Bila Suami Ngidam

July 2nd, 2007 by jojoku

Koran Tempo

Minggu, 01 Juli 2007

keluarga

Pria Ngidam? Rhuaar Biasa…

Merupakan bentuk kecemasan, kepedulian, juga empati.

Bukan hal yang aneh kalau sebagian besar wanita mengidam di masa kehamilan trisemester pertama. Ada yang intensitasnya ringan, sedang, dan berat. Perilaku ini ternyata bukan monopoli kaum Hawa. Berdasarkan penelitian di Inggris, terbukti para pria juga banyak yang mengidam. Keluhan-keluhan seperti mual, hilangnya nafsu makan, bahkan juga keinginan yang kuat untuk mengkonsumsi satu jenis makanan tertentu justru muncul pada sang calon ayah.

Inilah yang dialami oleh Jojo Rahardjo, yang sehari-hari bekerja sebagai wartawan di sebuah media elektronik di Jakarta. Saat sang istri hamil beberapa waktu lalu, mendadak Jojo jadi gemar makan.

"Tapi bukan buah, pengen-nya makan yang enak-enak," ujar pria yang selalu mengajak serta sang istri setiap kali punya keinginan makan macam-macam itu. "Kami baru sadar setelah tahu pengeluaran pada minggu lalu cukup besar," dia melanjutkan diiringi tawa.

Jojo sendiri tercengang-cengang dengan selera makannya. Dalam satu hari setelah datang ke resepsi pernikahan temannya, ia masih sanggup menyantap setumpuk besar burger. Lelaki berusia 29 tahun ini tak menyesal meski kegemaran barunya menguras isi kantong. "Hitung-hitung menyenangkan istri dan calon anak," ucapnya santai.

Keinginan yang meluap-luap juga menyerang Christ Tree Asa, 26 tahun, asisten manajer perusahaan sarung tangan. "Aneh, tiba-tiba saya kepingin sekali makan buah yang asam dan segar," kata pria yang tinggal di Yogyakarta, yang sebenarnya tak suka buah rasa asam, ini.

Uniknya, kalau apa yang dimaui belum terlaksana, perasaannya jadi tertekan. "Seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal," tuturnya. Tak jarang Christ sampai sulit tidur memikirkan keinginannya. Nah, daripada jadi masalah, sebelum berangkat ke kantor di pagi hari, ia rela menyusuri pasar demi memenuhi hajatnya.

Di kalangan awam, apa yang dialami Jojo dan Christ sebenarnya bukan hal baru. Masyarakat menganggap kondisi seperti itu ada kaitannya dengan tuntutan si jabang bayi agar lebih diperhatikan. Meski istilah mengidam tidak dikenal dalam dunia medis, sebuah survei di Inggris membenarkan bahwa peristiwa tersebut memang ada dan sering terjadi.

Sejauh ini, penyebabnya memang belum diketahui. Namun, sejumlah ahli menduga hal itu ada hubungannya dengan rasa cemas. "Menjadi seorang ayah adalah pengalaman baru, yang mungkin membawa kecemasan," ungkap Anna Surti Ariani, Psi.

Menurut psikolog yang praktek di Medicare Clinic, Jakarta, itu, kecemasan yang dirasakan para pria umumnya terekspresi dalam bentuk mengidam. "Meski bisa juga kondisi itu sebagai bentuk empati terhadap kehamilan istri," kata Nina, panggilan akrab Anna Surti Ariani.

Para peneliti di St George’s University, London, belum lama ini melakukan penelitian tentang fenomena mengidam pada pria yang dikenal dengan nama sindrom couvade–berasal dari bahasa Prancis, "couver", yang berarti menetas.

Penelitian ini melibatkan 282 narasumber berusia 19-55 tahun yang mengidap sindrom couvade. Semuanya dipantau sejak istri mereka yang sedang mengandung berkunjung ke Rumah Sakit St George’s hingga datang masa melahirkan.

Beragam keluhan disampaikan calon ayah tersebut, dari kram, sakit punggung, suasana hati berubah-ubah, kurang nafsu makan, mengidam makanan tertentu, morning sickness, kelelahan, depresi, pingsan, insomnia, dan sakit gigi. Setelah diperiksa, ternyata tak ditemukan masalah fisik pada calon ayah tersebut

Menurut Nina, berbagai keluhan itu memang tidak terkait dengan masalah fisik. Tapi, "Kondisi emosional yang tak bisa diprediksi kehadirannya," tuturnya. Ia mencontohkan, ada pria yang tidak begitu suka kepada anak-anak. Giliran istrinya hamil, perasaan itu hilang dengan sendirinya.

Di sisi lain, seorang calon ayah yang suka kepada anak-anak serta punya pengetahuan banyak soal kehamilan dan proses kelahiran malah mengalami sindrom couvade selama istrinya mengandung. Kenapa? Pertama, yang dihadapi adalah anaknya sendiri. Kedua, "Mengetahui tidak sama dengan mengalami," Nina, yang juga ibu dua anak itu, menambahkan.

Dalam survei yang dilakukan di Inggris terungkap para pria pengidap sindrom couvade mulai menderita di bulan-bulan awal kehamilan istrinya. Beberapa yang lain merasakan masalah bersamaan dengan pertumbuhan janin hingga saat melahirkan. Sebagian lagi menyebutkan keluhan muncul setelah kelahiran.

Dr Arthur Brennan, peneliti senior di St George’s, yang memimpin penelitian, menyebutkan, dia juga pernah mengalami sindrom yang sama. "Gejala ini memang terjadi begitu saja," kata ayah dua anak ini. Masalahnya, sering kali para pria tidak tahu apa yang terjadi sehingga keluhan mereka tidak ditangani sebagaimana mestinya. utami widowati |eko ari wibowo | bbcnews

Bukan Ukuran Pria Macho

  • Kecemasan yang dicetuskan dalam bentuk perilaku mengidam pada pria merupakan kondisi emosional yang tak ada hubungannya dengan ke-macho-an ataupun apakah seorang pria suka kepada anak-anak atau tidak.
  • Mengidam juga tak berhubungan dengan seberapa jauh pengetahuan pria tentang proses kehamilan dan kelahiran.
  • Mengidam bisa terjadi kapan saja, tak melulu pada kehamilan pertama. Jadi tak perlu heran jika justru pria mengidam pada kehamilan yang kedua, ketiga, dan seterusnya.
  • Meski tak menyenangkan, terima dan nikmati saja perasaan-perasaan tersebut. Namun, jika mengganggu aktivitas, berkonsultasilah dengan psikolog ketika dokter tak menemukan indikasi medis atas gangguan fisik.

jojosalvatore@yahoo.com mengalami kerusakan …..

June 28th, 2007 by jojoku

Hari ini email jojosalvatore@yahoo.com tidak dapat dibuka. Diutak-utik pun tidak bisa. Bahkan ketika, istri saya menghubungi kenalannya di support yahoo juga tidak memperoleh hasil. " Ya begitu kalau free mail," kata seorang teman di yahoo.

Mau tidak mau, harus membuat email baru. Alamat email yahoo dan ID Yahoo messenger Jojo Raharjo berpindah ke :

jojoraharjo@yahoo.com

ID YM : jojoraharjo

Dengan berat hati, harus mencari alamat teman-teman. Monggo diubah untuk alamat yahoo Jojo.

Menanti Desember 2007

May 14th, 2007 by jojoku

Beberapa bulan lalu, Celi agak bertingkah aneh. Tiba-tiba saja, dia menangis  karena tidak diajak teman-teman kantornya makan siang. Bukan itu saja, dia juga menangis kala mau saya tinggal pergi malam hari ke Kantor Ajijak Pancoran. Biasanya tidak begitu ….

Pikirku, mungkin dia masih sedikit perlu adaptasi sehabis USG di RSAB. Harapan Kita. Maklum, Celi masih kontrol setelah operasi myom bulan Oktober 2005 lalu. Pemeriksaan 3 Maret lalu agak sakit karena memakai USG Transvaginal, yang konon sangat ditakuti Celi. Walaupun dimarahin dokter, aku menyusup masuk ke ruang USG untuk menemaninya. Alhasil, aku bisa melihat dengan jelas raut muka dua dokter perempuan itu sewaktu mereka memperhatikan layar monitor USG.

Beberapa saat, dokter Karmini - dokter yang sudah menangani Celi sejak Okt 2005 - mengatakan ada masalah pada sel telur. Dan, Celi disarankan untuk meminum obat Profertil pada hari ketiga mens bulan Maret. Kami menghitung jadwalnya jatuh pada 26 Maret 2007. Hemm, obat apa lagi ini … kami pun giat mencari tahu perihal obat itu plus harganya. Lumayan juga. Resep masih disimpan menunggu jadwal minum yang tepat.

Ketika waktu minum obat akan tiba, Celi masih belum dapat "tamunya". Mungkin mundur, pikirku. Kebetulan, ada seorang teman yang memberi tes pack. Iseng lah, kami coba. Hasilnya ? Negatif !

Ditunggu lagi … tapi belum juga muncul tamunya. Karena desakan saudara, akhirnya, dites lagi.   Eureka … ! hasilnya positif.

Dua hari setelah tes tepatnya 4 April, kami kembali ke RSAB. Harapan Kita. " Kok formulirnya ini Mbak. Ini khan form MR untuk ibu hamil," kira-kira begitu kata dokter Karmini begitu kami masuk ruangannya. Dia pun heran. Hehehehe … dokter juga manusia.

Setelah kami menjelaskan, Celi langsung diperiksa lagi. Sewaktu USG, tidak ada kantung kehamilan pada rahim istriku. Kemudian diulang lagi dengan USG Transvaginal. " Lagi ? ", kata Celi. Selama 20 menit diperiksa dokter belum menemukan adanya janin. Kami beristirahat dulu, sambil minum dan ngemil di selasar.

Celi mengajak berdoa sebentar di pojokan ruang tunggu apotek. Sudah hampir 3 jam diperiksa gak ada hasil. Pas kebelet pipis, Celi masuk lagi ke ruang USG. Ternyata ditemukan, ada dua kantung kehamilan di rahim. Sedangkan janin berada di kantung kehamilan sebelah kanan. " Normal gak Dok ?", teriak Celi. Dokter menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan variasi, jarang yang punya. Duh ..duh ..duh …

Sekarang, kami berusaha menjaga kehamilan pertama Celi. Sampai awal Desember 2007, waktunya melahirkan. Hemm, akhirnya keinginan mempunyai anak pas sewaktu Natal 2007 hampir tercapai. Semoga sehat ya Nak ………

Enam Minggu di Surga Sunshine Coast

February 13th, 2007 by jojoku

Koran Tempo, Minggu 12 Februari 2007 Minggu, 11 Februari 2007

Perjalanan

Enam Minggu di Surga Sunshine Coast

Berwisata ke wilayah pantai yang tenang di Australia.

"Selamat datang di kota kecil kami, Sunshine Coast. Inilah kawasan wisata utama di Queensland," kata Stuart Cranney sembari mengulurkan tangannya. Pria 24 tahun yang tampak lebih tua dari usianya itu menjadi pemandu selama enam minggu menjelajahi surga di Benua Kanguru.

Terletak 100 kilometer arah utara Kota Brisbane, Sunshine Coast merupakan salah satu kawasan di Queensland yang memang terkenal dengan obyek turisme andalan. Pantai-pantainya yang bersentuhan langsung dengan bibir Pasifik, terutama Maroochydore Beach dan Alexandra Headland, menjadi favorit pencinta selancar air. Pada saat-saat tertentu, pantai ini membawa ombak yang diyakini sebagai salah satu gelombang terbaik di dunia.

Dataran tinggi Sunshine Coast juga menjanjikan pesona menawan. Sesekali mendakilah ke Mount Coolum, menyaksikan hamparan laut terbentang dari sana. Ada juga Glass House Mountains di sebelah barat Jalan Tol Bruce Highway yang namanya diberikan langsung oleh James Cook, kala penemu Benua Australia itu melihat gundukan gunung serupa gelas raksasa dari kapalnya, HM Bark Endeavour, pada 1770.

Selain kecantikan alamnya, Sunshine Coast terasa laksana surga karena tingginya budaya penduduk serta bagaimana pemerintahan menjamin kesejahteraan mereka. Tak salah kalau angka kriminalitas di sini amat rendah. Pemerintah menanggung beban warganya, mulai tersedianya air bersih, sarana transportasi publik, sampai pembebasan biaya kesehatan dan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Air yang keluar dari keran wastafel masing-masing rumah atau yang ada di tempat-tempat rekreasi umum dapat langsung ditenggak sebagai air minum.

"Pajak yang dibayar kepada negara benar-benar kembali dengan mendatangkan manfaat bagi warga," kata Heda Bailey, perempuan asal Bandung, yang sudah delapan tahun menetap di Australia. Saat mengajak menikmati eksotisme Kings Beach di subdistrik Caloundra, ia menunjukkan keran-keran di sisi taman yang airnya langsung siap minum. Di tengah cuaca terik musim panas, sesekali, pengunjung pantai memutar keran itu, membasahi wajah, sekaligus mengalirkan airnya ke kerongkongan. Duh, segarnya.

Meski tinggal di kota antimacet, 282 ribu penduduk Sunshine Coast memiliki disiplin dan tingkat kesadaran berlalu lintas yang tinggi. Bayangkanlah situasi saat sebuah mobil tiba-tiba berhenti nyaris dua meter dari depan zebra cross, begitu mengetahui seorang pejalan kaki akan melintas di depannya. Benar-benar kehormatan tinggi bagi kaum pedestrian!

Layanan transportasi massal pun tersedia dengan mudah. Bus translink berkapasitas 30 orang beroperasi 7 hari seminggu dari pagi sampai tengah malam, dengan jadwal kedatangan yang dapat dilihat di tiap shelter. Kalau lupa dengan jadwal yang tertera di tempat-tempat pemberhentian bus, warga kota tinggal melihat jadwalnya secara online.

Di luar pemandangan alam, Sunshine Coast memiliki dua kawasan wisata konservasi fauna. Di dermaga Pantai Mooloolaba terletak Underwater World, yang menyuguhkan rahasia alam aneka satwa bawah laut, mulai hiu raksasa, ikan pari, hingga pesona terumbu karang yang dihadirkan langsung di depan mata. Setelah puas mencicipi pengalaman bawah laut bersama monster-monster air itu, area wisata fauna lainnya adalah Australia Zoo.

Berkunjung ke Rumah Buaya

"Kalau sudah ke Queensland, jangan lupa ke Australia Zoo."

Ungkapan itu bukan melebih-lebihkan karena Australia Zoo inilah salah satu ikon wisata di Aussie. Lokasi tepatnya di Beerwah, 10 kilometer dari sisi barat Bruce Highway, yang menghubungkan Brisbane dengan Sunshine Coast.

Pagi itu, sebuah bus tingkat berwarna biru menjemput para pengunjung Australia Zoo dari kawasan Maroochydoore. Baru saja duduk, datang sapaan dari Steve Irwin, pemilik Australia Zoo yang terkenal dengan julukan Pemburu Buaya. Tentu bukan dalam wujud aslinya karena sosok sebenarnya sudah meninggal dunia tersengat ikan pari pada September tahun lalu. Dalam televisi 17 inci, Irwin hadir selama perjalanan bus satu setengah jam lewat film dokumenter yang mengisahkan bagaimana perjuangannya menaklukkan aneka satwa langka. Episode kali ini mengetengahkan petualangannya di pedalaman Papua. "Apakah kuskus makan pisang?" tanya Irwin dalam bahasa Indonesia terpatah-patah kepada seorang penduduk suku Komoro.

Kebun binatang ini awalnya didirikan pada 1970 oleh Bob dan Lyn Irwin, orang tua Steve, yang merupakan pakar reptil dan hewan amfibi. Berganti nama tiga kali, Australia Zoo kini memiliki luas lebih dari 28 ribu hektare dengan seribu koleksi hewan dan 600 karyawan. Tentu saja, yang ingin saya sentuh adalah kanguru merah dan koala, dua satwa khas Australia.

Dengan tiket masuk 46 dolar Australia (sekitar 315 ribu rupiah), para pengunjung dapat menikmati semua atraksi fauna sepuasnya. Diawali dari memberi makan gajah, berputar-putar dengan kereta kelinci, hingga menyaksikan pertunjukan empat macan Asia di "Tiger Temple", sebuah lokasi penangkaran harimau yang bangunannya dibuat sebagai replika Candi Angkor Wat di Kamboja.

Atraksi utama di Australia Zoo adalah Wildlife Action yang digelar dua kali sehari. Acara ini bertempat di Crocoseum, stadion mini dengan kapasitas 5.000 orang plus arena pertunjukan bujur sangkar di tengahnya. Di Crocoseum yang dilengkapi layar lebar inilah, pawang-pawang Australia Zoo bercanda dengan satwa buas, mulai ular piton sampai buaya berukuran babon. Ala gladiator, menegangkan, tapi juga mengasyikkan!

Setiap kali tangan sang pawang terjulur memberi makan buaya dengan unggas, jantung pengunjung Crocoseum berdetak kencang, jangan-jangan jemari mereka ikut tersabet moncong buaya yang menyambar sarapannya begitu cepat. Syukurlah, sampai atraksi tuntas, tak ada darah manusia yang mengucur. Semua berteriak gembira melontarkan ungkapan khas ciptaan Steve Irwin, sang penakluk buaya, "Crikey!"

Nonton Bola di Brisbane

Sepak bola bukan olahraga utama di negeri dengan 20 juta penduduk ini. Namun, Guinness Book of World Record masih mencatat pertandingan Australia melawan Samoa sebagai partai dengan rekor skor gol tertinggi. Dalam penyisihan Piala Dunia 2002 di Coffs Harbour, 11 April 2001, Australia menggilas Samoa 31-0. Dalam laga itu, penyerang Australia, Archie Thompson, mencatat rekor dunia pencetak gol terbanyak dalam sebuah pertandingan dengan 13 gol.

Maka saya tak berpikir panjang lagi begitu mendapat tawaran menyaksikan A-League, begitu nama Liga Sepak Bola Australia yang musim ini disponsori perusahaan mobil asal Korea itu. Soccer, sebutan untuk membedakannya dengan Australian Football League (AFL), memang kalah pamor dibandingkan dengan kriket, rugby, dan AFL. Namun, atmosfer menonton sepak bola di Suncorp Stadium, Brisbane, bak menghadirkan suasana stadion besar di Eropa.

Sabtu itu, berlangsung pertandingan antara tuan rumah Queensland Roar FC dan Sydney FC. Pertarungan digelar mulai pukul 7 malam, dengan alasan sederhana: kalau siang cuaca Kota Brisbane pada Januari sangat panas, nyaris mencapai 30 derajat Celsius. "Selain itu, toh, stadion ini dilengkapi penerangan yang memadai," kata Scott Curtis, teman sekantor yang juga gila bola.

Serunya laga sudah tergambar sejak siang hari. Di downtown Brisbane, lalu-lalang suporter berseragam jingga melintas penuh semangat, bersiap menonton sepak bola laksana rekreasi keluarga. Nongkrong di sebuah restoran cepat saji, tampak juga pendukung Sydney FC bertetirah sejenak setelah menempuh perjalanan dengan pesawat. Tak ada keributan, meski mereka memakai seragam biru laut memasuki kandang singa.

Jam enam petang lewat, antrean penumpang bus di Queen Street kian panjang. Memang, setiap ada event besar seperti pertandingan olahraga ini, otoritas Kota Brisbane menyediakan shuttle bus gratis dari pusat kota menuju stadion dan sebaliknya. Ah, pikiran nakal kembali melayang ke kampung halaman. Seandainya layanan publik serupa tersedia, tentu para Bonek atau Jakmania tak perlu repot-repot membajak truk dan metro mini.

Di dalam stadion, dua monitor raksasa mengumumkan Suncorp Stadium dihadiri 32.371 penonton. Meski tiket pertandingan seharga 25 dolar Australia (sekitar Rp 175 ribu) mencantumkan detail nomor tempat duduk –sisi stadion, lorong, baris, dan nomor kursi–layaknya menonton bioskop, saya memilih berbaur dengan kelompok suporter di belakang gawang. Inilah lokasi para suporter kreatif berada, menyanyikan yel serta menggetar-getarkan tangan seperti dukun membaca mantra setiap kali tim kesayangan melakukan serangan. Tak lupa, sebuah gelas plastik berisi bir ringan menemani sepanjang permainan.

Pertandingan usai mendekati pukul sembilan malam, dengan skor imbang yang memuluskan langkah tim tamu menuju semifinal. Ribuan Queenslanders berjalan gontai, sementara pendukung Sydney FC bernyanyi riang sampai di kawasan City Hall dan Central Station Brisbane, melahap malam sambil menunggu penerbangan pagi keesokan harinya.

Saya masih mengucek mata, benarkah tak ada kerusuhan di antara kelompok pendukung bola? Dengan kekecewaan besar ada di kubu tuan rumah? Ah, tiba-tiba batin saya berbisik, "This is Australia, Man!"

l jojo raharjo, penikmat wisata dan jurnalis

I believe I can fly

January 18th, 2007 by jojoku

Confident

‘You have to be confident. That’s the way of success, in everything…”

The words from Mike Edmiston, boss of CVC Asia Pacific Broadcast Corporation at Australia, while we’re at the same car. So, humble. He is a boss, but he drove his luxury car, and deliver me to home, i mean to this M1 Apartment in downtown of Maroochydoore area.

Yap, being confident, easy to say, easy to write, but no easy to do.You can being confident to speak your English in front of many kids at Jakarta, which they won’t know which is your grammar, your vocabulary, or your pronounciation is right or wrong. But, what can you do, if you have to speak your English in the community of people who use English as a mother language. Shit… even to talk to the kids I can being so underconfident.

But… let’s do it.. no choice… The Jakarta people say, ‘”E Ge Pe… I don’t care…” How can we will communicate to others if at the first thing, we always feel uncomfort… underconfident… So, that’s just an example. Let’s being a confident people. In anything you can do.

But, Jo, what if then people say, ‘’Oh, you do too many bluffing…’’Well. which is the better, being confident, and people said you do a bluffing, or be underconfident, and you will sank into the deepest see, cause you didn’t anything.

Once again, if you want to do something, don’t be hesitate, don’t be underconfident, but let’s the world open its eye to you… because you can assure them, you can beat the world if you start anything with your confidence.

Hey, let’s sing this my favourite song with me…

" I used to think that I could not go on

and life was nothing but an awful song

But now I know the meaning of true Love I’m leaning on the Everlasting Arms.

If I can see it then I can do it If I just believe it there’s nothing to it I believe I can fly I believe I can touch the sky

I think about it every night and day Spread my wings and fly away

I believe I can soar I see me runnin’ through that open door

I believe I can fly I believe I can fly I believe I can fly

See, I was on the verge of breaking down

Sometimes silence can seem so loud

There are miracles in life I must achieve

But first I know it starts inside of me Oh, if I can see it (whoo!)

then I can be it If I just believe it there’s nothin’ to it

I believe I can fly

I believe I can touch the sky

I think about it every night and day Spread my wings and fly away

I believe I can soar I

see me runnin’ through that open door

I believe I can fly I believe I can fly….whoo!

Oh, I believe I can fly Hey, ‘cuz I believe in You

Ohhhhhh If I can see it then I can do it If I just believe it there’s nothin’ to it.

I believe I can fly….whoo! I believe I can touch the sky

I think about it every night and day

Spread my wings and fly away

I believe I can soar See me runnin’ through that open door

I believe I can fly (I can fly!) I believe I can fly (I can fly!)

I believe I can fly If I just spread my wings (I can fly!)

I can fly (I can fly!) I can fly (I can fly!) I can fly (I can fly!)

Hey, if I just spread my wings I can fly …..(I can fly!)

whoo!! (I can fly!)

fly………… "’

Kehilangan untuk Sementara

January 13th, 2007 by jojoku

“Kita tidak pernah merasa bersyukur memiliki sesuatu, sampai kita kehilangannya…"

Pernah mendengar ungkapan itu? Kalau belum, tunggulah, sampai suatu saat Anda akan mengalaminya.

Saya tidak pernah merasa memiliki Mama yang begitu berharga dalam hidup, sampai beliau dipanggil Tuhan pada pagi hari menjelang pesta pernikahan saya di Surabaya.

Saya tidak pernah merasa memiliki isteri yang manis, penuh perhatian, dan amat membawa keberuntungan bernama Celi, sampai kini kami mesti terpisah enam minggu, antara Jakarta dan Australia..

Saya tidak pernah merasa memiliki handphone Nokia berisi ribuan nomer penting dan sms penuh makna, sampai kemarin kehilangan sehari, dan esoknya ketemu lagi…

Dear, brothers and sisters, syukurilah semua apa yang ada padamu, sebelum hal itu diambil dari genggaman Anda, baik untuk sementara, atau mungkin untuk selamanya…
















Melewati Masa Kesukaran

January 7th, 2007 by jojoku

Mengunjungi Gereja Bethany Brisbane

Melewati Tujuh Tahun Masa Kesesakan

Bagi yang kali pertama berkunjung ke Brisbane, ibukota negara bagian Queensland, tak terlalu sulit menemukan Gereja Bethany Brisbane. Petunjuknya, cari saja dulu Griffith University, sebuah universitas negeri terkemuka di kota berpenduduk 1,8 juta jiwa itu. Berada di kawasan Nathan Campus di West Creek Road, kita tinggal lurus menuju ke arah gedung cinema kampus. Di lokasi cinema berkapasitas 200-an orang itulah, ibadah raya Gereja Bethany Brisbane digelar setiap minggunya. Nornalnya, ibadah berlangsung dua kali, jam sembilan pagi untuk ibadah bahasa Inggris dan jam sebelas siang untuk ibadah bahasa Indonesia. Namun, karena Desember – Januari merupakan musim liburan, maka ibadah raya digabung menjadi sekali pada pukul sepuluh pagi.

“… All that I am, all that I have

I lay them down before you O Lord

All my regrets, all my acclaim

the joy and the pain, I’m making them yours…”

Lagu pembuka dihantarkan pemimpin pujian Bonar Wicaksono, mahasiswa jurusan periklanan University of Queensland berusia 24 tahun. Sekitar 40-an anggota jemaat yang hadir mengikuti ibadah dengan bersemangat memuji dan menyembah Tuhan. Beberapa dari mereka tampak bukan berwajah Indo, melainkan dari negara-negara kawasan Asia lainnya.

Di antara praise and woship, dua orang menyampaikan kesaksiannya. Yulia, seorang perempuan 23 tahun mengisahkan perjuangannya mencari kerja seusai menamatkan kuliah di Queensland. Akhirnya, setelah mengirim berbagai lamaran, akhirnya ia diterima di sebuah perusahaan terkenal di Brisbane. Seorang lagi, Niko, 21 tahun, menyampaikan rasa syukurnya dapat kembali melanjutkan sekolah di Australia. Remaja asal Jakarta Barat ini semula merasa tak bakal dapat kembali ke Australia dari masa liburannya di Jakarta, karena tahun lalu tekanan kurs Dolar Australia terhadap mata uang rupiah begitu tajam. “Papa saya menyatakan tak sanggup mengirim saya balik, begitu melihat rupiah terus melemah.” Sampai suatu saat melihat pergerakan nilai tukar di televisi di Indonesia, Niko menyampaikan pada ayahnya sambol menunjuk layer televisi itu, ‘Kalau memang Tuhan menghendaki, Dolar Australia itu akan turun sendiri.” Doanya terkabul, nilai tukar rupiah yang semula sampai mencapai 8 ribu per satu Dolar Australia, menguat mencapai Rp 6.500,- per satu dollarnya. Niko pun kembali ke Australia melanjutkan studinya.

Firman Tuhan disampaikan Gembala Sidang Gereja Bethany Brisbane, Pastor Hanny Yasaputra. Ia menekankan makna tema yang dicanangkannya memasuki 2007, “The Year of Revayah, When God Brings You to The Place of Abundance”, diambil dari Mazmur 66:12.

Menurut Hanny, tema ini berarti Tuhan akan menjadikan 2007 sebagai tahun yang berkelimpahan. “Sesuai janjinya dalam Mazmur itu, kita akan dibawaNya menuju tempat kepenuhan, di mana segala sesuatu tersedia,” katanya. Hanny menyatakan, tema 2007 ini merupakan kelanjutan tema 2006, “Reigns with God, Memerintah Bersama Tuhan.”

Dalam percakapan khusus sebelum ibadah, sejenak Hanny berefleksi, betapa pekerjaan Tuhan bagi gerejaNya sangat luar biasa.Pada 28 September 1999, Tuhan membawanya meninggalkan Gereja Bethany Perth, yang telah digembalakan selama 4 tahun dengan 300 anggota jemaat. “Tuhan membawa saya ke Brisbane, memuali pelayanan dengan 12 orang,” kata pria asal Dukuh Kupang, Surabaya yang juga ipar dari Pendeta Timotius Arifin ini.

Melewati masa-masa kesukaran hingga berpindah-pindah lokasi ibadah, kini Gereja Bethany Brisbane berkembang dengan 130 warga. Sampai tahun lalu, datanglah sebuah kejutan, kala sebuah perusahaan properti mengajaknya melihat sebuah lokasi rumah dan tanah seluas 4 ribu meter persegi di Bleasby Road, Eight Mile Plains, Brisbane. “Harganya 900 ribu dolar, sementara uang di kas saat itu hanya 50 ribu dolar,” kisahnya.

Namun, doa yang terus dipanjatkan akhirnya membuat berkat Tuhan mengalir deras. Persembahan dan berkat masuk untuk pembelian gedung ibadah itu, termasuk persetujuan pinjaman dari bank. Akhirnya, setelah melalui berbagai penundaan, pihak pengembang menyerahkan kunci pada Pendeta Hanny Yasaputra pada 28 September 2006. “Saat itulah, saya terkejut. Tanggal itu tepat tujuh tahun saat saya memulai pelayanan di Brisbane,” kenangnya. Hanny pun menjadi sadar, Tuhan membawanya ke Brisbane bukan sebagai sebuah rencana yang salah. Meski harus melalui masa jatuh bangun selama tujuh tahun, akhirnya ia pun menuai janji Tuhan dalam kepenuhan.

Bethany Brisbane memiliki visi “Where Love Touch People”. Dengan misi “To Bring, To Heal, To Train, To Lead, Truthhfully, Humility, Godly.” Pastor Hanny Yasaputra merupakan sarjana teologi lulusan Baptist University Texas yang kemudian meraih master dari Tyndale Theological Seminary Texas. Suami dari Anneke ini dikarunia tiga anak, termasuk salah satu putrinya,Tiffany, yang aktif melayani sebagai singer dan drummer di gereja.

Sebagaimana terjadi pada pengalaman hidupnya, Hanny percaya penuh akan recana indah Tuhan yang terjadi dalam hidup kita. Tapi, ia mengingatkan, proses untuk melalui rencana itu tidaklah mudah. Ia memaparkan, “Rencana Tuhan itu Alfa dan Omega, namun di tengah-tengah Alfa dan Omega itu kerap terasa seperti Hell (Neraka). Kalau saja kita tetap tekun dan bertahan, tidak menyerah menghadapi semua kesukaran itu, maka Allah akan mengizinkan hal-hal yang mustahil dapat terjadi.”

Bring Our Money Back!!

January 2nd, 2007 by jojoku

Pajak buat Siapa?

Pelajaran lain yang bisa saya petik dari prosperiti di Australia adalah bagaimana pemerintah bisa sedemikian memanusiakan warganegara di sini? Bagaimana mungkin Anda bisa menganggap sebuah negeri bukan sebagai sorga bila semua tersedia di sini, and mostly free of charge…

Impresi saya diimulai dari menempuh highway sepanjang 104 kilometer selepas Bandara Brisbane International menuju kota Maroochydore begitu kali pertama tiba di sini, 6 hari silam. Tol itu gratis, demikian decak kagum saya… Bandingkan saat berangkat dengan taksi dari Tol Slipi hingga Bandara Cengkareng, nyaris 10 ribu perak keluar dari saku untuk tiga loket tol.

Kekaguman pelayanan publik lain tergambar dari bersihnya air minum untuk mereka yang tinggal di benua kanguru ini. Tiga hari pertama di apartemen saya tidak minum air, kecuali bekal botol aqua yang disiapkan isteri dari Jakarta, dan susu putih seharga 3,5 dollar australia di mini market kecil di Sunshine Coast ini. Ketika kukeluhkan persoalan, “Mana air yang harus kuminum, karena kulkas hanya berisi makanan?” sang juragan radio CVC lantas memutar kran di atas wastafel aparteman M1 nan menterang ini.

“Jojo, kamu bisa minum langsung air dari sini. It’s clean,” kata Stuart Cranney, manajer berusia 24 tahun yang tampak lebih dewasa dari usianya itu. Alamak, minum air langsung dari kran? Tak terbayang melakukan hal itu dari Surabaya, Jakarta, atau bahkan Yogyakarta dan Malang.

Soal air, tak hanya di tiap rumah semua bisa dikonsumsi mentah-mentah. Di taman-taman, dan area publik lainnya, kran-kran bisa diputar untuk langsung ditenggak air yang muncrat deras ke atas. Mungkin karena melihat airnya bersih, mungkin karena tak sakit perut usai minum segelas air ledeng di apartemen, atau mungkin sugesti Heda Bailey, rekan sekerja yang menjelaskan semua itu dengan meyakinkan, maka saya tak ragu meminum langsung air di taman Kings Beach Caloundra.. Segerrrrr….. dan hmm… percaya atau tidak, menyehatkan!

Di luar pelayanan air bersih siap minum, pemerintah menganugerahkan fasilitas lain untuk warganegara, seperti sekolah dan rumah sakit gratis. Mayoritas sekolah adalah milik negara, free untuk citizen di sini. Begitupula soal kesehatan, itulah hak warganegara. Karena itu, saya tak memperoleh banyak tunjangan kesehatan untuk pekerjaan saya sebagai reporter CVC di Jakarta. Apa sebabnya? Orang-orang di kantor pusat Radio CVC di Australia ini tak mendapat tunjangan kesehatan dari perusahaan, karena semua itu ditanggung oleh negara!

Lalu dari mana pemerintah membiayai semua ini? Tak ada toilet yang harus bayar di area publik, parkir mobil pun kebanyakan gratis, dan banyak keisitimewaan lain yang di negeri tetangganya Australia sana dibayar rupiah. “Asalnya dari pajak. Kami membayar pajak tinggi bagi pemerintah dari setiap gaji yang kami terima,”kata Stuart.

Nah, begini kan fair. Kalau saja semua yang kita beri kembali jelas untuk kesejahteraan kita, dan tidak dibawa pulang sebagai aset baru para birokrat di tingkat elit, tentu saja orang jadi tak merasa rugi membayar pajak. Beda soalnya dengan pungutan paksa fiskal sejuta rupiah untuk mereka yang mau ke luar negeri.  Saya pernah membaca penjelasan pejabat bahwa, konon, alasan pemerintah tidak mencabut pungutan fiskal karena, “Fiskal adalah pajak yang dibebankan kepada warga negara saat ia keluar dari negeri ini. Kan di sana warga Indonesiaitu akan tidur di hotel, makan di restoran dan melakukan fasilitas-fasilitas mewah lainnya. Nah, jadi pajak barang mewahnya (di sini ke luar negeri itu ternasuk barang mewah) dibayar di muka.” Asem, makannya di mana, mbayar pajaknya ke mana….

Kesimpulannya, mari kampanyekan membayar pajak, asal semua kembali buat fasilitas mendasar layanan publik. Kalau tidak ada imbangan itu, maka stigma bahwa mereka yang bekerja di departemen pajak dan jajarannya akan kaya sampai tujuh turunan, adalah benar adanya. Buktikan bahwa pemungut cukai alias tax collector bukanlah koruptor, tapi, merekalah agen dan distributor untuk kesejahteraan rakyat.

Bring Our Money Back!!

Mengambil Value dari Si Bule

December 28th, 2006 by jojoku

Hari kedua di Sunshine Coast…

Dalam perjalanan kembali dari kantor CVC di Killick Street, Kunda Park, Queensland, saya mencoba menggali ilmu dari Joe Handoko, senior broadcaster yang bergabung dengan CVC sejak 2002. Sudah lebih dari 13 tahun Joe tinggal di Aussie, sejak kali pertama datang untuk belajar ilmu marketingI di Perth usai lulus SMA di  Pontianak pada 1993 lalu.

Sambil memegang kemudi mobil sedan Honda Odysseynya, Joe berpandangan, örang  Australia punya kelebihan dengan sifatnya yang terang-terangan. “Apa yang diucapkan, ya itulah yang ada di hatinya. Bukan seperti kebanyakan orang timur yang kebanyakan masih suka sungkan-sungkan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya yang menjadi maksudnya.”

Selain punya kelebihan, ada satu sifat orang  Australia yang berpotensi menjadi kelemahan. Mereka rata-rata dikenal kurang care terhadap keluarganya, utamanya pada orangtua. Tak heran masih kerap ditemukan orang tua seumuran 60 – 70 tahun menyetir mobil atau bekerja keras sendirian. Kalau benar-benar dianggap ringkih, mereka akan dimasukkan sang anak ke Panti Jompo.

Sikap “menelantarkan” orang tua itu ternyata bukannya tanpa ada alasan. Di Oz, orang tua cenderung mendepak anaknya untuk menjadi mandiri maksimal pada usia 18 tahun. Bagaimanapun caranya, bila si anak sudah memasuki umur 18 tahun, sebisa mungkin ia harus angkat kaki dari rumah. Wah kejam, sekaligus mendidik. Jadi, jangan bayangkan seorang anak akan terus berada dalam zona kenyamanan seumur hidupnya. Beda dengan sebuah negara, yang sampai menikahpun tetap “menghalalkan” berkumpulnya orang tua dan keluarga baru sang anak itu. Mangan ora mangan sing penting kumpul. Di negara mana itu? Hmmmmm…..

Mereka juga penuh disiplin dan memiliki tingkat kesadaran tinggi. Bayangkan, sebuah mobil tiba-tiba berhenti dengan jarak sekitar 2 meter dari bibir zebra cross, begitu mengetahui beberapa orang akan menyeberang jalan di depannya. Benar-benar kehormatan tinggi bagi pejalan kaki!

Hari Pertama di Pantai Mentari

December 27th, 2006 by jojoku

Sama sekali tak terpikir dalam rencana jangka pendek saya, tahun ini bisa kembali meninggalkan Nusantara. Resolusi saya saat perayaan lepas 2005 menuju 2006 di Puncak –bersama Celi, calon isteri yang kemudian resmi menjadi isteri per 19 Agustus lalu- adalah pergulatan soal pekerjaan. Doa untuk menemukan tempat kerja yang baru rasanya lebih dominan dibanding pikiran menyukseskan pesta kawinan delapan bulan di depan mata.

Singkatnya, 27 Desember petang, saya ada di Queensland, Australia, benua lain pertama yang menjadi lawatan seorang lelaki kecil ini. Rangkaian awal dalam misi mengunjungi, dan ngangsu kawruh di Sunshine Coast, headquarter Radio CVC, ladang berkarya baru sejak November lalu.

Brisbane International Airport, 19.10, Singapore Airlines dengan flight number SQ 245 mendarat mulus di tengah licinnya lintasan akibat hujan deras yang baru saja mengguyur negara bagian Queensland. Alamak… first experiences menumpang SQ menghadirkan memori manis. Bayangkan, saja, pesawat Boeing 777-300 ER ini tiba 25 menit lebih awal dari schedule yang dibuatnya sendiri! Burung besi itu meninggalkan Bandara Changi pada 08.55 Waktu Singapura dan sebenarnya baru direncanakan tiba di Brisbane pada 19.35 Waktu Queensland, yang konversinya tiga jam lebih cepat dari Waktu Indonesia Barat (+10 GMT). Asal tahu saja, dalam inflight magazine nya, SQ menjadwalkan penerbangan Singapura – Brisbane sejauh 3,8 mil itu dengan waktu tempuh antara 7 jam 40 menit sampai 7 jam 45 menit.

“Wah, pilotnya pasti ngebut, ya,”kata Joe Handoko, senior broadcaster di CVC yang menjemput di bandara nan rapi itu. Ia membandingkan, pengalaman beberapa pekan sebelumnya, kala menjemput kerabat isterinya yang datang dari Indonesia dengan Garuda. Beda dengan SQ, yang jalur ke Brisbane via Singapura, Garuda mengambil rute Jakarta-Denpasar-Sydney-Brisbane. “Wah, sudah di Bali molor, di Sydney juga ngaret,”kisahnya.

So, jangan pikirkan kesan serupa terjadi SQ, yang konon mendapat predikat salah satu perusahaan penerbangan terbaik di jagad raya ini. selain memiliki On Time Performance tinggi, berada di kabin SQ membuat Anda tak akan jengah. Pramugarinya keren-keren. Karena itu, seorang sahabat saya membagi plesetan SQ sebagai “Sexual Quality”… Hehe… no gender offensed, please…

Satu kisah tentang SQ juga pernah saya dengar dari Tony Waworuntu, mantan Executive Secretary for Justice, International Affairs, Development and Service, Christian Conference of Asia (CCA). Dalam konferensi CCA di Chiang Mai tahun lalu, Tony memaparkan agar para pemandu sidang konferensi meniru keramahan para steward dan stewardess SQ. Tahu apa resepnya? ”Sebelum menjalani praktek kerja di udara, berhadapan dengan beraneka ragam karakter para penumpang, pramugara dan pramugari itu terlebih dahulu mendapat pelatihan selama enam bulan di sekolah keterbelakangan mental anak. Akibatnya, mereka akan memiliki ketahanan pskilogis menghadapi aneka ulah para penumpang yang memiliki banyak kemauan….”

Itulah SQ. Sekarang, mari berbicara perjalanan selanjutnya. Toyota Tarago yang dikemudikan Joe melaju meninggalkan kawasan Brisbane International Airport. Impresi pertama terjadi saat melihat pemakai jasa parkir mobil membayar sendiri tiket parkirnya dengan menuju sebuah tiang pembayaran parkir. Wah, kalau yang beginian dilakukan di Indonesia, pasti ribuan pegawai Security Parking atau Sunparking di Jakarta bakal kehilangan pekerjaan…

Menempuh perjalanan nyaris 100 kilometer dari Brisbane menuju Sunshine Coast terasa beda dengan perjalanan tol di Indonesia. Jalan bebas hambatan ke arah utara ini gratis, tapi gelap. Tak ada penerangan di pinggir jalan yang penuh dengan pepohonan rimbun. Kami sempat berhenti di sebuah komplek lokasi fastfood. Ada McD dan KFC membuka gerai bersama di situ. Kami hanya memesan mocca hangat dalam dua gelas kertas berukuran besar, untuk diminum dalam mobil sembari menuntaskan perjalanan. Tapi, seperti tips banyak orang kalau ke luar negeri, jangan biasa membandingkan harga dengan kurs rupiah. Dua gelas kopi itu dibayar Joe lebih dari 7 dollar Australia, ya lebih dari 50 ribu peraklah. Di dekat food court itu juga ada Stasiun Pompa Bensin. Harga unleaded gas (ya mirip-mirip bensin di Indonesia…) selalu berubah-ubah. Hari itu, display menunjukkan harga 1,19 Dollar Australia., ya sekitar Rp 8.500 per literlah…

“Penduduk Queensland terkenal agak lebih kasar daripada penduduk negara bagian lain. Banyak teman saya di negara bagian lain mengaku diperlakukan berbeda di supermarket hanya karena mereka tampak sebagai orang Asia. Beruntung, saya tak mengalami itu,” kata Joe, bapak dua anak yang kini berusia 31 tahun asal Pontianak itu. Pria peranakan Tionghoa itu sudah memiliki status Permanent Resident Australia usai menamatkan pendidikan tinggi bidang pemasaran di Perth.

Sejam lebih perjalanan menyusuri jalan tol juga melewati Australia Zoo di kawasan Beerwah. Kebun Binatang itu milik Steve Irwin, pemburu buaya yang meninggal dunia dalam usia 44 tahun lalu akibat tersengat ikan pari pada awal September lalu.

Maka, tibalah kemudian kami di Maroochydore, salah satu distrik di Sunshine Coast. Hamparan Lautan Pasifik terbentang di wilayah yang kali pertama ditatap James Cook dari dek kapal HM Bark Endeavour pada 1770 itu. Dari regio berpenduduk sekitar 300 ribu orang inilah, petualangan baru saya selanjutnya akan dimulai…