INDONESIA Tanpa ONE…

November 19th, 2006 by jojoku

INDONESIA Tanpa ONE… Sebuah pengalaman kecut nan traumatik saya alami akhir pekan lalu: nyaris ditelanjangi di di kawasan tempat saya tinggal! Sabtu, 18 November jam sembilan malam, saat berjalan kaki kembali masuk ke dalam gang menuju rumah, usai mengantarkan seorang sahabat mencari taksi, seorang pemuda memepetku ke tembok gang. “Hey, kamu tinggal di mana-mana…” Sekejap, pikiran cepatku bekerja: ini pasti gara-gara badanku memakai kaos hijau dengan tulisan Bonek, kelompok supporter garis keras pendukung Persebaya.

Analisa yang tak meleset karena sekilas mataku melirik, pemuda itu memakai kaos putih bertuliskan Jakmania… Maka skenario terburuk pun melintas dalam angan, "Siap-siap gembuk…" Maklum saja, daerah Pondok Pinang –yang hanya berjarak 2 kilometeran dari Stadion Lebak Bulus- adalah salah satu wilayah di Jakarta yang menjadi basis pendukung fanatik The Jak alias Persija. Bahkan, di tembok tempatku dipepet itu, terpampang graffiti yang mengagungkan The Jak, dan melecehkan Persib Bandung dan kelompok supporter Viking. Ada pula coretan besar terbaca, “Gendut Doni, Tolol…”

Gendut Doni, ialah ikon Persija ketika Juara Liga Indonesia VIII, yang pada musim lalu pindah ke Persib, musuh seumur hidup Jakmania. Kembali ke kisah traumatik tadi. Pemuda ceking itu membentak, berteriak, sambil menunjuk-nunjuk muka, “Gua di Surabaya dihancurin ama bonek….” Walah, aku semakin tersudut, meski sudah kujelaskan, aku bukan orang baru di kampung itu. Sudah tiga bulan tinggal di salah satu rumah di lorong Pondok Pinang gang dua.

Pemuda itu tetap tidak terima, memaksaku melepas kaos Bonek. Oke, tanpa perlawanan, kuturuti… Seorang bapak mencoba mengamankan situasi. “Mas, kalau di sini jangan pakai kaos itu. Ini daerahnya Persija,” katanya, usai menyaksikan diriku bertelanjang dada. Namun, belum puas menyaksikanku setengah bugil, pemuda tadi merampas kaos Bonek yang kugenggam. Kaos seharga 30 ribu perak yang kubeli saat menyaksikan Putaran Final Liga Indonesia XI di Senayan tahun lalu.

Hmmm… ya, sudahlah, yang penting tak digembukin…. pikirku, sambil lari terbirit-birit menuju rumah, bertelanjang dada, seperti turis yang berolahraga kemalaman… Moral story cerita ini sebenarnya adalah, mengapa masih ada perasaan menggebu terhadap fanatisme pada daerah-daerah tertentu di Indonesia. Perasaan, “Kamu berasal dari sana, dan kota itu adalah musuh kami…”

Apalagi, penyebab utamanya adalah sepakbola, sebuah permainan yang diharapkan kompetisinya diharapkan dapat menyatukan bangsa dan meleburkan semua sekat. Tapi, apa yang terjadi? Bukannya kesatuan yang lahir sebagai produk kompetisi sepakbola. Bentrokan antar supporter kerap muncul, diiringi fanatisme berlebihan membawa dendam turun temurun sepanjang masa. Bahkan, hal yang tak ada kaitannya dengan sepakbola pun dibawa-bawa. Sejam sebelum laga Persija melawan Persib di Lebak Bulus, saya pernah menyaksikan kumpulan Jakmania berdiri di atas Metro Mini sambil mengusung spanduk bertuliskan, “Bandung Kota Maksiat”. Lho, apa hubungannya?

Maka, sepakbola kita hanya melahirkan hingar-bingar yang “jalan di tempat”. Bagaimana perasaan Anda saat menyaksikan para pemain nasional -yang konon produk terbaik dari kompetisi Liga Indonesia- diadu di sebuah turnamen kecil di Vietnam, pekan lalu. Hasilnya, tiga kali main, kalah 0-2 dari Kamerun yunior, 0-1 dari Vietnam yunior, dan 0-5 dari Finlandia yunior! Di kualifikasi Asian Games, tim yunior Indonesia yang dimasak secara instan di Belanda, belum-belum sudah dihajar setengah lusin gol tanpa balas dari Irak, negeri yang belum pulih benar dari hajaran perang lima tahun terakhir!

Inilah akibatnya, kalau semua lupa, bahwa di antara deretan huruf-huruf yang membentuk kata I-N-D-O-N-E-S-I-A, ada tiga huruf O-N-E secara berurutan! Indonesia adalah satu. Menghilangkan rasa kesatuan antar warga, berarti sama dengan mencopot tiga huruf ONE itu dari INDONESIA.

Selayaknyalah, perasaan primordialisme terlalu tinggi segera kita singkirkan, kalau tak mau negeri ini kehilangan tuah karena tak ada lagi semangat bergandengtangan antar insan dengan perbedaan asal, agama, warna kulit dan pembatas-pembatas lainnya. Tiba-tiba saya teringat ucapan pakar ekonomi Tanri Abeng dalam sebuah seminar bisnis awal bulan lalu, “Orang kita ini sulit sekali dalam bekerjasama. Makanya, Indonesia jarang sekali bisa menang di olahraga yang mempertandingkan lebih dari dua orang dalam satu tim…”

Jangan Politisasi Bencana …

June 2nd, 2006 by jojoku

Jangan Politisasi Bencana Atas Nama Agama

Menyedihkan. Dalam suasana duka, masih ada saja yang mencoba memancing di air keruh. Masih tentang imbas bencana gempa bumi dengan lebih dari 5 ribu orang di Jogja yang terjadi Sabtu (27/5) lalu. Sebuah kritikan pedas layak dialamatkan kepada mereka yang mencoba memanfaatkan ekses bencana demi kepentingan kelompok sendiri.

Kali ini, saya tak hendak menyoroti tentang beraksinya sekelompok mafia pencuri kendaraan bermotor yang menyatroni kawasan bencana Bantul pada hari pertama gempa. Dengan menggunakan truk, mereka meneriakkan, “Gempa, gempa…” sehingga mengundang kepanikan warga korban bencana yang tersisa di tempat gempa. Alhasil, para penjarah itu “sukses” mengangkut sedikitnya sembilan motor dari lokasi bencana.

Bukan, bukan itu yang hendak kita bahas bersama. Bukan pula soal maraknya stasiun televisi, media massa, organisasi massa, dan partai politik membawa benderanya sebagai “pahlawan pengumpul dan pembagi sumbangan”. Kawasan bencana Jogja seperti menjadi ladang kampanye yang subur bagi para politisi maupun organisasi yang hendak menginvestasikan namanya demi kepentingan politik.

Lebih dari “pencurian motor” dan “kampanye di air keruh” itu, secara khusus kritikan juga pantas disampaikan kepada kelompok agama yang mencoba mencari pembenaran bahwa dirinyalah yang paling benar. Ironisnya, pembuktian itu dilakukan memanfaatkan sebuah bencana alam berskala besar.

Beberapa hari terakhir, beredar pesan pendek telepon genggam (sms) berbunyi lebih kurang sebagai berikut, “Tak percayakah Anda pada kuasa Yesus… Gempa dan tsunami Aceh terjadi sehari setelah Natal, Gempa Nias sehari setelah Paskah… dan Gempa Jogja sehari setelah Kenaikan Kristus… Sebarkan sms ini kepada 10 orang lain…”

Walah, mengapa urusan bencana menjadi ajang supremasi agama dan keimanan mana yang paling benar?

Benarlah bahwa menjelang eksekusi kematiannya – antara lain tertulis pada Matius 24 – Gusti Yesus menuturkan bahwa menjelang kedatanganNya kembali bakal terjadi bencana alam dan huru-hara, dalam skala besar, termasuk kelaparan, perang, dan jelas-jelas disebutkan adanya gempa bumi di mana-mana….

Nah, soalnya, apakah dengan benar-benar terjadinya bencana itu, kemudian kita menari-nari dan menyatakan kepada dunia bahwa Ia menunjukkan kuasaNya… sementara ribuan orang lain tak bisa makan sekali sehari dan tidur dengan nyaman saat Anda membaca tulisan ini di depan jaringan internet…

Mengulang Kasus Aceh

Kisah sms berantai tentang bencana yang tepat sehari setelah peringatan peristiwa keimanan bersejarah itu (padahal yang benar gempa Jogja terjadi dua hari setelah peringatan Kenaikan Tuhan Yesus), mengingatkan kita pada kisah serupa akhir 2004 lalu.

Di tengah duka akibat melayangnya 200 ribu karena amuk gelombang pasang di Pantai Barat Aceh, beredar kisah, bahwa tsunami terjadi akibat sekelompok orang Kristen tak boleh merayakan Natal. Mereka diusir dari sebuah desa di Meulaboh, lalu malam itu naik ke bukit, dan esoknya gempa dan tsunami terjadi meluluhlantakkan Aceh…

Alamak, tega nian isu itu terus kita sebarkan. Dari sms berkembang hingga dimuat di warta gereja dan media-media lain. Bukan hanya tanpa verifikasi, tapi kabar itu jelas-jelas menyulut kebencian antar umat beragama.

Jadi pertanyaannya… apakah Allah yang menyelamatkan kita itu berbeda dengan Allah para korban tsunami dan gempa. Apakah Ia memang telah membiarkan anak-anakNya yang satu menderita dan yang lainnya sibuk berkirim pesan pendek untuk menyatakan keagunganNya…

Bagaimanapun, Injil memang harus dan pasti digenapi. Tapi, alangkah eloknya jika kita kemudian tidak menjadikan peristiwa penggenapan Injil itu sebagai olok-olok bagi sesama. Alih-alih mengirim pesan pendek dan memuat kisah yang semakin memprovokasi perpecahan antar umat beragama, maka lebih baik kita mencoba memberi bantuan dan meringankan penderitaan korban bencana alam. Tanpa perlu mempublikasikannya besar-besar…

Salam…

Agustinus Eko Rahardjo

Rumah Baru Napi Cipinang

November 21st, 2005 by jojoku

Sapri, 40 tahun, termangu menyaksikan bakal “rumah” barunya.
Sejenak ia tertegun menjelang memasuki gedung tiga lantai seluas 3
hektar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang itu. “Kayaknya di
sini lebih bersih,” kata Sapri, tahanan kasus penipuan asal Depok itu.
Tangannya menjinjing tas kresek bantuan berisi sabun mandi, pasta gigi
dan seperangkat pakaian termasuk sarung baru.

Bersama 391 narapidana lainnya, Minggu (20/11) siang kemarin Sapri
pindahan ke bangunan baru Lapas Cipinang. Gedung bercat hijau di sisi
timur bangunan utama itu awalnya merupakan rumah sakit Lapas. “Kami
membangun blok baru yang lebih nyaman dan manusiawi,” kata Kepala Lapas
Cipinang Dedy Sutardi.

Berkeliling bangunan baru yang mampu menampung lebih dari seribu napi
itu, Dedy menunjukkan “fasilitas” yang ada di sana. Sebuah televisi 21
inchi di lantai dasar tepat di tengah ruangan lantai dasar. Naik ke
lantai atas, tangga dan lorong penjara baru itu mengesankan suasana
penjara di negara-negara maju dengan ruangan sel demi sel berjajar
rapi.

“Setiap selnya kami desain untuk menampung maksimal 7 orang,” katanya.
Masing-masing sel dilengkapi karpet plastik sebagai alas tidur. Setiap
lantai gedung itu terdiri dari 56 sel berukuran 5 x 10 meter, termasuk
kakus dengan bak air kecil di masing-masing sel. “Kalau begini kan
nggak perlu nimba air lagi,” kata Dedy sembari memutar kran air di bak
kakus salah satu sel.

Kalau para napi tak puas mandi di kakus kecil itu, mereka bisa masuk ke
kamar mandi bersama yang luasnya dua kali luas sel. Di kamar mandi umum
itu terpasang 12 shower yang dipasang di langit-langit ruangan.
“Kendali shower dipegang oleh komandan jaga,” kata Dedy. Begitu saklar
di sudut ruangan ditekan, semprotan air ledeng pun mengucur deras dari
atas. “Kami sengaja menaruh kran shower sangat tinggi, agar tak rusak
diganggu tangan-tangan jahil,” sambungnya.

Dedy memaparkan, saat ini Lapas yang dipimpinnya benar-benar
memprihatinkan. “Isinya 200 persen melebihi daya tampung,” kata Dedy.
Kalau normalnya kapasitas Lapas Cipinang menampung 1400 narapidana,
kemarin tercatat Lapas itu dihuni 3619 orang, dengan rincian 1129 napi,
1713 tahanan, 777 narkoba.

Dengan rasio penghuni dan jumlah kamar yang tak seimbang, tak heran,
orang-orang hukuman itu gampang terserang penyakit kulit. “Satu sel
seukuran 7×12 meter diisi 40-50 orang,” kata Hendro, napi kasus
narkoba, saat memeriksakan dirinya dalam acara Pengobatan Gratis
Penyakit Kulit (Scabies Dermatitis) Lapas Cipinang yang diadakan
Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). “Setiap lepas Maghrib, sekujur
badan saya gatal-gatal,” katanya. Ujung kaki hingga lengannya penuh
dengan koreng, menandakan penyakit yang tak pernah tersentuh perawatan
dengan benar.

Belasan dokter itu melayani satu per satu pasien. “Ruangan sempit yang
kurang ventilasi menyebabkan mereka rentan terke penyakit kulit.
Apalagi tidurnya berdesakan, dengan sabun dan handuk dipakai
ramai-ramai, penularan menjadi kian mudah terjadi,” kata Dr. Lie
Dharmawan, kepala tim medis aksi sosial INTI.

Keluar dari ruang pengobatan dengan mendapat pil dan salep seperlunya,
para napi itu beranjak menuju sel baru mereka. “Priorotas memang kami
berikan untuk 392 napi yang terkena penyakit kulit ini. Mereka harus
dijauhkan dari rekan-rekannya yang tinggal berhimpitan di bangunan
lama. Selain itu, baju-baju yang lama harus dibakar,” kata Dedy.

Dedy menyatakan, fasilitas yang diberikan negara tak seimbang dengan
kebutuhan Lapas. “Setiap hari napi yang dibebaskan sekitar 10 orang,
tapi yang masuk dari kejaksaan mencapai 80 orang,” kata Dedy. Pada 16
Agustus lalu, “tingkat hunian” Lapas Cipinang mencapai puncaknya.
“Sebelum remisi diberikan pada upacara peringatan Hari Kemerdekaan, LP
Cipinang dihuni 4.300 orang,” kata Dedy.

Kalapas Cipinang menyatakan, dana yang dimilikinya sangat minim. Untuk
makan, setiap napi dijatah Rp 5.300 per orang per hari. “Karena
banyaknya napi, anggaran logistik tahun ini sudah habis sampai
September lalu,” katanya. Lalu, bagaimana sisanya? “Kami ngutang pada
pihak ketiga,” kata Dedy.

Karena minimnya dana, setiap napi hanya mendapat nasi cadongan dengan
lauk tahu, tempe, dan ikan asin. “Kalau mau makan daging atau ayam,
kami harus menyetor Rp 5 ribu ke kepala kamar setiap kali makan,” kisah
Natal, narapidana kasus perampokan.

Sementara itu, anggaran kesehatan napi dari negara hanya Rp 18 juta per
tahun. “Kalau dibagi dengan jumlah penerima, itu berarti Rp 14,- per
orang per hari,” katanya. Di rumah sakit sederhananya, Lapas kelas I di
Jakarta Timur itu hanya memiliki 6 dokter bertugas melayani ribuan
napi. “Pengobatan massal dari pihak luar semacam ini merupakan jawaban
atas banyaknya permasalahan penyakit kulit di sini,” kata Dedy.

"Sentuhan kemanusiaan semacam ini perlu diberikan kepada para nabi yang
merasa tak lagi dipedulikan sesama. Kami akan usahakan aksi ini
berlanjut," kata Michael Utomo, salah seorang pengusaha yang terlibat
dalam aksi pengobatan penyakit kulit bagi narapidana.

Di tengah seremonial pembukaan pengobatan gratis, mantan Menteri
Perindustrian dan Perdagangan Rahardi Ramelan sibuk mengabadikan
peristiwa dengan Nikon 70 miliknya. Selama menjalani hukuman di LP
Cipinang, guru besar ITS itu mengaku masih bisa menuangkan pikirannya
dalam bentuk tulisan yang dikirim kepada berbagai media massa. “Tiga
bulan di sini, sudah 4 opini saya dimuat di koran. Mereka bisa
memenjara badan saya, tapi tidak dengan otak saya,” kata Rahardi yang
tengah bersiap meluncurkan buku kesaksian perkaranya itu.

Selain Rahardi, beberapa napi kelas kakap membantu jalannya pengobatan
gratis bagi rekan-rekannya. Di antara mereka terdapat Adrian Waworuntu,
Tengku Ismuhadi, Oki Harnoko Dewantono, dan Paul Sutopo. Tentu saja,
para terhukum kelas kakap ini tak lantas ikut pindah ke bangunan baru
di Cipinang.

Jojo Raharjo

Setengah Mainan

November 8th, 2005 by jojoku

"Kala kita lihat
Sepasang merpati
Terbang lepas bebas
Tepat di hadapan
Lalu kau bertanya
Kapan kita bagai mereka….

     Terimakasih kau terima
Pertunangan indah ini
Bahagia meski mungkin
Tak sebebas merpati…"

    

              7 November adalah sejarah. Di kota ini. Laksana perjalanan busway, saya tiba pada "Pemberhentian Berikutnya: Pertunangan". Thank’s God, buat Agriceli, belahan jiwa, bagian sejarah hidup yang dikukuhkan dalam pemberkatan pertunangan ini.

               Dalam mobil sewaan, malam pertama tiba di Yogya, saat Celi dah gabung keluargaku mengitari Never Ending Asia ini, Papa nyeletuk. "Wah, Jojo ini penggemar Katon… Koq bisa ya, dapat orang Yogya…"

               Hehe… Thank’s buat semua supporters. Keluarga, juga teman-teman baik. Dalam smsnya, Bobby Transtv bertanya, "Bagaimana Jo, rasanya jadi calon suami?" Kureply, "Ibarat main bola, ini masih setengah mainan, Bob…"

             Yap, mencuplik Cinta Putih, "… Masihlah panjang, jalan hidup mesti ditempuh, s’moga tak lekang, oleh waktu…"

             Semoga tak lekang oleh apapun. Perjalanan kasih itu, Jojo-Celi. Tak hanya sampai -kalau Tuhan izinkan- 5 Agustus 2006, tapi juga, "Till Death Do Us Apart".

           Hidup selalu dipenuhi mujizat tak terduga. Untuknya, terimakasih bagi Sang Pemimpin Perjalanan, yang memberangkatkan hidupku, menghentikannya di setiap stasiun, dan suatu saat nanti memberhentikannya. Semua, indah pada waktuNya. Thank’s God…

          Dan semua adalah sejarah.

                                               9 November pagi, Taman Siswa, Yogyakarta

"The Future Belongs to Those Who Believe in the Beauty of Their Dreams -Masa depan adalah milik mereka yang percaya kepada keindahan mimpi-mimpinya…"