Archive for January, 2008

Kekalahan Misterius Pace Papua

Sunday, January 13th, 2008

Persipura kembali kandas di partai puncak turnamen sepakbola Indonesia. Menyisakan semangat, pertanyaan, dan pelajaran moral.

Pentas Copa Indonesia berakhir di Stadion Utama Gelora Bung Karno, tadi malam. Sriwijaya FC Palembang keluar sebagai juara setelah menaklukkan tim “Mutiara Hitam” Persipura Jayapura 4-1 lewat adu penalti, setelah dalam waktu normal dan perpanjangan waktu skor imbang 1-1.

Lebih dari lima ribu “pace-pace” Papua yang datang langsung ke Senayan harus pulang dengan kecewa. Saya yang berada di tribun media stadion megah berkapasitas 78 ribu orang ini menjadi saksi, betapa para pendukung Persipura kembali harus mengubur impiannya, setelah dua tahun berturut-turut kandas di partai puncak Copa Indonesia.

Sebelum partai semifinal Copa Indonesia digelar Kamis, 10 Januari lalu, merebak isu di kalangan jurnalis olahraga ibukota. Isu ini menyodorkan “skenario PSSI” tentang adanya pembagian gelar juara Copa dan Liga  Indonesia. “Kalau Persija juara Copa, maka Sriwijaya juara Liga  Indonesia. Begitupula sebaliknya,” demikian kabar-kabur itu beredar. Adapun partai final Liga  Indonesia sendiri baru akan berlangsung dua pekan mendatang, 27 Januari di tempat yang sama, setelah sebelumnya mulai 16 Januari lusa berlangsung babak delapan besar di  Kediri dan Solo.

Benarkah demikian? Yang jelas, partai semifinal pertama Copa Indonesia lalu membuyarkan anggapan bahwa Persija akan menang mudah atas Persipura dan melangkah ke final Copa. Alih-alih balas dendam atas kekalahan di Final Liga Indonesia dua tahun lalu, Macan Kemayoran kembali termehek-mehek dipermainkan tim Mutiara Hitam itu. Hatrick Albeto Goncalvez, pemain asing Persipura yang mengawali karirnya sebagai pemain bola jalanan di Brasil, memungkasi perlawanan tim kaya ibukota. 3-2, Persipura maju ke final.

Setelah susah payah mengandaskan Pelita melalui adu penalti, Sriwijaya membunyikan anggapan bahwa skenario itu setidaknya masih ada. Laskar “Wong Kito” menunggu Persipura di partai pungkas, yang diyakini sebagai final ideal, mengingat masing-masing tim merupakan pemimpin klasemen di Wilayah Bara dan Timur Liga Indonesia.

Para pemain dan pendukung Persipura datang dengan kepercayaan diri. Meski kalah secara jumlah, sebuah fakta yang sama seperti saat tampil di semifinal menghadapi Jakmania, para pendukung Persipura tidak kalah gigi. Sebuah kain rentang putih mereka bentang di antara Sektor 21-22 stadion, “Vini Vidi Vici, Persipura Menang”, identitasnya, dari masyarakat Papua di kawasan Tanah Abang.

Sepanjang laga, para fans Persipura tampil kreatif dan simpatik. Beberapa orang mengenakan topi dari bulu burung cenderawasih, laksana kepala suku di provinsi paling timur Indonesia itu. Sisanya, menggunakan seragam merah hitam yang bisa dibeli di kaki lima sekitar stadion seharga 20 ribu rupiah. Kalau tak mampu beli kaos, mereka memakai kostum apapun, asal ada unsur merah hitamnya, seperti sebagian orang yang membela Persipura dengan berbalut kostum AC Milan dan Liverpool.

Lagu-lagu gereja mereka gubah menjadi pemicu perjuangan Eduard Ivak Dalam dan kawan-kawan. “Dalam Tuhan, ada kemenangan… Dalam Tuhan ada kemenangan, sekarang dan selamanya…”, “Maju Laskar Kristus..”, “Kumenang-kumenang, bersama Yesus Tuhan, kumenang-kumenang di dalam peperangan…” dan berbagai lagu lain yang dinyanyikan bersama-sama dengan kompaknya.

Sekali mereka sempat bentrok dengan polisi-polisi muda yang berjaga di dekat pagar, saat Sriwijaya sukses menyamakan skor lewat penalti Kith Kayamba. Namun, setelah itu situasi kembali terkendali. Setiap ada botol minuman terlempar ke lapangan, dirijen lagu yang nangkring di atas pagar segera memarahi rekan-rekannya.

Sayang, perjuangan Persipura kandas oleh satu kata:mental. Mereka gagal menjadi yang terbaik karena kalah secara psikologis. Permainan cantik satu dua sentuhan Beto, Ernest Jeremiah yang mendapat pasokan umpan jadi dari kapten Edu Ivakdalam, Paolo Rumere, dan David Darocca selalu kandas melawan kesabaran Renato Eliyas dan kawan-kawan. Pemain Persipura seakan meremehkan Sriwijaya, yang mereka nilai kelasnya di bawah Persija yang bisa dilumat tanpa ampun.

Puncaknya ya itu tadi. Adu penalti. Tiga eksekusi penalti Persipura tak ada yang masuk. Satu oleh “legenda hidup” sekaligus kapten mereka, dan dua oleh pemain asing andalan. Dua selesai di pelukan kiper Sriwijaya, dan satu tendangan melambung ke langit Jakarta. Maka, tim instan bermodal puluhan milyar dari APBD Sumsel itu –termasuk dana awal Rp 6 miliar untuk mengganti nama Persijatim  Jakarta Timur menjadi Sriwijaya FC- pun jadi juara Copa 2007-2008.

Persipura kena suap? Entahlah. Seperti lagu lama, ngomong soal suap seperti membicarakan kentut.  Ada bau, tak ada bukti. Saya lebih cenderung menyatakan kegagalan ini adalah soal mental. Ya soal mental meremehkan, mental kepala dingin untuk jadi juara, dan mental untuk berpikir, tanpa hanya  andalkan otot-otot orang-orang yang memang terkenal “tidak punya pusar” itu. Maka, seorang pendukung Persipura yang ada di samping saya berteriak kencang, “Main pakai otak!”

Saya pun teringat pada peristiwa delapan tahun lalu. Saat rekan Sonny Saragih mengumpulkan anak-anak Papua di Surabaya dan membentuk tim sepakbola khusus. Mereka dilatih di Lapangan Thor Indragiri dan sesekali berujitanding di Lapangan Stiesia, Menur. Untuk memancing semangat mereka, Sonny dan rekan-rekannya sampai memutar keras-keras lagu daerah Papua di pinggir lapangan Stiesia.

Hasilnya? Tetap kalah. Semua membuktikan, kerja pakai otot dan semangat perlu. Tapi otak jauh lebih penting lagi. Dan, di atas itu semua adalah soal mental alias karakter. Cerita soal ini sudah terlalu banyak. Berapa banyak anak muda hebat Papua yang berantakan karir bolanya karena terbiasa mabuk-mabukan, dan main perempuan. Bahkan, seorang Ortizan Salosa saat terpanggil mengikuti Pelatnas PSSI pun sempat kabur tanpa alasan jelas.

Pemain Persipura tak punya banyak waktu jedah. Mereka harus segera terbang ke Solo, memainkan lakon babak 8 besar Liga Indonesia. Moral storynya, kalau tak ingin orang-orang kawasan timur Indonesia terus “dibohongi” orang Jawa dan rekan-rekan dari barat lainnya, segera benahi otak dan mental. Itu saja kunci suksesnya.

Delapan Jam di Nusakambangan

Thursday, January 3rd, 2008

Delapan Jam di Nusakambangan

Oleh: Jojo Raharjo

Matahari baru dua kali terbit di tahun baru, saat saya bersiap menuju Nusakambangan, sebuah noktah kecil yang terletak dalam wilayah administratif Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Berbeda dengan perjalanan menyinggahi pulau-pulau kecil lain di tanah air -seperti Sabang di Aceh, Bawean di Jatim, Nias di Sumut atau beberapa kawasan di Kepulauan Seribu, DKI- peziarahan kali ini ini mengundang rasa ingin tahu besar tentang destinasi yang akan dituju. Ya, sebuah pulau berpenduduk tiga ribu jiwa yang kali pertama diresmikan penggunaannya sebagai penjara oleh kolonialisme Belanda pada 1920-an.

Setelah malam sebelumnya menginap di sebuah hotel bintang satu di jantung kota Cilacap, pukul 07.55 kami sudah merapat ke Dermaga Wijayapura, yang terletak satu area dengan Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap. Aneka birokrasi khas Departemen Hukum dan HAM menyambut tetamu yang berniat menyeberang ke Nusakambangan. Maklum, meski masuk wilayah Pemkab Cilacap, pengelolaan pulau berjuluk “Alcatraz of Indonesia” ini sepenuhnya berada di tangan Dirjen Pemasyarakatan Depkumham.

Mereka yang akan berkunjung ke Nusakambangan dikategorikan dalam beberapa kategori tamu, antara lain “tamu dinas”, “tamu keluarga petugas”, dan “tamu pengunjung napi”, dan “tamu lain-lain”, masing-masing lengkap dengan aturan yang berbeda, mulai membawa surat pengatar kepala desa, sampai surat dari Kanwil Depkumham Jateng. Saya tergabung dalam rombongan Bugiakso, mantan anggota DPRD DIY yang kini mejadi penyanyi lagu religi dan berniat menghibur para narapidana di LP Batu dan LP Besi, Nusakambangan.

Setelah urusan basa-basi di pos penjagaan selesai, saya dan rombongan masuk ke badan Pengayoman II, kapal ferry milik Depkumham yang memang setiap hari hilir mudik menghubungkan selat kecil itu. Kapal ini lebih kecil dari kapal ferry yang melintasi Selat Madura, tapi toh mampu mengangkut lebih dari 50 manusia, beberapa motor dan sebuah bis berkapasitas 25 tempat duduk.

Penyeberangan ditempuh tak sampai sepuluh menit, dengan Depo Pertamina terhampar di sisi kanan kapal, dan penambangan semen milik Holcim di sisi kiri. Di tengah laut, sebuah perahu kecil asyik memancing persis di sebelah buih petunjuk navigasi.

Kapal merapat di Dermaga Sodong, sebuah bando besi bertuliskan “Pemasyarakatan Nusakambangan” menyambut kami. Ada pula sebuah tugu dengan prasasti “17 Agustus 1945, Hari Kemerdekaan Bangsa dan Tanah Air Indonesia ”. Sedikitnya, lima warung mie rebus menyemarakkan suasana dermaga kecil di pulau seluas 121 kilometer persegi itu.

Menuju lokasi pertama, LP Batu, alih-alih naik bis rombongan, saya sengaja menumpang kijang bak terbuka yang membawa berbagai piranti musik dan sound system. Jalan tak beraspal yang kami lalui hanya cukup untuk satu mobil, menyajikan pemandangan alang-alang dan hamparan Segara Kidul di kejauhan. Beberapa kali mobil menepi, saat berpapasan dengan roda empat lain dari arah berlawanan, salah satunya station serupa mobil travel yang ditempeli stiker gagah “Trans Nusakambangan” . Batin saya mulai menebak-nebak, “Ah, pasti ini shuttle khusus untuk mengantar para tahanan VIP macam Tommy Suharto atau Bob Hasan dulu.”

Komplek bui pertama yang kami lintasi bernama “Lapas Terbuka kelas II B” yang terletak berdampingan dengan perkebunan jarak. Setelah melewati Obyek Wisata Goa Ratu, tampak rumah-rumah petugas jaga seperti jamur tumbuh di musim hujan. Lalu, sebuah pertanda dari batu memberi salam, “Wilayah Pemasyarakatan” .

Beberapa ratus meter melaju, belasan anggota polisi duduk santai di dekat Truk Brimob di depan Wisma Sari, menyusul kemudian adalah kawasan unit peternakan dan pertanian, balai pengobatan, sebelum akhirnya sampai juga di LP Batu.

Inilah LP Batu, tempat tiga teroris aktor peristiwa Bom Bali; Imam Samudra, Amrozi, dan Muklas, dikurung. Juga dalam sel yang terpisah dengan napi lain, berdiam tenang pembunuh berdarah dingin, Gunawan Santosa.

Melongok ke papan pengumuman, terpasang peringatan, “Larangan Peminjaman dan Kepemilikan HP, Sanksi Tegas bagi Petugas/Napi yang melanggar”. Ada juga surat edaran dari Kepala Dinas Pemasyarakatan Kakanwil Depkumham Jawa Tengah, Bambang Winaryo, yang menyatakan, “Saat ini tidak ada lagi dikenal istilah tahanan politik di Indonesia .”

Masuk ke lobby ruang tamu, terpasang Peta Kawasan LP Nusakambangan, berisi detail lokasi tujuh lapas yakni Lapas Terbuka II B, Lapas Kelas I Batu, Lapas Kelas II A Besi, Lapas Narkotika, Lapas Kembang Kuning, Lapas Permisan, dan Lapas Pasir Putih. Belakangan, saya paham, Lapas Kelas I Batu untuk napi teroris, koruptor, dan penjahat kelas kakap lain, Lapas Besi untuk napi narkotika, Lapas Kembang Kuning untuk napi kriminal, dan Lapas Pasir Putih dikenal sebagai SMS alias Super Maximum Security. “Di sana kami tempatkan para bandar narkoba dengan hukuman di atas 10 tahun, termasuk beberapa di antaranya warga negara asing,” terang Pelaksana Harian Kalapas Batu, Djaja Tjahjana. Konon, aktor film bokep Ibra Azhari kini tercatat sebagai salah seorang warga binaan di Lapas Pasir Putih.

Selain memuat lokasi ketujuh lapas, peta berskala 1 banding 10 ribu itu juga menunjukkan kawasan lain seperti perkebunan karet, hutan bakau, serta pertambangan batu kapur. Termaktub pula primadona wisata Cilacap di Nusakambangan, seperti Pantai Karang Bolong dan Segara Anakan.

Di sisi kanan lobby, terpajang etalase yang memamerkan hasil karya kerajinan batu para napi. Aneh-aneh nama batu buatan mereka, sesuai bentuknya, ada yang bernama “Love”, ada juga yang diberi judul “Obat Tetes Mata”. “Kami tidak mematok harga, silahkan saja kasih berapa, sebagai kenang-kenangan,” kata seorang warga binaan yang menjadi pramuniaga kerajinan batu. “Usaha ini berkembang pesat setelah Bob Hasan menyumbang tiga mesin untuk memperhalus batu. Sebelumnya, semua kami kerjakan dengan tangan dan alat perkayuan biasa,” kisah Heriyanto, narapidana kasus pembunuhan yang telah lima tahun mendekam di LP Batu.

Di perbatasan antara lobby menuju kamar sel dan aula, terpampang baliho berbunyi, “Mereka Bukan Penjahat, Hanya Tersesat, Belum Terlambat untuk Bertobat.” Di pos pemeriksaan yang memisahkan kawasan orang merdeka dan terpenjara itu, terlihat beberapa tulisan menyolok mata, “Jangan Lupa Trolling”. Usut punya usut, kata Trolling merupakan kependekan dari “Kontrol Keliling”.

Sampai di sini, Djaja Tjahjana kembali menegaskan, “Tolong jangan salah sangka kalau kami membatasi kegiatan pers. Sesuai izin kunjungan, tolong jangan meliput soal napi teroris.” Untuk pentas kesenian kali ini, Djaja bercerita, dirinya telah menyampaikan penawaran kepada Amrozy cs, apakah mereka bersedia keluar sel dan menjadi penonton “Konser Penyejuk Hati” seperti layaknya 160-an penghuni LP Batu lainnya. “Mereka menolak dan tetap ingin di dalam sel saja. Alasannya, musik itu haram,” kisah Djaja.

Untuk diketahui, selama seminggu, Amrozi cs hanya bisa sekali bersosialisasi dengan para napi yang hidup di kamar-kamar, yakni saat Salat Jum’at digelar. Sisanya, mereka menghabiskan waktu dalam sel-sel eksklusif yang letaknya di ujung luar pintu masuk pos pemeriksaan LP Batu. Kami tak beruntung bertemu Amrozi, namun saat meninggalkan LP Batu, beberapa rekan mendengar suara khasnya berseru, “Allahu Akbar… Allahu Akbar..”

Di auditorium LP Batu, konser musik berlangsung mulus. Sambil duduk di karpet, saya berkenalan dengan Heriyanto, pembunuh asal Semarang tadi. Heri bertutur, ia dibui karena menggorok saingan bisnis bosnya, sesama pemilik dealer penjualan mobil di Purwokerto. “Membunuh orang itu gampang, mas. Yang susah itu bagaimana menjalani hukumannya,” kata Heri. Selama di Nusakambangan, tak sekalipun anak isterinya yang tinggal di Wates, DIY, diizinkan Heri menengok. “Jauh,” itu dalihnya. Namun toh, ia tak perlu khawatir akan kebutuhan hidup keluarga yang telah ditinggalkannya lima tahun ini. “Sesuai perjanjian sebelum pembunuhan itu, bos saya wajib mengirim biaya hidup kepada keluarga saya. Sekitar Rp 400 ribu per bulan,” urainya. Kalau toh pada 2008 ini Heri jadi menghirup udara bebas, ia juga tak perlu mencemaskan hari depannya. Sang juragan siap kembali menampungnya sebagai karyawan.

Tengah hari, konser di LP Batu kelar. Kami bergegas beranjak menuju LP Besi, yang sesungguhnya jaraknya hanya sepelemparan batu. “Ini napi khusus narkotik. Ada lebih 331 orang di sini,” kata Kalapas Besi, Mirza Zulkarnaen. Seperti juga di LP Batu, sebelum masuk aula, kami wajib menitipkan tas di ruang kalapas. Sebuah tempelan kertas terpajang di sana , “Daerah BPU (Bebas Peredaran Uang Tunai)”.

Sembari menikmati konser Bugie, saya berkeliling LP Besi, melongok kondisi kamar napi yang sebenarnya tak beda dengan barak tentara. Hanya saja, di sini kasurnya lebih empuk dan suasananya lebih acakadul. Ada 18 kamar di LP Besi, dengan masing-masing kamar dihuni antara 17-20 orang.

Tangan saya terjulur kepada Ifan Adriansyah, napi asal Aceh Besar yang tertangkap saat penggerebekan ganja di Bogor . “Saya lagi apes. Maksud hati mengantar uang untuk bayar hutang Rp 6 juta pada teman saya itu, eh, ternyata rumahnya kena gerebek,” ceritanya.

Namun, lajang 35 tahun itu bukan berarti tak bisa bersyukur. “Kalau tidak di sini, barangkali saya sudah mati tergulung tsunami,” katanya. Tahun ini ia berhak memperoleh Pembebasan Bersyarat, sebuah status bebas yang diperoleh bila seorang napi telah menjalani 2/3 masa hukuman. Akankah ia kembali ke Nanggroe? “Tidak. Di sana tidak aman. Saya mau cari uang di Jawa lagi,” tekadnya.

Jawaban berbeda terlontar dari mulut Munadi, juga napi asal Aceh. Ia terpenjara karena kedapatan membawa narkotika saat mobil yang ditumpanginya kena razia di Padalarang, Jawa Barat. “Maksud hati mau jalan-jalan ke Bandung , eh, malah kena,” paparnya. Kalau bebas nanti, Munadi, yang anak istrinya tinggal di Parung, Bogor berencana kembali ke Aceh. “Siapa bilang di sana tidak aman?” katanya.

Munadi bercerita, ada dua cara berbeda menyangkut pembebasan seorang napi. “Kalau ia bebas bersyarat, maka akan diantar sampai ke Kejaksaan Negeri Cilacap, untuk menandatangani berbagai surat administrasi,” tuturnya. Tapi, kalau seorang napi dinyatakan bebas murni, maka ia akan dilepas hanya sampai pintu luar LP Besi. Lho, lalu bagaimana perjalanannya menyeberangi pulau penjara ini, apakah ongkos ferry bisa digratiskan bagi eks napi? “Jangan khawatir, setiap napi yang bebas akan dibekali surat keterangan bebas, yang berlaku selama 24 jam sejak mereka keluar dari penjara,” jelasnya. O…. tiba-tiba pikiran saya terbang ke metro mini dan bis PPD di ibukota, “Jadi, surat semacam ini yang dijadikan senjata para pemalak di bis kota itu.”

Mendekati jam empat sore, saya sudah berada di perahu compreng bertarif dua ribu perak yang mengantarkan kami kembali ke Jawa. Senja itu, Kapal Ferry Pengayoman II belum berani menunaikan tugasnya karena gelombang sedang pasang. Tak ada alternatif lain kalau ingin menyeberang terlebih dulu, kecuali menitipkan nyawa pada perahu solar kecil yang dengan gagah menembus selat selama tiga menit.

Itulah Nusakambangan. Tidak seangker bayangan semula. Mereka manusia biasa. Salah besar jika mengibaratkan para napi ini laksana manusia vampir yang tewas terinfeksi virus mematikan dalam film “I am Legend” - nya Will Smith. Lalu, di kuping ini terkenang tekad Ifan Adriansyah, penghuni LP Besi yang akan kembali sebagai manusia merdeka tahun ini, “Pengalaman hidup di penjara membuat saya bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Saya mendapat banyak manfaat dan ilmu di sini, sehingga nanti bisa dapat hidup lebih baik. Kesalahan kemarin menuntun saya ke jalan yang benar.”

Tapi, benar ‘gak sih, untuk bisa membedakan antara yang baik dan buruk seorang manusia harus masuk bui dulu?

Yogyakarta, 3 Januari 2008

Mengurus SIM di Polda Metro: Sambil Merem pun Bisa

Tuesday, January 1st, 2008

Mengurus
SIM di Polda Metro: Sambil Merem pun Bisa

Oleh:
Jojo Raharjo

Akhirnya, saya kini menggenggam SIM A
terbitan Polda Metro Jaya. Dan, saya sama sekali tidak merasakannya
sebagai sebuah kemewahan.

Saya awali kisahnya saat mendaftar ke
sebuah kursus mobil di kawasan Benhil, tepat di depan RSAL
Mintoharjo, Jakarta Pusat. Petugas resepsionis sekolah mengemudi yang menyewa sebuah
rumah petak itu menyodorkan list jenis dan biaya kursus, berbeda-beda
menurut tingkat kecakapan (memperlancar atau kursus dasar), hari
kursus (weekend atau weekdays) dan layanan mobil yang digunakan (AC
or non AC).

Saya belum bisa nyetir sama sekali,
mbak,” kata saya.

Selain perempuan front office itu,
seorang laki-laki tampak tiduran di meja pendaftaran dengan
santainya.

Wah, kalau itu ya mulai dari dasar,”
jawab mbak penjaga sambil mengarahkan tangan ke list seharga lebih
dari Rp 1 juta. Itu paket termahal, karena merupakan paket dasar
dengan 16 kali pertemuan masing-masing 1 jam, kelas sabtu-minggu,
dengan mobil berpendingin ruangan. Belum termasuk biaya mengurus SIM
Rp 505 ribu.

Oke, saya ambil ATM dulu ya,”
pamitku.

Sampai di parkiran, lelaki yang tadi
bersantai di meja pendaftaran mengejarku. Ia mengenalkan namanya,
Imin, salah seorang instruktur mobil di kursusan itu. “Nanti
kursusnya sama saya saja, mas,” kata Imin, pria asal Jawa Tengah
yang sudah merasa sebagai Betawi Pejompongan.

Intinya, ia menawarkan sebuah
“kerjasama” menarik.

Ngapain ikut 12 atau 16 kali
pertemuan. Udahlah, sama saya saja, ikut yang 6 kali. Ditanggung
bisa, asal tipnya digedein” katanya.

Untuk paket paling murah di weekend
class, dengan 6 kali mentoring, ongkosnya Rp 400-an ribu, ditambah
biaya pendaftaran Rp 20 ribu. Untuk setiap pertemuan, ada kewajiban
memberikan tip kepada instruktur, antara Rp 7.500 sampai Rp 12.500,-
tergantung kelas yang diikuti. Kami sepakat mematok angka tip Rp 20
ribu.

Terus, ngomongnya jangan yang pakai
AC. Coba hitung berapa selisih pakai mobil AC dan non AC?” tanyanya.

Otakku berputar cepat, sebelum
kemudian menjawab “Rp 120 ribu.”

Nah, kasih aja separohnya buat
saya. Nanti, mas bilangnya pakai paket non-AC,” katanya.

Begitulah, sesuai kesepakatan dengan
Imin, esoknya saya sudah menjalani kursus hari pertama. Saat dilepas
bapak si empunya kursus, kaca mobil masih terbuka. Namun 100 meter
kemudian, kami menepi, menutup kaca mobil, dan menyalakan pendingin
ruangan. “Dasar, Indonesia, semua bisa diatur,” umpatku.

Tiga kali pertemuan menjalani kursus,
dari paket enam kali pertemuan, saya menghadap ibu pemilik kursusan.
Ingin mendaftar SIM kolektif.

Oh, tidak apa-apa, Jojo… Meski
kursus belum selesai, boleh kok Jojo mendaftar ujian SIM. Yang
penting bayar Rp 505 ribu. Di sini SIM kolektif hanya tiap Sabtu ya,”
kata ibu 50-an tahun ini dengan genitnya.

Maka, Sabtu, 15 Desember menjadi hari
bersejarah ketika jam 9 pagi saya sudah berdesakan di mobil kijang
hitam berstiker “Sekolah Mengemudi”. Berdelapan, kami berangkat
menuju Satlantas Polda Metro Jaya di Daan Mogot. “Dari cabang
Benhil ini hanya 8 orang. Tapi, jangan kuatir, di sana temannya
banyak, kok,” pesan ibu genit tadi sebelum melepas kami.

Benar juga, sampai di parkiran
Satlantas Daan Mogot, ternyata rekan senasib kami, dari berbagai
cabang kursus mobil bernama sama di seantero Jakarta, ada 170 orang.
Tak heran, saat bergerombol menuju ruang pendaftaran, para makelar
SIM berteriak, “Oh, ini neh rombongan pengantinnya…” Anjrit!

Sejak dari luar gedung, di tepi jalan
Daan Mogot, para calo itu sudah mengintai mangsa. Bahkan, aksi “biro
jasa” ini pun sampai ke mbak-mbak penjaga kantin. “Udah ada yang
bantu, mas?” kata pelayan di warung makan dalam komplek pelayanan
SIM menyapaku. Padahal, sebuah baliho besar terbaca menyolok mata,
“Hindari Pengurusan SIM lewat Perantara/Calo”.

Kembali ke parkiran. Saat briefing
sesama calon peserta ujian SIM, bapak pemilik cabang kursusan Benhil
memberikan nomer ponsel seorang “anggota polisi” yang dapat
dihubungi kalau kami menemui kesulitan. “Bapak ini akan menolong
kalian. Ia ada di dalam,” katanya seusai mendiktekan nomer CDMA
itu.

Kami melangkah masuk ruang kaca
menjelang ujian teori, lalu menukar KTP dengan pass bertuliskan
“Tanda Masuk Pemohon SIM”. Di dalam ruangan ujian, polisi penjaga
ruangan mengatakan, ada 30 soal ujian teori. Untuk bisa lulus,
peserta ujian harus menjawab minimal 18 jawaban benar. Ia lalu
berteriak, “Mana yang bukan dari sekolah mengemudi?” Beberapa
orang mengacungkan tangan, lalu maju dan mendapat soal ujian.

Sisanya, peserta ujian lain yang tidak
mengangkat tangan, termasuk saya, mendapat soal ujian yang diedarkan
petugas. Well, soal berukuran kertas dobel folio dilaminating itu
telah penuh berisi coretan bolpoin di atas plastik laminating. Dari
tiga atau empat jawaban pilihan berganda misalnya, sudah ada kode
mana jawaban yang benar. Tak butuh waktu lama, saya kumpulkan jawaban
soal mengenai berbagai peraturan lalu-lintas itu.

Saat tak sabar menunggu lama proses
selanjutnya, saya sempatkan menelpon bapak polisi bernomer CDMA tadi.
“Sabar saja, mas… Nunggu saja di depan loket foto. Abis ini ujian
praktek,” katanya. Berkali-kali dari pengeras suara terdengar suara polwan
berseru memanggil beberapa nama yang telah mengikuti ujian teori, “Bagi nama-nama berikut, peserta ujian teori yang masih
ada kendala, harap masuk. Akan kami arahkan…” Tak ada nama saya
disebut.

Singkatnya, saya pun telah
berpanas-panas di depan lapangan tempat ujian praktek digelar.
Seorang instruktur ujian dari Polda menerangkan apa saja yang akan
diujikan, sesuai kertas panduan yang kami pegang. Ada 18 item
tes untuk dilakoni, termasuk tes menanjak, menikung, berputar, parkir,
dan lain-lain. Dengan logat Batak ia berteriak, “Kalian relakan
saja ya, hari ini berpanas-panas di sini,” katanya (sok) memlonco.

Nama
saya dipanggil bersama tujuh
orang lain untuk melakoni giliran ujian praktek mengemudi. Kembali
berdesakan di Mobil Kijang, seperti
saat berangkat ke Daan Mogot, saya memilih di kursi belakang.
Instrktur di kursi depan mobil berkata, “Karena waktunya pendek,
pesertanya banyak, nanti jalan lima meter-lima meter saja, ya. Langsung
keluar, gantian… Kalau mau pakai mobil yang lama, nanti
malam saja sambil Malam Mingguan, kalau sudah punya SIM. Di sini panas,
kasian teman-temannya..”

Hmmm… maka ujian praktek formalitas
pun berlangsung. Tak lebih lima menit untuk tiap orang.

Tiba giliran saya, ups… baru angkat
kopling, mesin mati. “Makanya, kalau narik kopling jangan langsung,
separuh aja,” kata pak instrukur dengan  gaya jaimnya.

Baru beberapa meter mobil melaju, saya
disuruhnya keluar, “Udah, udah gantian…” Eh, saking terburunya,
saya lupa menetralkan persneling. Bapak polisi ini melotot lagi,
“Dinetralin dulu dong, jangan keburu kabur…”

Usai ambil pose di ruang foto, kami
terdampar di ruang tunggu. Berbagai poster terpasang di sana, salah
satunya berbunyi, “No Say: SIM asal-asalan…” Sekali lagi,
selamat datang di republik jargon.

Ingatan saya melayang saat
seorang teman menceritakan sulitnya proses mendapatkan SIM di
Australia. Sambil memegang kemudi di Bruce Highway yang
menghubungkan Brisbane dan Sunshine Coast, kawan ini bercerita,
ujian SIM di Oz tak cukup teori dan praktek di kantor polisi. “Calon pemilik SIM
harus menjalani praktek mengemudi selama beberapa ratus jam
berbulan-bulan di jalan raya, dengan didampingi rekannya yang telah
memiliki SIM cukup lama. Jadi, kalau ada apa-apa, temannya itu jadi
jaminan,” paparnya. Hmmm… lain ladang lain belalang, lain lubuk,
lain ikannya. Di sini, untuk bisa dapat SIM A, ibaratnya, sambil
memejamkan mata pun bisa. “Jangan kuatir, mas. Tak ada cerita
orang dari kursusan sini gagal dapat SIM. Sekalipun ia tidak bisa
menstarter mobil, pasti SIM akan keluar,” omongan Imin itu
membekas di memori otak saya.

Hampir 14.30 Waktu Jakarta, atau
sekitar lima jam dari kedatangan awal saya di Satlantas Daan Mogot,
nama saya dipanggil. Jadilah, kini, koleksi kartu di dompet saya
bertambah satu: SIM A keluaran Polda Metro Jaya.

Hari Minggu kesokan harinya, saya
kembali menjalani kursus mengemudi. Kali ini dengan SIM A berbekal
di saku, dan mengajak seorang teman yang berkunjung dari luar kota.
Hasilnya, meski saya didampingi Imin sebagai instruktur di bangku
depan sebelah kiri, teman itu terus berteriak, “Jo, hati-hati, aku
belum kawin…”

Sejam kemudian, kursus selesai.
Kursus mengemudi pertama dengan SIM di tangan ini berakhir dengan
sukses: saya mendaratkan mobil kursusan naik ke atas trotoar tepat
di depan sekolah mengemudi! Baik Imin maupun sahabat saya, sama-sama
meraba jantungnya yang serasa hampir copot selama 60 menit
mendebarkan itu.

     

     

     

Sabang, Saksi Keindahan Ujung Barat

Tuesday, January 1st, 2008
Koran Tempo Minggu, 20 Februari 2005

       

Perjalanan

       

Saksi Bisu Keindahan Ujung Barat

       

Lima kilometer menjelang Kilometer Nol, sampailah kami di Pos Penjagaan
Paskhas. Setiap pengunjung wajib melaporkan identitas di jalan setapak
yang ditutup palang itu.

Siang itu, giliran Pratu Puji dan
Pratu Kukuh, dua prajurit Paskhas asal Lanud Iswahyudi, Madiun, yang
bertugas jaga. Sebuah papan merah dalam warna kuning terang terpasang
di depan pos. Tulisannya keras menyapa, "Are You Ready?"

"Seminggu setelah bencana, jalan menuju Kilometer Nol ini ditutup.
Siapa pun tak boleh naik, untuk antisipasi kalau-kalau ada bencana
susulan," kenang Puji, sambil tak pernah lepas dari senapan laras
panjang SS-1 di dekapannya.

Saat itu, ia mengaku mengusir seorang pegawai kantor Perpajakan dari Jakarta
yang mencoba nekat menuju Kilometer Nol dengan mencarter ojek motor.
"Nanti kalau ada apa-apa, kami yang akan digantung," katanya
menjelaskan tindakan tegas itu.

Seharian berjaga dari pagi hingga petang tak dimungkiri membuat
prajurit itu terjerat rasa jenuh. Coretan spidol di veldbed pun menjadi
pelampiasan. "Cah Solo Hadinigrat", "Tuban Tulen", begitu antara lain
kata-kata yang mereka tuliskan.

Sebuah komik Doraemon
teronggok di rerumputan. "Kami menemukan komik itu dari laut, bersamaan
dengan datangnya empat lemari es korban tsunami," kisah Puji, pria asal
Rengel, Tuban, itu.

Semakin mendekati Kilometer Nol,
pemandangan semakin indah karena kami mulai memasuki Kawasan Taman
Wisata, yang lokasinya ditetapkan berdasarkan SK Menteri Pertanian pada
7 Februari 1982. Rerimbunan pohon ara (Ficus sp) mendominasi taman
seluas 1.300 hektare itu.

Akhirnya, pukul 14.58, sampai juga kami di monumen bersejarah itu. Tugu Kilometer Nol Indonesia dibangun di Sabang menurut
penetapan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan menerapkan Satellite Global Positioning System (GPS).

Prasastinya bertanggal 24 September 1997 ditandatangani Menteri Negara
Riset dan Teknologi/Ketua BPPT saat itu, Prof Dr Ing B.J. Habibie.

Posisi geografis Kilometer Nol Indonesia
di Sabang terletak di lintang 05º 54′ 21.42 LU dengan posisi bujur
95º13′00.50 BT dan tinggi 43,6 meter (MSL). Posisi geografisnya
terletak dalam Ellipsoid W6584.

Di sisi monumen itu terdapat
juga sebuah rumah adat sebagai tempat istirahat pengunjung, dan dua
tempat istirahat. Papan woro-woro berwarna cokelat pun terpajang
menyapa, "Anda telah tiba di Km 0 Indonesia."

Untuk memperoleh sertifikat sebagai bukti kenang-kenangan Anda telah
tiba di wilayah paling barat NKRI dan tercatat sebagai pengunjung Km 0 Indonesia, hubungi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang, Jalan T.P. Polem 0652-21513."

Secara resmi, Monumen Kilometer Nol diresmikan oleh Wapres Try Sutrisno
pada 9 September 1997, yang pembangunannya merupakan kerja sama antara
Pemda DI Aceh dan Deputi Bidang Pengembangan Kekayaan Alam BPPT.

Monumen Kilometer Nol terletak di pucuk tertinggi perbukitan, dengan
hamparan laut terbentang di seberang. Sesekali deru lalu-lalang
helikopter Chinook milik tentara Singapura ataupun Seahawk Amerika
Serikat melintas, ditambah monyet-monyet hutan yang berloncatan dari
pohon ke jalanan senyap itu.

Seekor ular hijau yang
melingkar di antara bebatuan mengagetkan kami, menegaskan area
Kilometer Nol benar-benar lokasi wisata alami.

Tegaknya
Monumen Kilometer Nol sebulan setelah bencana dahsyat yang
mencengangkan dunia, seperti menyatakan, "Jangan lupakan, Sabang masih
ada." Dunia pun menjadi tahu, pascatsunami, ujung barat Indonesia masih
tegak berdiri. jojo raharjo

Masih ada Asa Tersisa di Sabang

Tuesday, January 1st, 2008

Koran Tempo Minggu, 20 Februari 2005

 

Perjalanan

 

Sabang, Masih Ada Asa Tersisa

 

Keindahan pantai Pulau Weh masih mempesona.

  Gempa
dahsyat 8,9 skala Richter diikuti gelombang tsunami yang
meluluhlantakkan wilayah pantai barat Aceh akhir tahun lalu sempat
membuat putus arus transportasi dan komunikasi Banda Aceh dengan dunia
sekitar. Termasuk dengan Pulau Weh, pulau paling barat di peta
Indonesia. Nusa dengan 24 ribu penduduk yang masuk dalam wilayah kota
Sabang ini jadi tak jelas kabarnya.

Ketika sebagian besar kota Banda Aceh yang berada di sudut pantai barat
Samudra Indonesia hancur lebur, orang pun berpikir, Pulau Weh yang bak
noktah kecil di pusaran air besar pasti sudah tamat riwayatnya.
Terbayang pula, lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke karya R.
Surarjo bakal direvisi liriknya.

Ternyata tidak. Sabang dan segala keindahan pantai Pulau Weh masih
mempesona. Meski sedikitnya 20 nyawa penduduk pinggiran Sabang menjadi
keganasan korban tsunami, jiwa-jiwa lain dapat diselamatkan karena
tradisi kental masyarakat yang cerdik mengamati gejala alam.

Tak ubahnya penduduk Pulau Simeulue, rakyat Sabang paham betul,
datangnya gempa bumi yang menyebabkan laut kering tiba-tiba bakal
diikuti luapan gelombang dalam skala besar. Mereka pun
berbondong-bondong naik ke perbukitan sehingga banyak jiwa
terselamatkan.

Melewati reruntuhan utara Aceh Besar, beberapa waktu lalu Tempo
mengunjungi Pulau Weh. Pagi itu, sebulan pascabencana dahsyat,
Pelabuhan Malahayati di kawasan Krueng Raya masih terlelap berkalang
puing-puing bangunan korban amarah tsunami.

Depo Pertamina pun menyisakan lima kilang besar yang remuk, sebagian di
antaranya bahkan bergeser belasan meter dari tempat asalnya.

Kehidupan Dermaga Malahayati pagi itu hanya dijaga sekompi tentara
Bukit Barisan yang menjaga lalu lintas pelabuhan. Tak padat memang,
kecuali sebuah kapal pengangkut bantuan kemanusiaan terparkir di situ.

Menunggu tiga jam, akhirnya pada pukul 11.00, merapatlah KMP Cucut.
Setiap hari sekali pulang-pergi, feri asal Jakarta inilah satu-satunya
jembatan antara Pulau Weh dan Sumatera.

Sebelumnya, rute sejauh 16 mil itu dilayari dua kapal saban pagi dan
sore, ditambah sebuah kapal cepat pada hari-hari tertentu. Kini jam
kerja Cucut diawali pada pukul 8 pagi dari Pelabuhan Balohan, Sabang,
dan balik pukul 3 sore dari Pelabuhan Malahayati kembali ke pulau
legenda yang di buku-buku tua berjuluk Golden Island itu.

Yang membedakan, setelah bencana, Cucut menyeberangkan sekitar 400
penumpang setiap harinya tanpa biaya. "Kami tak tahu sampai kapan
kebijakan pelayaran gratis ini diberlakukan. Bisa jadi masih berlanjut
bulan-bulan ke depan," kata Udin, petugas angkutan sungai, danau, dan
penyeberangan (ASDP) di kapal berkecepatan 7 knot itu.

Berseragam biru muda, ia membebaskan penumpang dari tarif feri. Namun,
mereka yang membawa kendaraan tetap dipungut ongkos, Rp 10 ribu untuk
motor dan Rp 90 ribu untuk mobil.

Setelah tiga jam menyeberangi Selat Malaka dengan gelombang besar yang
membuat perut terkocok-kocok, pelabuhan bebas Sabang di Balohan
mengucapkan selamat datang.

Sebuah monumen tenggelamnya KM Gurita pada 19 Januari 1996
mengisyaratkan ganasnya selat itu. Kapal berbobot mati 146 ton, dengan
panjang 31,1 meter dan lebar 7,82 meter itu karam dan menewaskan 188
orang penumpang.

Itulah untuk pertama kalinya penduduk Aceh terserang trauma tak mau
makan ikan laut. Sebuah ketakutan yang terulang delapan tahun kemudian,
karena menganggap air laut tsunami telah memakan para kerabat mereka.

"Wow, this is a real paradise," teriak Jean-Baptiste Debard, 23 tahun,
mahasiswa asal Prancis yang tergabung dalam rombongan yang bertualang
tiga hari itu.

Daratan Sabang dengan dua kecamatannya, Sukajaya dan Sukakarya, memang
indah. Juga ramah. Restoran masakan Cina dan berbagai penginapan
sederhana di tengah kota, 15 km dari Pelabuhan Balohan, sedia melepas
kepenatan wisatawan.

Namun, pilihan terbaik tentulah menginap di kawasan pantai. Aneka
cottage di kawasan wisata Gapang, pantai Iboih, yang dibangun
Pemerintah Kota Sabang menawarkan kenyamanan yang jauh lebih nikmat
dibanding tarifnya yang hanya Rp 50-100 ribu per rumah dengan sebuah
kamar.

"Kami sedang suntuk, efek tsunami membuat sepi turis," keluh Muhamad
Nuriman, 30 tahun. Pria yang meminta dipanggil Danu itu berpenampilan
layaknya anak pantai. Bertelanjang dada, berkalung akar pohon, dengan
rambut menjuntai hingga bahu. "Penampilannya mirip Iwan Fals," kata
Rieska, petualang asal Bandung yang bersama menyambangi Sabang awal
minggu itu.

Kepedihan juga menjadi milik Tom. Pria yang tinggal bersama Nancy,
istrinya, yang aslinya warga negara Belanda. Sembilan tahun sudah
mereka menetap di Sabang, menjalankan bisnis pariwisata keindahan
menyelam. "Usaha kami praktis terhenti setelah bencana itu," tuturnya.

Ganasnya tsunami tak hanya merusak rumah-rumah di pinggir pantai Sabang
dan memakan korban jiwa 20 penduduk Pulau Weh. "Kami menemukan banyak
mayat dari luar terkirim ke pantai. Dua di antaranya penduduk
Thailand," kata Danu.

Sabang memang tak harus terus menebar sedih. Sebagai wisata andalan
Nanggroe Aceh Darussalam, pulau yang terkenal dengan wisata selam dan
terumbu karangnya itu pun masih menyisakan kenikmatan pelabuhan bebas.

Pagi hari di depan warung kopi, sebuah Toyota Corona GLi buatan 1996
warna perak terparkir angkuh. Nomor polisinya masih baru, berwarna
putih mengkilat. Menurut Iwan, operator sedan mulus itu, "Pemiliknya
teman saya. Ia membelinya tahun lalu. Tak lebih dari Rp 25 juta."

Cukuplah menambah Rp 7 juta, mobil impor asal Singapura itu pun memiliki nyawa alias STNK dari Polresta Sabang.

Tentu saja, sebagai pulau dengan tonggak tertancapnya wilayah pucuk
barat Nusantara, datang ke Sabang tanpa menginjak titik Kilometer Nol
ibarat mengunjungi Jakarta tanpa menyentuh pucuk Monas. Pagi itu,
perjalanan dimulai dari tanda waktu 10.45 Waktu Indonesia Bagian
(paling) Barat.

"Hallo, friend, apa kabar, friend…," sapa pemuda yang menikmati hari
di pintu keluar kawasan wisata Gapang, menyapa langkah kaki kami menuju
ujung barat negeri ini. Nyamannya udara laut dan rerimbunan pohon
membuat rasa malas anak muda Gapang terpelihara di tengah hari.

Tapak-tapak awal menuju Kilometer Nol dipenuhi pemandangan rumah-rumah
panggung khas Sabang, dengan tinggi pintu tak sampai semeter dari
permukaan tanah.

Seratus langkah kemudian, tampak sebuah rumah panggung hancur
berantakan, membunyikan kenangan korban bencana. "Itu rumah mantan
Kepala Polresta Banda Aceh AKBP Murhaban. Beliau memang berasal dari
Sabang," kisah Jalil, 53 tahun, penunggu rumah itu yang kini terpaksa
mengungsi.

Selang 3 kilometer, kami dikagetkan dengan tanda asterisk (*) yang
dicat besar di dua batang pohon. Wah, wah… jangan-jangan, ini
petunjuk tanaman, pikir kami. Tak ada waktu menyelidik lebih lama.

Perjalanan menuju ujung bumi pertiwi harus kembali dilanjutkan. Hutan
bakau di kanan jalan bercampur dengan reruntuhan rumah yang tersapu
tsunami. "Seperti baru kemarin saja bencana itu," itulah kesan yang
timbul.

Masuk kilometer 7,700, sebuah mobil PLN bersandar di tepi jalan. Dua
teknisi bekerja keras memulihkan padamnya listrik. "Bukan karena
tsunami, tapi karena angin kencang yang semalam menerpa," kata seorang
di antara mereka.

Seratus meter kemudian, kami mampir di sebuah rumah nomor 9 di lingkungan Ling Lhoet, Kelurahan Iboih.

Pemandangan alami seorang nenek tua yang tekun menjahit sebuah kain
berwarna merah menarik perhatian kami untuk menepi. Di dalam ruang tamu
terpasang pigura kaligrafi, berdampingan dengan kalender bergambar
capres Wiranto.

Radio biru bertenaga listrik menjadi hiburan di ruang keluarga. Dua
tandan pisang tergeletak di atas tangga rumah panggung setinggi 150 cm
dari tanah itu, mendampingi rindangnya pohon asoka di pelataran.
"Menjahit untuk alas tidur," kata Nenek Sapiyah yang mengaku sudah
melewati 70 tahun umur kehidupan di bumi ini.

Berjalan lagi satu kilometer, kami sampai di kantor Kelurahan Iboih,
Kecamatan Sukakarya. Seperti juga nama-nama petunjuk jalan lainnya,
papan nama kantor kelurahan itu ditulis dalam dwibahasa: huruf Latin
berbahasa Indonesia dan huruf Arab.

Dalam kepedihan, para pengungsi tetap bisa berbagi hati. Dengan suka
hati, seorang pemuda memanjat pohon kelapa, lalu mempersilakan kami
menikmati lima butir kelapa muda sebagai bekal melanjutkan perjalanan.

Pada perjalanan sekembali dari Monumen Kilometer Nol di petang harinya, keramahan para pengungsi itu makin menjadi.

Sabang memang tanah emas yang indah. Tak hanya kaya keindahan alam dan bangunan bersejarah, tapi juga welas asih penduduknya. jojo raharjo