Melewati Masa Kesukaran
Mengunjungi Gereja Bethany Brisbane
Melewati Tujuh Tahun Masa Kesesakan
Bagi yang kali pertama berkunjung ke Brisbane, ibukota negara bagian Queensland, tak terlalu sulit menemukan Gereja Bethany Brisbane. Petunjuknya, cari saja dulu Griffith University, sebuah universitas negeri terkemuka di kota berpenduduk 1,8 juta jiwa itu. Berada di kawasan Nathan Campus di West Creek Road, kita tinggal lurus menuju ke arah gedung cinema kampus. Di lokasi cinema berkapasitas 200-an orang itulah, ibadah raya Gereja Bethany Brisbane digelar setiap minggunya. Nornalnya, ibadah berlangsung dua kali, jam sembilan pagi untuk ibadah bahasa Inggris dan jam sebelas siang untuk ibadah bahasa Indonesia. Namun, karena Desember – Januari merupakan musim liburan, maka ibadah raya digabung menjadi sekali pada pukul sepuluh pagi.
“… All that I am, all that I have
I lay them down before you O Lord
All my regrets, all my acclaim
the joy and the pain, I’m making them yours…”
Lagu pembuka dihantarkan pemimpin pujian Bonar Wicaksono, mahasiswa jurusan periklanan University of Queensland berusia 24 tahun. Sekitar 40-an anggota jemaat yang hadir mengikuti ibadah dengan bersemangat memuji dan menyembah Tuhan. Beberapa dari mereka tampak bukan berwajah Indo, melainkan dari negara-negara kawasan Asia lainnya.
Di antara praise and woship, dua orang menyampaikan kesaksiannya. Yulia, seorang perempuan 23 tahun mengisahkan perjuangannya mencari kerja seusai menamatkan kuliah di Queensland. Akhirnya, setelah mengirim berbagai lamaran, akhirnya ia diterima di sebuah perusahaan terkenal di Brisbane. Seorang lagi, Niko, 21 tahun, menyampaikan rasa syukurnya dapat kembali melanjutkan sekolah di Australia. Remaja asal Jakarta Barat ini semula merasa tak bakal dapat kembali ke Australia dari masa liburannya di Jakarta, karena tahun lalu tekanan kurs Dolar Australia terhadap mata uang rupiah begitu tajam. “Papa saya menyatakan tak sanggup mengirim saya balik, begitu melihat rupiah terus melemah.” Sampai suatu saat melihat pergerakan nilai tukar di televisi di Indonesia, Niko menyampaikan pada ayahnya sambol menunjuk layer televisi itu, ‘Kalau memang Tuhan menghendaki, Dolar Australia itu akan turun sendiri.” Doanya terkabul, nilai tukar rupiah yang semula sampai mencapai 8 ribu per satu Dolar Australia, menguat mencapai Rp 6.500,- per satu dollarnya. Niko pun kembali ke Australia melanjutkan studinya.
Firman Tuhan disampaikan Gembala Sidang Gereja Bethany Brisbane, Pastor Hanny Yasaputra. Ia menekankan makna tema yang dicanangkannya memasuki 2007, “The Year of Revayah, When God Brings You to The Place of Abundance”, diambil dari Mazmur 66:12.
Menurut Hanny, tema ini berarti Tuhan akan menjadikan 2007 sebagai tahun yang berkelimpahan. “Sesuai janjinya dalam Mazmur itu, kita akan dibawaNya menuju tempat kepenuhan, di mana segala sesuatu tersedia,” katanya. Hanny menyatakan, tema 2007 ini merupakan kelanjutan tema 2006, “Reigns with God, Memerintah Bersama Tuhan.”
Dalam percakapan khusus sebelum ibadah, sejenak Hanny berefleksi, betapa pekerjaan Tuhan bagi gerejaNya sangat luar biasa.Pada 28 September 1999, Tuhan membawanya meninggalkan Gereja Bethany Perth, yang telah digembalakan selama 4 tahun dengan 300 anggota jemaat. “Tuhan membawa saya ke Brisbane, memuali pelayanan dengan 12 orang,” kata pria asal Dukuh Kupang, Surabaya yang juga ipar dari Pendeta Timotius Arifin ini.
Melewati masa-masa kesukaran hingga berpindah-pindah lokasi ibadah, kini Gereja Bethany Brisbane berkembang dengan 130 warga. Sampai tahun lalu, datanglah sebuah kejutan, kala sebuah perusahaan properti mengajaknya melihat sebuah lokasi rumah dan tanah seluas 4 ribu meter persegi di Bleasby Road, Eight Mile Plains, Brisbane. “Harganya 900 ribu dolar, sementara uang di kas saat itu hanya 50 ribu dolar,” kisahnya.
Namun, doa yang terus dipanjatkan akhirnya membuat berkat Tuhan mengalir deras. Persembahan dan berkat masuk untuk pembelian gedung ibadah itu, termasuk persetujuan pinjaman dari bank. Akhirnya, setelah melalui berbagai penundaan, pihak pengembang menyerahkan kunci pada Pendeta Hanny Yasaputra pada 28 September 2006. “Saat itulah, saya terkejut. Tanggal itu tepat tujuh tahun saat saya memulai pelayanan di Brisbane,” kenangnya. Hanny pun menjadi sadar, Tuhan membawanya ke Brisbane bukan sebagai sebuah rencana yang salah. Meski harus melalui masa jatuh bangun selama tujuh tahun, akhirnya ia pun menuai janji Tuhan dalam kepenuhan.
Bethany Brisbane memiliki visi “Where Love Touch People”. Dengan misi “To Bring, To Heal, To Train, To Lead, Truthhfully, Humility, Godly.” Pastor Hanny Yasaputra merupakan sarjana teologi lulusan Baptist University Texas yang kemudian meraih master dari Tyndale Theological Seminary Texas. Suami dari Anneke ini dikarunia tiga anak, termasuk salah satu putrinya,Tiffany, yang aktif melayani sebagai singer dan drummer di gereja.
Sebagaimana terjadi pada pengalaman hidupnya, Hanny percaya penuh akan recana indah Tuhan yang terjadi dalam hidup kita. Tapi, ia mengingatkan, proses untuk melalui rencana itu tidaklah mudah. Ia memaparkan, “Rencana Tuhan itu Alfa dan Omega, namun di tengah-tengah Alfa dan Omega itu kerap terasa seperti Hell (Neraka). Kalau saja kita tetap tekun dan bertahan, tidak menyerah menghadapi semua kesukaran itu, maka Allah akan mengizinkan hal-hal yang mustahil dapat terjadi.”