Bring Our Money Back!!

Pajak buat Siapa?

Pelajaran lain yang bisa saya petik dari prosperiti di Australia adalah bagaimana pemerintah bisa sedemikian memanusiakan warganegara di sini? Bagaimana mungkin Anda bisa menganggap sebuah negeri bukan sebagai sorga bila semua tersedia di sini, and mostly free of charge…

Impresi saya diimulai dari menempuh highway sepanjang 104 kilometer selepas Bandara Brisbane International menuju kota Maroochydore begitu kali pertama tiba di sini, 6 hari silam. Tol itu gratis, demikian decak kagum saya… Bandingkan saat berangkat dengan taksi dari Tol Slipi hingga Bandara Cengkareng, nyaris 10 ribu perak keluar dari saku untuk tiga loket tol.

Kekaguman pelayanan publik lain tergambar dari bersihnya air minum untuk mereka yang tinggal di benua kanguru ini. Tiga hari pertama di apartemen saya tidak minum air, kecuali bekal botol aqua yang disiapkan isteri dari Jakarta, dan susu putih seharga 3,5 dollar australia di mini market kecil di Sunshine Coast ini. Ketika kukeluhkan persoalan, “Mana air yang harus kuminum, karena kulkas hanya berisi makanan?” sang juragan radio CVC lantas memutar kran di atas wastafel aparteman M1 nan menterang ini.

“Jojo, kamu bisa minum langsung air dari sini. It’s clean,” kata Stuart Cranney, manajer berusia 24 tahun yang tampak lebih dewasa dari usianya itu. Alamak, minum air langsung dari kran? Tak terbayang melakukan hal itu dari Surabaya, Jakarta, atau bahkan Yogyakarta dan Malang.

Soal air, tak hanya di tiap rumah semua bisa dikonsumsi mentah-mentah. Di taman-taman, dan area publik lainnya, kran-kran bisa diputar untuk langsung ditenggak air yang muncrat deras ke atas. Mungkin karena melihat airnya bersih, mungkin karena tak sakit perut usai minum segelas air ledeng di apartemen, atau mungkin sugesti Heda Bailey, rekan sekerja yang menjelaskan semua itu dengan meyakinkan, maka saya tak ragu meminum langsung air di taman Kings Beach Caloundra.. Segerrrrr….. dan hmm… percaya atau tidak, menyehatkan!

Di luar pelayanan air bersih siap minum, pemerintah menganugerahkan fasilitas lain untuk warganegara, seperti sekolah dan rumah sakit gratis. Mayoritas sekolah adalah milik negara, free untuk citizen di sini. Begitupula soal kesehatan, itulah hak warganegara. Karena itu, saya tak memperoleh banyak tunjangan kesehatan untuk pekerjaan saya sebagai reporter CVC di Jakarta. Apa sebabnya? Orang-orang di kantor pusat Radio CVC di Australia ini tak mendapat tunjangan kesehatan dari perusahaan, karena semua itu ditanggung oleh negara!

Lalu dari mana pemerintah membiayai semua ini? Tak ada toilet yang harus bayar di area publik, parkir mobil pun kebanyakan gratis, dan banyak keisitimewaan lain yang di negeri tetangganya Australia sana dibayar rupiah. “Asalnya dari pajak. Kami membayar pajak tinggi bagi pemerintah dari setiap gaji yang kami terima,”kata Stuart.

Nah, begini kan fair. Kalau saja semua yang kita beri kembali jelas untuk kesejahteraan kita, dan tidak dibawa pulang sebagai aset baru para birokrat di tingkat elit, tentu saja orang jadi tak merasa rugi membayar pajak. Beda soalnya dengan pungutan paksa fiskal sejuta rupiah untuk mereka yang mau ke luar negeri.  Saya pernah membaca penjelasan pejabat bahwa, konon, alasan pemerintah tidak mencabut pungutan fiskal karena, “Fiskal adalah pajak yang dibebankan kepada warga negara saat ia keluar dari negeri ini. Kan di sana warga Indonesiaitu akan tidur di hotel, makan di restoran dan melakukan fasilitas-fasilitas mewah lainnya. Nah, jadi pajak barang mewahnya (di sini ke luar negeri itu ternasuk barang mewah) dibayar di muka.” Asem, makannya di mana, mbayar pajaknya ke mana….

Kesimpulannya, mari kampanyekan membayar pajak, asal semua kembali buat fasilitas mendasar layanan publik. Kalau tidak ada imbangan itu, maka stigma bahwa mereka yang bekerja di departemen pajak dan jajarannya akan kaya sampai tujuh turunan, adalah benar adanya. Buktikan bahwa pemungut cukai alias tax collector bukanlah koruptor, tapi, merekalah agen dan distributor untuk kesejahteraan rakyat.

Bring Our Money Back!!

2 Responses to “Bring Our Money Back!!”

  1. Ingki Says:

    setubuh!eh, setuju om jojo!emang kudu direvolusi nih negera kite.orang udeh kagak rela mbayar, malah dipaksa.terus dikorupsi lagi.jadinye ya kayak gini.pusing om.enakan tinggal di nagari emang.bisa ngetawain orang2 indo yang kelakuannye aneh2 dan kagak masuk akal..

  2. gusmul Says:

    welfare state?
    dream for indonesia

Leave a Reply