Sabang, Saksi Keindahan Ujung Barat
Perjalanan
Saksi Bisu Keindahan Ujung Barat
Paskhas. Setiap pengunjung wajib melaporkan identitas di jalan setapak
yang ditutup palang itu.
Siang itu, giliran Pratu Puji dan
Pratu Kukuh, dua prajurit Paskhas asal Lanud Iswahyudi, Madiun, yang
bertugas jaga. Sebuah papan merah dalam warna kuning terang terpasang
di depan pos. Tulisannya keras menyapa, "Are You Ready?"
"Seminggu setelah bencana, jalan menuju Kilometer Nol ini ditutup.
Siapa pun tak boleh naik, untuk antisipasi kalau-kalau ada bencana
susulan," kenang Puji, sambil tak pernah lepas dari senapan laras
panjang SS-1 di dekapannya.
Saat itu, ia mengaku mengusir seorang pegawai kantor Perpajakan dari Jakarta
yang mencoba nekat menuju Kilometer Nol dengan mencarter ojek motor.
"Nanti kalau ada apa-apa, kami yang akan digantung," katanya
menjelaskan tindakan tegas itu.
Seharian berjaga dari pagi hingga petang tak dimungkiri membuat
prajurit itu terjerat rasa jenuh. Coretan spidol di veldbed pun menjadi
pelampiasan. "Cah Solo Hadinigrat", "Tuban Tulen", begitu antara lain
kata-kata yang mereka tuliskan.
Sebuah komik Doraemon
teronggok di rerumputan. "Kami menemukan komik itu dari laut, bersamaan
dengan datangnya empat lemari es korban tsunami," kisah Puji, pria asal
Rengel, Tuban, itu.
Semakin mendekati Kilometer Nol,
pemandangan semakin indah karena kami mulai memasuki Kawasan Taman
Wisata, yang lokasinya ditetapkan berdasarkan SK Menteri Pertanian pada
7 Februari 1982. Rerimbunan pohon ara (Ficus sp) mendominasi taman
seluas 1.300 hektare itu.
Akhirnya, pukul 14.58, sampai juga kami di monumen bersejarah itu. Tugu Kilometer Nol Indonesia dibangun di Sabang menurut
penetapan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan menerapkan Satellite Global Positioning System (GPS).
Prasastinya bertanggal 24 September 1997 ditandatangani Menteri Negara
Riset dan Teknologi/Ketua BPPT saat itu, Prof Dr Ing B.J. Habibie.
Posisi geografis Kilometer Nol Indonesia
di Sabang terletak di lintang 05º 54′ 21.42 LU dengan posisi bujur
95º13′00.50 BT dan tinggi 43,6 meter (MSL). Posisi geografisnya
terletak dalam Ellipsoid W6584.
Di sisi monumen itu terdapat
juga sebuah rumah adat sebagai tempat istirahat pengunjung, dan dua
tempat istirahat. Papan woro-woro berwarna cokelat pun terpajang
menyapa, "Anda telah tiba di Km 0 Indonesia."
Untuk memperoleh sertifikat sebagai bukti kenang-kenangan Anda telah
tiba di wilayah paling barat NKRI dan tercatat sebagai pengunjung Km 0 Indonesia, hubungi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang, Jalan T.P. Polem 0652-21513."
Secara resmi, Monumen Kilometer Nol diresmikan oleh Wapres Try Sutrisno
pada 9 September 1997, yang pembangunannya merupakan kerja sama antara
Pemda DI Aceh dan Deputi Bidang Pengembangan Kekayaan Alam BPPT.
Monumen Kilometer Nol terletak di pucuk tertinggi perbukitan, dengan
hamparan laut terbentang di seberang. Sesekali deru lalu-lalang
helikopter Chinook milik tentara Singapura ataupun Seahawk Amerika
Serikat melintas, ditambah monyet-monyet hutan yang berloncatan dari
pohon ke jalanan senyap itu.
Seekor ular hijau yang
melingkar di antara bebatuan mengagetkan kami, menegaskan area
Kilometer Nol benar-benar lokasi wisata alami.
Tegaknya
Monumen Kilometer Nol sebulan setelah bencana dahsyat yang
mencengangkan dunia, seperti menyatakan, "Jangan lupakan, Sabang masih
ada." Dunia pun menjadi tahu, pascatsunami, ujung barat Indonesia masih
tegak berdiri. jojo raharjo