Archive for January, 2007

I believe I can fly

Thursday, January 18th, 2007

Confident

‘You have to be confident. That’s the way of success, in everything…”

The words from Mike Edmiston, boss of CVC Asia Pacific Broadcast Corporation at Australia, while we’re at the same car. So, humble. He is a boss, but he drove his luxury car, and deliver me to home, i mean to this M1 Apartment in downtown of Maroochydoore area.

Yap, being confident, easy to say, easy to write, but no easy to do.You can being confident to speak your English in front of many kids at Jakarta, which they won’t know which is your grammar, your vocabulary, or your pronounciation is right or wrong. But, what can you do, if you have to speak your English in the community of people who use English as a mother language. Shit… even to talk to the kids I can being so underconfident.

But… let’s do it.. no choice… The Jakarta people say, ‘”E Ge Pe… I don’t care…” How can we will communicate to others if at the first thing, we always feel uncomfort… underconfident… So, that’s just an example. Let’s being a confident people. In anything you can do.

But, Jo, what if then people say, ‘’Oh, you do too many bluffing…’’Well. which is the better, being confident, and people said you do a bluffing, or be underconfident, and you will sank into the deepest see, cause you didn’t anything.

Once again, if you want to do something, don’t be hesitate, don’t be underconfident, but let’s the world open its eye to you… because you can assure them, you can beat the world if you start anything with your confidence.

Hey, let’s sing this my favourite song with me…

" I used to think that I could not go on

and life was nothing but an awful song

But now I know the meaning of true Love I’m leaning on the Everlasting Arms.

If I can see it then I can do it If I just believe it there’s nothing to it I believe I can fly I believe I can touch the sky

I think about it every night and day Spread my wings and fly away

I believe I can soar I see me runnin’ through that open door

I believe I can fly I believe I can fly I believe I can fly

See, I was on the verge of breaking down

Sometimes silence can seem so loud

There are miracles in life I must achieve

But first I know it starts inside of me Oh, if I can see it (whoo!)

then I can be it If I just believe it there’s nothin’ to it

I believe I can fly

I believe I can touch the sky

I think about it every night and day Spread my wings and fly away

I believe I can soar I

see me runnin’ through that open door

I believe I can fly I believe I can fly….whoo!

Oh, I believe I can fly Hey, ‘cuz I believe in You

Ohhhhhh If I can see it then I can do it If I just believe it there’s nothin’ to it.

I believe I can fly….whoo! I believe I can touch the sky

I think about it every night and day

Spread my wings and fly away

I believe I can soar See me runnin’ through that open door

I believe I can fly (I can fly!) I believe I can fly (I can fly!)

I believe I can fly If I just spread my wings (I can fly!)

I can fly (I can fly!) I can fly (I can fly!) I can fly (I can fly!)

Hey, if I just spread my wings I can fly …..(I can fly!)

whoo!! (I can fly!)

fly………… "’

Kehilangan untuk Sementara

Saturday, January 13th, 2007

“Kita tidak pernah merasa bersyukur memiliki sesuatu, sampai kita kehilangannya…"

Pernah mendengar ungkapan itu? Kalau belum, tunggulah, sampai suatu saat Anda akan mengalaminya.

Saya tidak pernah merasa memiliki Mama yang begitu berharga dalam hidup, sampai beliau dipanggil Tuhan pada pagi hari menjelang pesta pernikahan saya di Surabaya.

Saya tidak pernah merasa memiliki isteri yang manis, penuh perhatian, dan amat membawa keberuntungan bernama Celi, sampai kini kami mesti terpisah enam minggu, antara Jakarta dan Australia..

Saya tidak pernah merasa memiliki handphone Nokia berisi ribuan nomer penting dan sms penuh makna, sampai kemarin kehilangan sehari, dan esoknya ketemu lagi…

Dear, brothers and sisters, syukurilah semua apa yang ada padamu, sebelum hal itu diambil dari genggaman Anda, baik untuk sementara, atau mungkin untuk selamanya…
















Melewati Masa Kesukaran

Sunday, January 7th, 2007

Mengunjungi Gereja Bethany Brisbane

Melewati Tujuh Tahun Masa Kesesakan

Bagi yang kali pertama berkunjung ke Brisbane, ibukota negara bagian Queensland, tak terlalu sulit menemukan Gereja Bethany Brisbane. Petunjuknya, cari saja dulu Griffith University, sebuah universitas negeri terkemuka di kota berpenduduk 1,8 juta jiwa itu. Berada di kawasan Nathan Campus di West Creek Road, kita tinggal lurus menuju ke arah gedung cinema kampus. Di lokasi cinema berkapasitas 200-an orang itulah, ibadah raya Gereja Bethany Brisbane digelar setiap minggunya. Nornalnya, ibadah berlangsung dua kali, jam sembilan pagi untuk ibadah bahasa Inggris dan jam sebelas siang untuk ibadah bahasa Indonesia. Namun, karena Desember – Januari merupakan musim liburan, maka ibadah raya digabung menjadi sekali pada pukul sepuluh pagi.

“… All that I am, all that I have

I lay them down before you O Lord

All my regrets, all my acclaim

the joy and the pain, I’m making them yours…”

Lagu pembuka dihantarkan pemimpin pujian Bonar Wicaksono, mahasiswa jurusan periklanan University of Queensland berusia 24 tahun. Sekitar 40-an anggota jemaat yang hadir mengikuti ibadah dengan bersemangat memuji dan menyembah Tuhan. Beberapa dari mereka tampak bukan berwajah Indo, melainkan dari negara-negara kawasan Asia lainnya.

Di antara praise and woship, dua orang menyampaikan kesaksiannya. Yulia, seorang perempuan 23 tahun mengisahkan perjuangannya mencari kerja seusai menamatkan kuliah di Queensland. Akhirnya, setelah mengirim berbagai lamaran, akhirnya ia diterima di sebuah perusahaan terkenal di Brisbane. Seorang lagi, Niko, 21 tahun, menyampaikan rasa syukurnya dapat kembali melanjutkan sekolah di Australia. Remaja asal Jakarta Barat ini semula merasa tak bakal dapat kembali ke Australia dari masa liburannya di Jakarta, karena tahun lalu tekanan kurs Dolar Australia terhadap mata uang rupiah begitu tajam. “Papa saya menyatakan tak sanggup mengirim saya balik, begitu melihat rupiah terus melemah.” Sampai suatu saat melihat pergerakan nilai tukar di televisi di Indonesia, Niko menyampaikan pada ayahnya sambol menunjuk layer televisi itu, ‘Kalau memang Tuhan menghendaki, Dolar Australia itu akan turun sendiri.” Doanya terkabul, nilai tukar rupiah yang semula sampai mencapai 8 ribu per satu Dolar Australia, menguat mencapai Rp 6.500,- per satu dollarnya. Niko pun kembali ke Australia melanjutkan studinya.

Firman Tuhan disampaikan Gembala Sidang Gereja Bethany Brisbane, Pastor Hanny Yasaputra. Ia menekankan makna tema yang dicanangkannya memasuki 2007, “The Year of Revayah, When God Brings You to The Place of Abundance”, diambil dari Mazmur 66:12.

Menurut Hanny, tema ini berarti Tuhan akan menjadikan 2007 sebagai tahun yang berkelimpahan. “Sesuai janjinya dalam Mazmur itu, kita akan dibawaNya menuju tempat kepenuhan, di mana segala sesuatu tersedia,” katanya. Hanny menyatakan, tema 2007 ini merupakan kelanjutan tema 2006, “Reigns with God, Memerintah Bersama Tuhan.”

Dalam percakapan khusus sebelum ibadah, sejenak Hanny berefleksi, betapa pekerjaan Tuhan bagi gerejaNya sangat luar biasa.Pada 28 September 1999, Tuhan membawanya meninggalkan Gereja Bethany Perth, yang telah digembalakan selama 4 tahun dengan 300 anggota jemaat. “Tuhan membawa saya ke Brisbane, memuali pelayanan dengan 12 orang,” kata pria asal Dukuh Kupang, Surabaya yang juga ipar dari Pendeta Timotius Arifin ini.

Melewati masa-masa kesukaran hingga berpindah-pindah lokasi ibadah, kini Gereja Bethany Brisbane berkembang dengan 130 warga. Sampai tahun lalu, datanglah sebuah kejutan, kala sebuah perusahaan properti mengajaknya melihat sebuah lokasi rumah dan tanah seluas 4 ribu meter persegi di Bleasby Road, Eight Mile Plains, Brisbane. “Harganya 900 ribu dolar, sementara uang di kas saat itu hanya 50 ribu dolar,” kisahnya.

Namun, doa yang terus dipanjatkan akhirnya membuat berkat Tuhan mengalir deras. Persembahan dan berkat masuk untuk pembelian gedung ibadah itu, termasuk persetujuan pinjaman dari bank. Akhirnya, setelah melalui berbagai penundaan, pihak pengembang menyerahkan kunci pada Pendeta Hanny Yasaputra pada 28 September 2006. “Saat itulah, saya terkejut. Tanggal itu tepat tujuh tahun saat saya memulai pelayanan di Brisbane,” kenangnya. Hanny pun menjadi sadar, Tuhan membawanya ke Brisbane bukan sebagai sebuah rencana yang salah. Meski harus melalui masa jatuh bangun selama tujuh tahun, akhirnya ia pun menuai janji Tuhan dalam kepenuhan.

Bethany Brisbane memiliki visi “Where Love Touch People”. Dengan misi “To Bring, To Heal, To Train, To Lead, Truthhfully, Humility, Godly.” Pastor Hanny Yasaputra merupakan sarjana teologi lulusan Baptist University Texas yang kemudian meraih master dari Tyndale Theological Seminary Texas. Suami dari Anneke ini dikarunia tiga anak, termasuk salah satu putrinya,Tiffany, yang aktif melayani sebagai singer dan drummer di gereja.

Sebagaimana terjadi pada pengalaman hidupnya, Hanny percaya penuh akan recana indah Tuhan yang terjadi dalam hidup kita. Tapi, ia mengingatkan, proses untuk melalui rencana itu tidaklah mudah. Ia memaparkan, “Rencana Tuhan itu Alfa dan Omega, namun di tengah-tengah Alfa dan Omega itu kerap terasa seperti Hell (Neraka). Kalau saja kita tetap tekun dan bertahan, tidak menyerah menghadapi semua kesukaran itu, maka Allah akan mengizinkan hal-hal yang mustahil dapat terjadi.”

Bring Our Money Back!!

Tuesday, January 2nd, 2007

Pajak buat Siapa?

Pelajaran lain yang bisa saya petik dari prosperiti di Australia adalah bagaimana pemerintah bisa sedemikian memanusiakan warganegara di sini? Bagaimana mungkin Anda bisa menganggap sebuah negeri bukan sebagai sorga bila semua tersedia di sini, and mostly free of charge…

Impresi saya diimulai dari menempuh highway sepanjang 104 kilometer selepas Bandara Brisbane International menuju kota Maroochydore begitu kali pertama tiba di sini, 6 hari silam. Tol itu gratis, demikian decak kagum saya… Bandingkan saat berangkat dengan taksi dari Tol Slipi hingga Bandara Cengkareng, nyaris 10 ribu perak keluar dari saku untuk tiga loket tol.

Kekaguman pelayanan publik lain tergambar dari bersihnya air minum untuk mereka yang tinggal di benua kanguru ini. Tiga hari pertama di apartemen saya tidak minum air, kecuali bekal botol aqua yang disiapkan isteri dari Jakarta, dan susu putih seharga 3,5 dollar australia di mini market kecil di Sunshine Coast ini. Ketika kukeluhkan persoalan, “Mana air yang harus kuminum, karena kulkas hanya berisi makanan?” sang juragan radio CVC lantas memutar kran di atas wastafel aparteman M1 nan menterang ini.

“Jojo, kamu bisa minum langsung air dari sini. It’s clean,” kata Stuart Cranney, manajer berusia 24 tahun yang tampak lebih dewasa dari usianya itu. Alamak, minum air langsung dari kran? Tak terbayang melakukan hal itu dari Surabaya, Jakarta, atau bahkan Yogyakarta dan Malang.

Soal air, tak hanya di tiap rumah semua bisa dikonsumsi mentah-mentah. Di taman-taman, dan area publik lainnya, kran-kran bisa diputar untuk langsung ditenggak air yang muncrat deras ke atas. Mungkin karena melihat airnya bersih, mungkin karena tak sakit perut usai minum segelas air ledeng di apartemen, atau mungkin sugesti Heda Bailey, rekan sekerja yang menjelaskan semua itu dengan meyakinkan, maka saya tak ragu meminum langsung air di taman Kings Beach Caloundra.. Segerrrrr….. dan hmm… percaya atau tidak, menyehatkan!

Di luar pelayanan air bersih siap minum, pemerintah menganugerahkan fasilitas lain untuk warganegara, seperti sekolah dan rumah sakit gratis. Mayoritas sekolah adalah milik negara, free untuk citizen di sini. Begitupula soal kesehatan, itulah hak warganegara. Karena itu, saya tak memperoleh banyak tunjangan kesehatan untuk pekerjaan saya sebagai reporter CVC di Jakarta. Apa sebabnya? Orang-orang di kantor pusat Radio CVC di Australia ini tak mendapat tunjangan kesehatan dari perusahaan, karena semua itu ditanggung oleh negara!

Lalu dari mana pemerintah membiayai semua ini? Tak ada toilet yang harus bayar di area publik, parkir mobil pun kebanyakan gratis, dan banyak keisitimewaan lain yang di negeri tetangganya Australia sana dibayar rupiah. “Asalnya dari pajak. Kami membayar pajak tinggi bagi pemerintah dari setiap gaji yang kami terima,”kata Stuart.

Nah, begini kan fair. Kalau saja semua yang kita beri kembali jelas untuk kesejahteraan kita, dan tidak dibawa pulang sebagai aset baru para birokrat di tingkat elit, tentu saja orang jadi tak merasa rugi membayar pajak. Beda soalnya dengan pungutan paksa fiskal sejuta rupiah untuk mereka yang mau ke luar negeri.  Saya pernah membaca penjelasan pejabat bahwa, konon, alasan pemerintah tidak mencabut pungutan fiskal karena, “Fiskal adalah pajak yang dibebankan kepada warga negara saat ia keluar dari negeri ini. Kan di sana warga Indonesiaitu akan tidur di hotel, makan di restoran dan melakukan fasilitas-fasilitas mewah lainnya. Nah, jadi pajak barang mewahnya (di sini ke luar negeri itu ternasuk barang mewah) dibayar di muka.” Asem, makannya di mana, mbayar pajaknya ke mana….

Kesimpulannya, mari kampanyekan membayar pajak, asal semua kembali buat fasilitas mendasar layanan publik. Kalau tidak ada imbangan itu, maka stigma bahwa mereka yang bekerja di departemen pajak dan jajarannya akan kaya sampai tujuh turunan, adalah benar adanya. Buktikan bahwa pemungut cukai alias tax collector bukanlah koruptor, tapi, merekalah agen dan distributor untuk kesejahteraan rakyat.

Bring Our Money Back!!