Menanti Hot Spot Area Semudah Cari Voucher HP

Mas, permisi… memangnya di sini bisa untuk Wifi ya…" tanya perempuan berkulit bersih dengan rambut blonde tergerai nyaris seperut itu. 

"Bisa.. gratis, kok.." jawabku sambil meliriknya sekilas, seolah mengabaikan pemandangan segar yang bisa sedikit me-refresh mata dari kepenatan memandang monitor ini. 

Padahal, batinku, "Piye, toh, mbak.. Justru karena alasan itulah, saya sempat-sempatkan minggu malam gini nongkrong di Mall Pondok Indah.." 

Dan kini, ia pun asyik membuka kotak kecil putih berlogo buah apel sambil sesekali tangan kanannya menyuapkan sumpit berisi steak, tepat di bawah layar kaca yang menyiarkan siaran langsung GP Estoril. Jadi, kalau mau terus merefresh kepala, setidaknya ada alasan "Mengupdate perkembangan lap terakhir Grand Prix Portugal, hehe.." 

— 

Mungkin pertanyaan "Apakah tempat ini Wifi, ada hot spot area apa nggak ya?" bakal menjadi tidak relevan sepuluh tahun depan. Saat hampir semua area dapat menjadi tempat nongkrong sambil mengakses internet tanpa biaya, semudah menemukan penjual voucher hape di sudut-sudut kota besar saat ini. Itulah, yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah dalam urusan menggairahkan teknologi informasi di negeri yang katanya tak mau terus menerus menjadi "developed country" sejak beberapa dekade silam. 

Surabaya sudah mengawalinya dengan menyulap Taman Bungkul yang dulu kumuh menjadi wifi area berkat dukungan Telkom sejak 21 Maret lalu dan menjadi taman kota pertama yang dapat mengakses free internet, diikuti Taman Surya Balai Kota dan Techno Park Taman Flora Kebun Bibit Surabaya. 

Saya ikut meliput saat Gubernur Jakarta Sutiyoso meresmikan area hotspot dan internet gratis di Halte Busway Dukuh Atas IV, tapi seberapa jauh fasilitas itu telah dimanfaatkan warga kota dengan efektif? Memangnya orang tidak ngeri membuka laptop di kerumunan lalu-lalang penumpang yang, siapa tahu, beberapa di antaranya menyandarkan hidup dari keterampilan jari sebagai pencopet? 

Membuka layanan hot spot di sebuah tempat bisnis memang menjadi nilai tambah tersendiri untuk pengembangan tempat usaha itu. Di Tamani Kafe Melawai, terpasang spanduk, "Free 3 Hours Hotspot…" Tentu ada syaratnya, tidak semudah saya yang cukup membeli es teh lima rebu perak di food court Mall Pondok Indah ini. Tamani Kafe memasang ketentuan sang pengunjung harus makan atau minum senilai minimal 20 rebu perak, belum termasuk pajak. Fair enough kan? 

Cuma, seperti juga bisnis pompa bensin Shell dan Petronas yang baru berani buka di ibukota, sepertinya masih mimpi menemukan hotspot area di Trenggalek atau Wates, misalnya.

Kalau keinginan itu dijawab, "Demand-nya belum banyak, mas…" atau "Nanti pengelola warnet marah," maka bukankah jawaban itu sama dengan mengerdilkan kita masyarakat sendiri? 

Pebisnis yang baik tidak harus mengembangkan usaha dengan menunggu hadirnya permintaan yang memadai. Pebisnis yang baik adalah mereka yang menciptakan pasar alias menumbuhkan permintaan itu sendiri.

So, kalau peringatatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional tahun depan akan ditekankan sebagai HarkITnas dengan huruf IT besar alias Hari Kebangkitan Teknologi Informasi Nasional, mari kita tunggu itikad baik pemerintah maupun kalangan bisnis dengan lebih membuat masyarakat cerdas. Salah satunya ya, bagaimana membuat orang dapat menemukan Wifi area semudah menemukan penjual voucher telepon seluler.

One Response to “Menanti Hot Spot Area Semudah Cari Voucher HP”

  1. inticyHeele Says:

    Hello. :) The natural photo of the new arrival, taken by Emma Tallulah’s dad,
    Bye.

Leave a Reply