Archive for December, 2006

Mengambil Value dari Si Bule

Thursday, December 28th, 2006

Hari kedua di Sunshine Coast…

Dalam perjalanan kembali dari kantor CVC di Killick Street, Kunda Park, Queensland, saya mencoba menggali ilmu dari Joe Handoko, senior broadcaster yang bergabung dengan CVC sejak 2002. Sudah lebih dari 13 tahun Joe tinggal di Aussie, sejak kali pertama datang untuk belajar ilmu marketingI di Perth usai lulus SMA di  Pontianak pada 1993 lalu.

Sambil memegang kemudi mobil sedan Honda Odysseynya, Joe berpandangan, örang  Australia punya kelebihan dengan sifatnya yang terang-terangan. “Apa yang diucapkan, ya itulah yang ada di hatinya. Bukan seperti kebanyakan orang timur yang kebanyakan masih suka sungkan-sungkan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya yang menjadi maksudnya.”

Selain punya kelebihan, ada satu sifat orang  Australia yang berpotensi menjadi kelemahan. Mereka rata-rata dikenal kurang care terhadap keluarganya, utamanya pada orangtua. Tak heran masih kerap ditemukan orang tua seumuran 60 – 70 tahun menyetir mobil atau bekerja keras sendirian. Kalau benar-benar dianggap ringkih, mereka akan dimasukkan sang anak ke Panti Jompo.

Sikap “menelantarkan” orang tua itu ternyata bukannya tanpa ada alasan. Di Oz, orang tua cenderung mendepak anaknya untuk menjadi mandiri maksimal pada usia 18 tahun. Bagaimanapun caranya, bila si anak sudah memasuki umur 18 tahun, sebisa mungkin ia harus angkat kaki dari rumah. Wah kejam, sekaligus mendidik. Jadi, jangan bayangkan seorang anak akan terus berada dalam zona kenyamanan seumur hidupnya. Beda dengan sebuah negara, yang sampai menikahpun tetap “menghalalkan” berkumpulnya orang tua dan keluarga baru sang anak itu. Mangan ora mangan sing penting kumpul. Di negara mana itu? Hmmmmm…..

Mereka juga penuh disiplin dan memiliki tingkat kesadaran tinggi. Bayangkan, sebuah mobil tiba-tiba berhenti dengan jarak sekitar 2 meter dari bibir zebra cross, begitu mengetahui beberapa orang akan menyeberang jalan di depannya. Benar-benar kehormatan tinggi bagi pejalan kaki!

Hari Pertama di Pantai Mentari

Wednesday, December 27th, 2006

Sama sekali tak terpikir dalam rencana jangka pendek saya, tahun ini bisa kembali meninggalkan Nusantara. Resolusi saya saat perayaan lepas 2005 menuju 2006 di Puncak –bersama Celi, calon isteri yang kemudian resmi menjadi isteri per 19 Agustus lalu- adalah pergulatan soal pekerjaan. Doa untuk menemukan tempat kerja yang baru rasanya lebih dominan dibanding pikiran menyukseskan pesta kawinan delapan bulan di depan mata.

Singkatnya, 27 Desember petang, saya ada di Queensland, Australia, benua lain pertama yang menjadi lawatan seorang lelaki kecil ini. Rangkaian awal dalam misi mengunjungi, dan ngangsu kawruh di Sunshine Coast, headquarter Radio CVC, ladang berkarya baru sejak November lalu.

Brisbane International Airport, 19.10, Singapore Airlines dengan flight number SQ 245 mendarat mulus di tengah licinnya lintasan akibat hujan deras yang baru saja mengguyur negara bagian Queensland. Alamak… first experiences menumpang SQ menghadirkan memori manis. Bayangkan, saja, pesawat Boeing 777-300 ER ini tiba 25 menit lebih awal dari schedule yang dibuatnya sendiri! Burung besi itu meninggalkan Bandara Changi pada 08.55 Waktu Singapura dan sebenarnya baru direncanakan tiba di Brisbane pada 19.35 Waktu Queensland, yang konversinya tiga jam lebih cepat dari Waktu Indonesia Barat (+10 GMT). Asal tahu saja, dalam inflight magazine nya, SQ menjadwalkan penerbangan Singapura – Brisbane sejauh 3,8 mil itu dengan waktu tempuh antara 7 jam 40 menit sampai 7 jam 45 menit.

“Wah, pilotnya pasti ngebut, ya,”kata Joe Handoko, senior broadcaster di CVC yang menjemput di bandara nan rapi itu. Ia membandingkan, pengalaman beberapa pekan sebelumnya, kala menjemput kerabat isterinya yang datang dari Indonesia dengan Garuda. Beda dengan SQ, yang jalur ke Brisbane via Singapura, Garuda mengambil rute Jakarta-Denpasar-Sydney-Brisbane. “Wah, sudah di Bali molor, di Sydney juga ngaret,”kisahnya.

So, jangan pikirkan kesan serupa terjadi SQ, yang konon mendapat predikat salah satu perusahaan penerbangan terbaik di jagad raya ini. selain memiliki On Time Performance tinggi, berada di kabin SQ membuat Anda tak akan jengah. Pramugarinya keren-keren. Karena itu, seorang sahabat saya membagi plesetan SQ sebagai “Sexual Quality”… Hehe… no gender offensed, please…

Satu kisah tentang SQ juga pernah saya dengar dari Tony Waworuntu, mantan Executive Secretary for Justice, International Affairs, Development and Service, Christian Conference of Asia (CCA). Dalam konferensi CCA di Chiang Mai tahun lalu, Tony memaparkan agar para pemandu sidang konferensi meniru keramahan para steward dan stewardess SQ. Tahu apa resepnya? ”Sebelum menjalani praktek kerja di udara, berhadapan dengan beraneka ragam karakter para penumpang, pramugara dan pramugari itu terlebih dahulu mendapat pelatihan selama enam bulan di sekolah keterbelakangan mental anak. Akibatnya, mereka akan memiliki ketahanan pskilogis menghadapi aneka ulah para penumpang yang memiliki banyak kemauan….”

Itulah SQ. Sekarang, mari berbicara perjalanan selanjutnya. Toyota Tarago yang dikemudikan Joe melaju meninggalkan kawasan Brisbane International Airport. Impresi pertama terjadi saat melihat pemakai jasa parkir mobil membayar sendiri tiket parkirnya dengan menuju sebuah tiang pembayaran parkir. Wah, kalau yang beginian dilakukan di Indonesia, pasti ribuan pegawai Security Parking atau Sunparking di Jakarta bakal kehilangan pekerjaan…

Menempuh perjalanan nyaris 100 kilometer dari Brisbane menuju Sunshine Coast terasa beda dengan perjalanan tol di Indonesia. Jalan bebas hambatan ke arah utara ini gratis, tapi gelap. Tak ada penerangan di pinggir jalan yang penuh dengan pepohonan rimbun. Kami sempat berhenti di sebuah komplek lokasi fastfood. Ada McD dan KFC membuka gerai bersama di situ. Kami hanya memesan mocca hangat dalam dua gelas kertas berukuran besar, untuk diminum dalam mobil sembari menuntaskan perjalanan. Tapi, seperti tips banyak orang kalau ke luar negeri, jangan biasa membandingkan harga dengan kurs rupiah. Dua gelas kopi itu dibayar Joe lebih dari 7 dollar Australia, ya lebih dari 50 ribu peraklah. Di dekat food court itu juga ada Stasiun Pompa Bensin. Harga unleaded gas (ya mirip-mirip bensin di Indonesia…) selalu berubah-ubah. Hari itu, display menunjukkan harga 1,19 Dollar Australia., ya sekitar Rp 8.500 per literlah…

“Penduduk Queensland terkenal agak lebih kasar daripada penduduk negara bagian lain. Banyak teman saya di negara bagian lain mengaku diperlakukan berbeda di supermarket hanya karena mereka tampak sebagai orang Asia. Beruntung, saya tak mengalami itu,” kata Joe, bapak dua anak yang kini berusia 31 tahun asal Pontianak itu. Pria peranakan Tionghoa itu sudah memiliki status Permanent Resident Australia usai menamatkan pendidikan tinggi bidang pemasaran di Perth.

Sejam lebih perjalanan menyusuri jalan tol juga melewati Australia Zoo di kawasan Beerwah. Kebun Binatang itu milik Steve Irwin, pemburu buaya yang meninggal dunia dalam usia 44 tahun lalu akibat tersengat ikan pari pada awal September lalu.

Maka, tibalah kemudian kami di Maroochydore, salah satu distrik di Sunshine Coast. Hamparan Lautan Pasifik terbentang di wilayah yang kali pertama ditatap James Cook dari dek kapal HM Bark Endeavour pada 1770 itu. Dari regio berpenduduk sekitar 300 ribu orang inilah, petualangan baru saya selanjutnya akan dimulai…