menginvestasikan namanya demi kepentingan politik.

Lebih dari “pencurian motor” dan “kampanye di air keruh” itu, secara khusus kritikan juga pantas disampaikan kepada kelompok agama yang mencoba mencari pembenaran bahwa dirinyalah yang paling benar. Ironisnya, pembuktian itu dilakukan memanfaatkan sebuah bencana alam berskala besar.

Beberapa hari terakhir, beredar pesan pendek telepon genggam (sms) berbunyi lebih kurang sebagai berikut, “Tak percayakah Anda pada kuasa Yesus… Gempa dan tsunami Aceh terjadi sehari setelah Natal, Gempa Nias sehari setelah Paskah… dan Gempa Jogja sehari setelah Kenaikan Kristus… Sebarkan sms ini kepada 10 orang lain…”

Walah, mengapa urusan bencana menjadi ajang supremasi agama dan keimanan mana yang paling benar?

Benarlah bahwa menjelang eksekusi kematiannya – antara lain tertulis pada Matius 24 – Gusti Yesus menuturkan bahwa menjelang kedatanganNya kembali bakal terjadi bencana alam dan huru-hara, dalam skala besar, termasuk kelaparan, perang, dan jelas-jelas disebutkan adanya gempa bumi di mana-mana….

Nah, soalnya, apakah dengan benar-benar terjadinya bencana itu, kemudian kita menari-nari dan menyatakan kepada dunia bahwa Ia menunjukkan kuasaNya… sementara ribuan orang lain tak bisa makan sekali sehari dan tidur dengan nyaman saat Anda membaca tulisan ini di depan jaringan internet…

Mengulang Kasus Aceh

Kisah sms berantai tentang bencana yang tepat sehari setelah peringatan peristiwa keimanan bersejarah itu (padahal yang benar gempa Jogja terjadi dua hari setelah peringatan Kenaikan Tuhan Yesus), mengingatkan kita pada kisah serupa akhir 2004 lalu.

Di tengah duka akibat melayangnya 200 ribu karena amuk gelombang pasang di Pantai Barat Aceh, beredar kisah, bahwa tsunami terjadi akibat sekelompok orang Kristen tak boleh merayakan Natal. Mereka diusir dari sebuah desa di Meulaboh, lalu malam itu naik ke bukit, dan esoknya gempa dan tsunami terjadi meluluhlantakkan Aceh…

Alamak, tega nian isu itu terus kita sebarkan. Dari sms berkembang hingga dimuat di warta gereja dan media-media lain. Bukan hanya tanpa verifikasi, tapi kabar itu jelas-jelas menyulut kebencian antar umat beragama.

Jadi pertanyaannya… apakah Allah yang menyelamatkan kita itu berbeda dengan Allah para korban tsunami dan gempa. Apakah Ia memang telah membiarkan anak-anakNya yang satu menderita dan yang lainnya sibuk berkirim pesan pendek untuk menyatakan keagunganNya…

Bagaimanapun, Injil memang harus dan pasti digenapi. Tapi, alangkah eloknya jika kita kemudian tidak menjadikan peristiwa penggenapan Injil itu sebagai olok-olok bagi sesama. Alih-alih mengirim pesan pendek dan memuat kisah yang semakin memprovokasi perpecahan antar umat beragama, maka lebih baik kita mencoba memberi bantuan dan meringankan penderitaan korban bencana alam. Tanpa perlu mempublikasikannya besar-besar…

Salam…

Agustinus Eko Rahardjo

3 Responses to “Jangan Politisasi Bencana …”

  1. Wike Says:

    Jo, aku setuju banget sama kamu. Seharusnya kita memang melihat kejadian ini lebih ‘indah’ sekedar pengingat aja, hidup bukan milik kita.
    Kita terkadang tertawa mengejek dalam hati bila teman kita di marahin atasan. Bersyukur bukan kita yang terkena musibah.
    Aku juga punya mimpi yang sama denganmu Jo, suatu saat dunia bisa lebih damai.

  2. Nuy Says:

    Well, sbg muslimah aku jg setuju (tdk lbh setuju lho jo…)Bahwa bencana yg tjd terus menerus ini adl krn Tuhan (Allah) sdg marah.kemarahan itu bkn u 1 or 2 umat az tp u seluruh umat di dunia!Dmn 1 umat msh slg mcemooh, mengejek, menyatakan benar,dr umat lainnya,mk dunia ini takkan bs tenang aplg damai. selama itu pula Allah akan marah (bhkn bs lbh dahsyat dr sblmnya, waspada akhir th).hakekat dciptakannya makhluk yg hdp tmsk manusia ini khan sbnrnya u mengabdi. bkn mengabdi pd harta, jabatan, atau apa dan siapa. tp pada-Nya Yg Maha Segala. Bentuknya? Menolong sesama. tulus, dr hati, selalu mdahulukan kepentingan masy bnyk&kemaslahatan bsama (kta kyai2 NU). nah, ini yg kita belum pny. Dia khan selalu Maha Pengertian dan Mencintai, jd knp kita ta mcontoh-Nya???(apapun sebutan kita u Nya) Akankah dunia ini bs damai???

  3. Jennie Says:

    Extremely interesting. Indonesia needs a Renaissance to enlighten herself. The journey to a more mature perspective of God, life and godliness, however, lies in the hands of the people.

Leave a Reply