Archive for February, 2007

Enam Minggu di Surga Sunshine Coast

Tuesday, February 13th, 2007

Koran Tempo, Minggu 12 Februari 2007 Minggu, 11 Februari 2007

Perjalanan

Enam Minggu di Surga Sunshine Coast

Berwisata ke wilayah pantai yang tenang di Australia.

"Selamat datang di kota kecil kami, Sunshine Coast. Inilah kawasan wisata utama di Queensland," kata Stuart Cranney sembari mengulurkan tangannya. Pria 24 tahun yang tampak lebih tua dari usianya itu menjadi pemandu selama enam minggu menjelajahi surga di Benua Kanguru.

Terletak 100 kilometer arah utara Kota Brisbane, Sunshine Coast merupakan salah satu kawasan di Queensland yang memang terkenal dengan obyek turisme andalan. Pantai-pantainya yang bersentuhan langsung dengan bibir Pasifik, terutama Maroochydore Beach dan Alexandra Headland, menjadi favorit pencinta selancar air. Pada saat-saat tertentu, pantai ini membawa ombak yang diyakini sebagai salah satu gelombang terbaik di dunia.

Dataran tinggi Sunshine Coast juga menjanjikan pesona menawan. Sesekali mendakilah ke Mount Coolum, menyaksikan hamparan laut terbentang dari sana. Ada juga Glass House Mountains di sebelah barat Jalan Tol Bruce Highway yang namanya diberikan langsung oleh James Cook, kala penemu Benua Australia itu melihat gundukan gunung serupa gelas raksasa dari kapalnya, HM Bark Endeavour, pada 1770.

Selain kecantikan alamnya, Sunshine Coast terasa laksana surga karena tingginya budaya penduduk serta bagaimana pemerintahan menjamin kesejahteraan mereka. Tak salah kalau angka kriminalitas di sini amat rendah. Pemerintah menanggung beban warganya, mulai tersedianya air bersih, sarana transportasi publik, sampai pembebasan biaya kesehatan dan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Air yang keluar dari keran wastafel masing-masing rumah atau yang ada di tempat-tempat rekreasi umum dapat langsung ditenggak sebagai air minum.

"Pajak yang dibayar kepada negara benar-benar kembali dengan mendatangkan manfaat bagi warga," kata Heda Bailey, perempuan asal Bandung, yang sudah delapan tahun menetap di Australia. Saat mengajak menikmati eksotisme Kings Beach di subdistrik Caloundra, ia menunjukkan keran-keran di sisi taman yang airnya langsung siap minum. Di tengah cuaca terik musim panas, sesekali, pengunjung pantai memutar keran itu, membasahi wajah, sekaligus mengalirkan airnya ke kerongkongan. Duh, segarnya.

Meski tinggal di kota antimacet, 282 ribu penduduk Sunshine Coast memiliki disiplin dan tingkat kesadaran berlalu lintas yang tinggi. Bayangkanlah situasi saat sebuah mobil tiba-tiba berhenti nyaris dua meter dari depan zebra cross, begitu mengetahui seorang pejalan kaki akan melintas di depannya. Benar-benar kehormatan tinggi bagi kaum pedestrian!

Layanan transportasi massal pun tersedia dengan mudah. Bus translink berkapasitas 30 orang beroperasi 7 hari seminggu dari pagi sampai tengah malam, dengan jadwal kedatangan yang dapat dilihat di tiap shelter. Kalau lupa dengan jadwal yang tertera di tempat-tempat pemberhentian bus, warga kota tinggal melihat jadwalnya secara online.

Di luar pemandangan alam, Sunshine Coast memiliki dua kawasan wisata konservasi fauna. Di dermaga Pantai Mooloolaba terletak Underwater World, yang menyuguhkan rahasia alam aneka satwa bawah laut, mulai hiu raksasa, ikan pari, hingga pesona terumbu karang yang dihadirkan langsung di depan mata. Setelah puas mencicipi pengalaman bawah laut bersama monster-monster air itu, area wisata fauna lainnya adalah Australia Zoo.

Berkunjung ke Rumah Buaya

"Kalau sudah ke Queensland, jangan lupa ke Australia Zoo."

Ungkapan itu bukan melebih-lebihkan karena Australia Zoo inilah salah satu ikon wisata di Aussie. Lokasi tepatnya di Beerwah, 10 kilometer dari sisi barat Bruce Highway, yang menghubungkan Brisbane dengan Sunshine Coast.

Pagi itu, sebuah bus tingkat berwarna biru menjemput para pengunjung Australia Zoo dari kawasan Maroochydoore. Baru saja duduk, datang sapaan dari Steve Irwin, pemilik Australia Zoo yang terkenal dengan julukan Pemburu Buaya. Tentu bukan dalam wujud aslinya karena sosok sebenarnya sudah meninggal dunia tersengat ikan pari pada September tahun lalu. Dalam televisi 17 inci, Irwin hadir selama perjalanan bus satu setengah jam lewat film dokumenter yang mengisahkan bagaimana perjuangannya menaklukkan aneka satwa langka. Episode kali ini mengetengahkan petualangannya di pedalaman Papua. "Apakah kuskus makan pisang?" tanya Irwin dalam bahasa Indonesia terpatah-patah kepada seorang penduduk suku Komoro.

Kebun binatang ini awalnya didirikan pada 1970 oleh Bob dan Lyn Irwin, orang tua Steve, yang merupakan pakar reptil dan hewan amfibi. Berganti nama tiga kali, Australia Zoo kini memiliki luas lebih dari 28 ribu hektare dengan seribu koleksi hewan dan 600 karyawan. Tentu saja, yang ingin saya sentuh adalah kanguru merah dan koala, dua satwa khas Australia.

Dengan tiket masuk 46 dolar Australia (sekitar 315 ribu rupiah), para pengunjung dapat menikmati semua atraksi fauna sepuasnya. Diawali dari memberi makan gajah, berputar-putar dengan kereta kelinci, hingga menyaksikan pertunjukan empat macan Asia di "Tiger Temple", sebuah lokasi penangkaran harimau yang bangunannya dibuat sebagai replika Candi Angkor Wat di Kamboja.

Atraksi utama di Australia Zoo adalah Wildlife Action yang digelar dua kali sehari. Acara ini bertempat di Crocoseum, stadion mini dengan kapasitas 5.000 orang plus arena pertunjukan bujur sangkar di tengahnya. Di Crocoseum yang dilengkapi layar lebar inilah, pawang-pawang Australia Zoo bercanda dengan satwa buas, mulai ular piton sampai buaya berukuran babon. Ala gladiator, menegangkan, tapi juga mengasyikkan!

Setiap kali tangan sang pawang terjulur memberi makan buaya dengan unggas, jantung pengunjung Crocoseum berdetak kencang, jangan-jangan jemari mereka ikut tersabet moncong buaya yang menyambar sarapannya begitu cepat. Syukurlah, sampai atraksi tuntas, tak ada darah manusia yang mengucur. Semua berteriak gembira melontarkan ungkapan khas ciptaan Steve Irwin, sang penakluk buaya, "Crikey!"

Nonton Bola di Brisbane

Sepak bola bukan olahraga utama di negeri dengan 20 juta penduduk ini. Namun, Guinness Book of World Record masih mencatat pertandingan Australia melawan Samoa sebagai partai dengan rekor skor gol tertinggi. Dalam penyisihan Piala Dunia 2002 di Coffs Harbour, 11 April 2001, Australia menggilas Samoa 31-0. Dalam laga itu, penyerang Australia, Archie Thompson, mencatat rekor dunia pencetak gol terbanyak dalam sebuah pertandingan dengan 13 gol.

Maka saya tak berpikir panjang lagi begitu mendapat tawaran menyaksikan A-League, begitu nama Liga Sepak Bola Australia yang musim ini disponsori perusahaan mobil asal Korea itu. Soccer, sebutan untuk membedakannya dengan Australian Football League (AFL), memang kalah pamor dibandingkan dengan kriket, rugby, dan AFL. Namun, atmosfer menonton sepak bola di Suncorp Stadium, Brisbane, bak menghadirkan suasana stadion besar di Eropa.

Sabtu itu, berlangsung pertandingan antara tuan rumah Queensland Roar FC dan Sydney FC. Pertarungan digelar mulai pukul 7 malam, dengan alasan sederhana: kalau siang cuaca Kota Brisbane pada Januari sangat panas, nyaris mencapai 30 derajat Celsius. "Selain itu, toh, stadion ini dilengkapi penerangan yang memadai," kata Scott Curtis, teman sekantor yang juga gila bola.

Serunya laga sudah tergambar sejak siang hari. Di downtown Brisbane, lalu-lalang suporter berseragam jingga melintas penuh semangat, bersiap menonton sepak bola laksana rekreasi keluarga. Nongkrong di sebuah restoran cepat saji, tampak juga pendukung Sydney FC bertetirah sejenak setelah menempuh perjalanan dengan pesawat. Tak ada keributan, meski mereka memakai seragam biru laut memasuki kandang singa.

Jam enam petang lewat, antrean penumpang bus di Queen Street kian panjang. Memang, setiap ada event besar seperti pertandingan olahraga ini, otoritas Kota Brisbane menyediakan shuttle bus gratis dari pusat kota menuju stadion dan sebaliknya. Ah, pikiran nakal kembali melayang ke kampung halaman. Seandainya layanan publik serupa tersedia, tentu para Bonek atau Jakmania tak perlu repot-repot membajak truk dan metro mini.

Di dalam stadion, dua monitor raksasa mengumumkan Suncorp Stadium dihadiri 32.371 penonton. Meski tiket pertandingan seharga 25 dolar Australia (sekitar Rp 175 ribu) mencantumkan detail nomor tempat duduk –sisi stadion, lorong, baris, dan nomor kursi–layaknya menonton bioskop, saya memilih berbaur dengan kelompok suporter di belakang gawang. Inilah lokasi para suporter kreatif berada, menyanyikan yel serta menggetar-getarkan tangan seperti dukun membaca mantra setiap kali tim kesayangan melakukan serangan. Tak lupa, sebuah gelas plastik berisi bir ringan menemani sepanjang permainan.

Pertandingan usai mendekati pukul sembilan malam, dengan skor imbang yang memuluskan langkah tim tamu menuju semifinal. Ribuan Queenslanders berjalan gontai, sementara pendukung Sydney FC bernyanyi riang sampai di kawasan City Hall dan Central Station Brisbane, melahap malam sambil menunggu penerbangan pagi keesokan harinya.

Saya masih mengucek mata, benarkah tak ada kerusuhan di antara kelompok pendukung bola? Dengan kekecewaan besar ada di kubu tuan rumah? Ah, tiba-tiba batin saya berbisik, "This is Australia, Man!"

l jojo raharjo, penikmat wisata dan jurnalis