Mengurus SIM di Polda Metro: Sambil Merem pun Bisa
Mengurus
SIM di Polda Metro: Sambil Merem pun Bisa
Oleh:
Jojo Raharjo
Akhirnya, saya kini menggenggam SIM A
terbitan Polda Metro Jaya. Dan, saya sama sekali tidak merasakannya
sebagai sebuah kemewahan.
Saya awali kisahnya saat mendaftar ke
sebuah kursus mobil di kawasan Benhil, tepat di depan RSAL
Mintoharjo, Jakarta Pusat. Petugas resepsionis sekolah mengemudi yang menyewa sebuah
rumah petak itu menyodorkan list jenis dan biaya kursus, berbeda-beda
menurut tingkat kecakapan (memperlancar atau kursus dasar), hari
kursus (weekend atau weekdays) dan layanan mobil yang digunakan (AC
or non AC).
“Saya belum bisa nyetir sama sekali,
mbak,” kata saya.
Selain perempuan front office itu,
seorang laki-laki tampak tiduran di meja pendaftaran dengan
santainya.
“Wah, kalau itu ya mulai dari dasar,”
jawab mbak penjaga sambil mengarahkan tangan ke list seharga lebih
dari Rp 1 juta. Itu paket termahal, karena merupakan paket dasar
dengan 16 kali pertemuan masing-masing 1 jam, kelas sabtu-minggu,
dengan mobil berpendingin ruangan. Belum termasuk biaya mengurus SIM
Rp 505 ribu.
“Oke, saya ambil ATM dulu ya,”
pamitku.
Sampai di parkiran, lelaki yang tadi
bersantai di meja pendaftaran mengejarku. Ia mengenalkan namanya,
Imin, salah seorang instruktur mobil di kursusan itu. “Nanti
kursusnya sama saya saja, mas,” kata Imin, pria asal Jawa Tengah
yang sudah merasa sebagai Betawi Pejompongan.
Intinya, ia menawarkan sebuah
“kerjasama” menarik.
“Ngapain ikut 12 atau 16 kali
pertemuan. Udahlah, sama saya saja, ikut yang 6 kali. Ditanggung
bisa, asal tipnya digedein” katanya.
Untuk paket paling murah di weekend
class, dengan 6 kali mentoring, ongkosnya Rp 400-an ribu, ditambah
biaya pendaftaran Rp 20 ribu. Untuk setiap pertemuan, ada kewajiban
memberikan tip kepada instruktur, antara Rp 7.500 sampai Rp 12.500,-
tergantung kelas yang diikuti. Kami sepakat mematok angka tip Rp 20
ribu.
“Terus, ngomongnya jangan yang pakai
AC. Coba hitung berapa selisih pakai mobil AC dan non AC?” tanyanya.
Otakku berputar cepat, sebelum
kemudian menjawab “Rp 120 ribu.”
“Nah, kasih aja separohnya buat
saya. Nanti, mas bilangnya pakai paket non-AC,” katanya.
Begitulah, sesuai kesepakatan dengan
Imin, esoknya saya sudah menjalani kursus hari pertama. Saat dilepas
bapak si empunya kursus, kaca mobil masih terbuka. Namun 100 meter
kemudian, kami menepi, menutup kaca mobil, dan menyalakan pendingin
ruangan. “Dasar, Indonesia, semua bisa diatur,” umpatku.
Tiga kali pertemuan menjalani kursus,
dari paket enam kali pertemuan, saya menghadap ibu pemilik kursusan.
Ingin mendaftar SIM kolektif.
“Oh, tidak apa-apa, Jojo… Meski
kursus belum selesai, boleh kok Jojo mendaftar ujian SIM. Yang
penting bayar Rp 505 ribu. Di sini SIM kolektif hanya tiap Sabtu ya,”
kata ibu 50-an tahun ini dengan genitnya.
Maka, Sabtu, 15 Desember menjadi hari
bersejarah ketika jam 9 pagi saya sudah berdesakan di mobil kijang
hitam berstiker “Sekolah Mengemudi”. Berdelapan, kami berangkat
menuju Satlantas Polda Metro Jaya di Daan Mogot. “Dari cabang
Benhil ini hanya 8 orang. Tapi, jangan kuatir, di sana temannya
banyak, kok,” pesan ibu genit tadi sebelum melepas kami.
Benar juga, sampai di parkiran
Satlantas Daan Mogot, ternyata rekan senasib kami, dari berbagai
cabang kursus mobil bernama sama di seantero Jakarta, ada 170 orang.
Tak heran, saat bergerombol menuju ruang pendaftaran, para makelar
SIM berteriak, “Oh, ini neh rombongan pengantinnya…” Anjrit!
Sejak dari luar gedung, di tepi jalan
Daan Mogot, para calo itu sudah mengintai mangsa. Bahkan, aksi “biro
jasa” ini pun sampai ke mbak-mbak penjaga kantin. “Udah ada yang
bantu, mas?” kata pelayan di warung makan dalam komplek pelayanan
SIM menyapaku. Padahal, sebuah baliho besar terbaca menyolok mata,
“Hindari Pengurusan SIM lewat Perantara/Calo”.
Kembali ke parkiran. Saat briefing
sesama calon peserta ujian SIM, bapak pemilik cabang kursusan Benhil
memberikan nomer ponsel seorang “anggota polisi” yang dapat
dihubungi kalau kami menemui kesulitan. “Bapak ini akan menolong
kalian. Ia ada di dalam,” katanya seusai mendiktekan nomer CDMA
itu.
Kami melangkah masuk ruang kaca
menjelang ujian teori, lalu menukar KTP dengan pass bertuliskan
“Tanda Masuk Pemohon SIM”. Di dalam ruangan ujian, polisi penjaga
ruangan mengatakan, ada 30 soal ujian teori. Untuk bisa lulus,
peserta ujian harus menjawab minimal 18 jawaban benar. Ia lalu
berteriak, “Mana yang bukan dari sekolah mengemudi?” Beberapa
orang mengacungkan tangan, lalu maju dan mendapat soal ujian.
Sisanya, peserta ujian lain yang tidak
mengangkat tangan, termasuk saya, mendapat soal ujian yang diedarkan
petugas. Well, soal berukuran kertas dobel folio dilaminating itu
telah penuh berisi coretan bolpoin di atas plastik laminating. Dari
tiga atau empat jawaban pilihan berganda misalnya, sudah ada kode
mana jawaban yang benar. Tak butuh waktu lama, saya kumpulkan jawaban
soal mengenai berbagai peraturan lalu-lintas itu.
Saat tak sabar menunggu lama proses
selanjutnya, saya sempatkan menelpon bapak polisi bernomer CDMA tadi.
“Sabar saja, mas… Nunggu saja di depan loket foto. Abis ini ujian
praktek,” katanya. Berkali-kali dari pengeras suara terdengar suara polwan
berseru memanggil beberapa nama yang telah mengikuti ujian teori, “Bagi nama-nama berikut, peserta ujian teori yang masih
ada kendala, harap masuk. Akan kami arahkan…” Tak ada nama saya
disebut.
Singkatnya, saya pun telah
berpanas-panas di depan lapangan tempat ujian praktek digelar.
Seorang instruktur ujian dari Polda menerangkan apa saja yang akan
diujikan, sesuai kertas panduan yang kami pegang. Ada 18 item
tes untuk dilakoni, termasuk tes menanjak, menikung, berputar, parkir,
dan lain-lain. Dengan logat Batak ia berteriak, “Kalian relakan
saja ya, hari ini berpanas-panas di sini,” katanya (sok) memlonco.
Nama
saya dipanggil bersama tujuh
orang lain untuk melakoni giliran ujian praktek mengemudi. Kembali
berdesakan di Mobil Kijang, seperti
saat berangkat ke Daan Mogot, saya memilih di kursi belakang.
Instrktur di kursi depan mobil berkata, “Karena waktunya pendek,
pesertanya banyak, nanti jalan lima meter-lima meter saja, ya. Langsung
keluar, gantian… Kalau mau pakai mobil yang lama, nanti
malam saja sambil Malam Mingguan, kalau sudah punya SIM. Di sini panas,
kasian teman-temannya..”
Hmmm… maka ujian praktek formalitas
pun berlangsung. Tak lebih lima menit untuk tiap orang.
Tiba giliran saya, ups… baru angkat
kopling, mesin mati. “Makanya, kalau narik kopling jangan langsung,
separuh aja,” kata pak instrukur dengan gaya jaimnya.
Baru beberapa meter mobil melaju, saya
disuruhnya keluar, “Udah, udah gantian…” Eh, saking terburunya,
saya lupa menetralkan persneling. Bapak polisi ini melotot lagi,
“Dinetralin dulu dong, jangan keburu kabur…”
Usai ambil pose di ruang foto, kami
terdampar di ruang tunggu. Berbagai poster terpasang di sana, salah
satunya berbunyi, “No Say: SIM asal-asalan…” Sekali lagi,
selamat datang di republik jargon.
Ingatan saya melayang saat
seorang teman menceritakan sulitnya proses mendapatkan SIM di
Australia. Sambil memegang kemudi di Bruce Highway yang
menghubungkan Brisbane dan Sunshine Coast, kawan ini bercerita,
ujian SIM di Oz tak cukup teori dan praktek di kantor polisi. “Calon pemilik SIM
harus menjalani praktek mengemudi selama beberapa ratus jam
berbulan-bulan di jalan raya, dengan didampingi rekannya yang telah
memiliki SIM cukup lama. Jadi, kalau ada apa-apa, temannya itu jadi
jaminan,” paparnya. Hmmm… lain ladang lain belalang, lain lubuk,
lain ikannya. Di sini, untuk bisa dapat SIM A, ibaratnya, sambil
memejamkan mata pun bisa. “Jangan kuatir, mas. Tak ada cerita
orang dari kursusan sini gagal dapat SIM. Sekalipun ia tidak bisa
menstarter mobil, pasti SIM akan keluar,” omongan Imin itu
membekas di memori otak saya.
Hampir 14.30 Waktu Jakarta, atau
sekitar lima jam dari kedatangan awal saya di Satlantas Daan Mogot,
nama saya dipanggil. Jadilah, kini, koleksi kartu di dompet saya
bertambah satu: SIM A keluaran Polda Metro Jaya.
Hari Minggu kesokan harinya, saya
kembali menjalani kursus mengemudi. Kali ini dengan SIM A berbekal
di saku, dan mengajak seorang teman yang berkunjung dari luar kota.
Hasilnya, meski saya didampingi Imin sebagai instruktur di bangku
depan sebelah kiri, teman itu terus berteriak, “Jo, hati-hati, aku
belum kawin…”
Sejam kemudian, kursus selesai.
Kursus mengemudi pertama dengan SIM di tangan ini berakhir dengan
sukses: saya mendaratkan mobil kursusan naik ke atas trotoar tepat
di depan sekolah mengemudi! Baik Imin maupun sahabat saya, sama-sama
meraba jantungnya yang serasa hampir copot selama 60 menit
mendebarkan itu.
January 1st, 2008 at 9:41 pm
ingrates! kamu yg curangi sistem, eh kamu jg yang menertawakan sistem yang buruk di Indonesia. kalau kamu idealis, harusnya kamu ikuti kursus yg bener, terus ambil sim sesuai prosedur.
January 1st, 2008 at 9:50 pm
walah..walah…mau pindah jalur Pak? Ati-ati..setirnya dikanan, bukan di kiri..
February 16th, 2008 at 4:30 am
Negara ini memang bagaikan syurga bagi siapapun yg punya duit duit duit..
October 15th, 2008 at 11:38 pm
Disiplin harus dimulai dari diri sendiri, saya menikah dengan warga negara jerman..dari dia saya belajar banyak tentang kedisiplinan,..dan kita HARUS belajar dan menerapkan pada diri sendiri dulu, kalau anda saja tidak bisa memulai dari diri sendiri bagaimana Bangsa ini bisa displin.!
October 15th, 2008 at 11:42 pm
Dan saya setuju dengan komentar Danny di atas…Anda sudah tahu dan menertawakan sistem yang jelek ini, tapi kenapa anda tidak bertindak malah BAHAGIA akhirnya pulang dengan membawa SIM.!!