Kekalahan Misterius Pace Papua

Persipura kembali kandas di partai puncak turnamen sepakbola Indonesia. Menyisakan semangat, pertanyaan, dan pelajaran moral.

Pentas Copa Indonesia berakhir di Stadion Utama Gelora Bung Karno, tadi malam. Sriwijaya FC Palembang keluar sebagai juara setelah menaklukkan tim “Mutiara Hitam” Persipura Jayapura 4-1 lewat adu penalti, setelah dalam waktu normal dan perpanjangan waktu skor imbang 1-1.

Lebih dari lima ribu “pace-pace” Papua yang datang langsung ke Senayan harus pulang dengan kecewa. Saya yang berada di tribun media stadion megah berkapasitas 78 ribu orang ini menjadi saksi, betapa para pendukung Persipura kembali harus mengubur impiannya, setelah dua tahun berturut-turut kandas di partai puncak Copa Indonesia.

Sebelum partai semifinal Copa Indonesia digelar Kamis, 10 Januari lalu, merebak isu di kalangan jurnalis olahraga ibukota. Isu ini menyodorkan “skenario PSSI” tentang adanya pembagian gelar juara Copa dan Liga  Indonesia. “Kalau Persija juara Copa, maka Sriwijaya juara Liga  Indonesia. Begitupula sebaliknya,” demikian kabar-kabur itu beredar. Adapun partai final Liga  Indonesia sendiri baru akan berlangsung dua pekan mendatang, 27 Januari di tempat yang sama, setelah sebelumnya mulai 16 Januari lusa berlangsung babak delapan besar di  Kediri dan Solo.

Benarkah demikian? Yang jelas, partai semifinal pertama Copa Indonesia lalu membuyarkan anggapan bahwa Persija akan menang mudah atas Persipura dan melangkah ke final Copa. Alih-alih balas dendam atas kekalahan di Final Liga Indonesia dua tahun lalu, Macan Kemayoran kembali termehek-mehek dipermainkan tim Mutiara Hitam itu. Hatrick Albeto Goncalvez, pemain asing Persipura yang mengawali karirnya sebagai pemain bola jalanan di Brasil, memungkasi perlawanan tim kaya ibukota. 3-2, Persipura maju ke final.

Setelah susah payah mengandaskan Pelita melalui adu penalti, Sriwijaya membunyikan anggapan bahwa skenario itu setidaknya masih ada. Laskar “Wong Kito” menunggu Persipura di partai pungkas, yang diyakini sebagai final ideal, mengingat masing-masing tim merupakan pemimpin klasemen di Wilayah Bara dan Timur Liga Indonesia.

Para pemain dan pendukung Persipura datang dengan kepercayaan diri. Meski kalah secara jumlah, sebuah fakta yang sama seperti saat tampil di semifinal menghadapi Jakmania, para pendukung Persipura tidak kalah gigi. Sebuah kain rentang putih mereka bentang di antara Sektor 21-22 stadion, “Vini Vidi Vici, Persipura Menang”, identitasnya, dari masyarakat Papua di kawasan Tanah Abang.

Sepanjang laga, para fans Persipura tampil kreatif dan simpatik. Beberapa orang mengenakan topi dari bulu burung cenderawasih, laksana kepala suku di provinsi paling timur Indonesia itu. Sisanya, menggunakan seragam merah hitam yang bisa dibeli di kaki lima sekitar stadion seharga 20 ribu rupiah. Kalau tak mampu beli kaos, mereka memakai kostum apapun, asal ada unsur merah hitamnya, seperti sebagian orang yang membela Persipura dengan berbalut kostum AC Milan dan Liverpool.

Lagu-lagu gereja mereka gubah menjadi pemicu perjuangan Eduard Ivak Dalam dan kawan-kawan. “Dalam Tuhan, ada kemenangan… Dalam Tuhan ada kemenangan, sekarang dan selamanya…”, “Maju Laskar Kristus..”, “Kumenang-kumenang, bersama Yesus Tuhan, kumenang-kumenang di dalam peperangan…” dan berbagai lagu lain yang dinyanyikan bersama-sama dengan kompaknya.

Sekali mereka sempat bentrok dengan polisi-polisi muda yang berjaga di dekat pagar, saat Sriwijaya sukses menyamakan skor lewat penalti Kith Kayamba. Namun, setelah itu situasi kembali terkendali. Setiap ada botol minuman terlempar ke lapangan, dirijen lagu yang nangkring di atas pagar segera memarahi rekan-rekannya.

Sayang, perjuangan Persipura kandas oleh satu kata:mental. Mereka gagal menjadi yang terbaik karena kalah secara psikologis. Permainan cantik satu dua sentuhan Beto, Ernest Jeremiah yang mendapat pasokan umpan jadi dari kapten Edu Ivakdalam, Paolo Rumere, dan David Darocca selalu kandas melawan kesabaran Renato Eliyas dan kawan-kawan. Pemain Persipura seakan meremehkan Sriwijaya, yang mereka nilai kelasnya di bawah Persija yang bisa dilumat tanpa ampun.

Puncaknya ya itu tadi. Adu penalti. Tiga eksekusi penalti Persipura tak ada yang masuk. Satu oleh “legenda hidup” sekaligus kapten mereka, dan dua oleh pemain asing andalan. Dua selesai di pelukan kiper Sriwijaya, dan satu tendangan melambung ke langit Jakarta. Maka, tim instan bermodal puluhan milyar dari APBD Sumsel itu –termasuk dana awal Rp 6 miliar untuk mengganti nama Persijatim  Jakarta Timur menjadi Sriwijaya FC- pun jadi juara Copa 2007-2008.

Persipura kena suap? Entahlah. Seperti lagu lama, ngomong soal suap seperti membicarakan kentut.  Ada bau, tak ada bukti. Saya lebih cenderung menyatakan kegagalan ini adalah soal mental. Ya soal mental meremehkan, mental kepala dingin untuk jadi juara, dan mental untuk berpikir, tanpa hanya  andalkan otot-otot orang-orang yang memang terkenal “tidak punya pusar” itu. Maka, seorang pendukung Persipura yang ada di samping saya berteriak kencang, “Main pakai otak!”

Saya pun teringat pada peristiwa delapan tahun lalu. Saat rekan Sonny Saragih mengumpulkan anak-anak Papua di Surabaya dan membentuk tim sepakbola khusus. Mereka dilatih di Lapangan Thor Indragiri dan sesekali berujitanding di Lapangan Stiesia, Menur. Untuk memancing semangat mereka, Sonny dan rekan-rekannya sampai memutar keras-keras lagu daerah Papua di pinggir lapangan Stiesia.

Hasilnya? Tetap kalah. Semua membuktikan, kerja pakai otot dan semangat perlu. Tapi otak jauh lebih penting lagi. Dan, di atas itu semua adalah soal mental alias karakter. Cerita soal ini sudah terlalu banyak. Berapa banyak anak muda hebat Papua yang berantakan karir bolanya karena terbiasa mabuk-mabukan, dan main perempuan. Bahkan, seorang Ortizan Salosa saat terpanggil mengikuti Pelatnas PSSI pun sempat kabur tanpa alasan jelas.

Pemain Persipura tak punya banyak waktu jedah. Mereka harus segera terbang ke Solo, memainkan lakon babak 8 besar Liga Indonesia. Moral storynya, kalau tak ingin orang-orang kawasan timur Indonesia terus “dibohongi” orang Jawa dan rekan-rekan dari barat lainnya, segera benahi otak dan mental. Itu saja kunci suksesnya.

Leave a Reply